Dilema - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Em Fardhan

Penulis Indosiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Rabu, 3 Agustus 2022 17:18 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Dilema

    Andaikan ia datang di waktu yang tepat, saat hatiku masih seperti kala itu yang begitu menggilainya, atau di saat aku masih sendiri menunggunya, mungkin aku tak akan berpikir dua kali hanya untuk sekedar menerimanya.

    Dibaca : 132 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

           Dilema. Itulah hal yang tengah aku rasakan saat ini.

     

    Andaikan ia datang di waktu yang tepat, saat hatiku masih seperti kala itu yang begitu menggilainya, atau di saat aku masih sendiri menunggunya, mungkin aku tak akan berpikir dua kali hanya untuk sekedar menerimanya.

     

    Namun, ini sudah terlambat. Saat perasaan tak lagi sama, kala hati tak lagi mendamba, dan kala keadaanku sudah jauh berbeda, tentu adalah sebuah kekonyolan jika aku harus meluluskan permintaannya.

     

    Vera, nama wanita itu. Wanita yang pernah membuatku serupa kerbau yang dicocok hidungnya;wanita yang pernah membuatku luruh tenggelam dalam samudra cintanya; dan wanita yang pernah membuatku menjadi seorang masokis tanpa pernah menyesalinya. Wanita yang pernah menjeratku dalam pesona yang memikat itu kini tiba-tiba saja datang kembali kepadaku setelah dulu ia pergi mencampakkanku.

     

    Dengan berat hati aku sanggupi permintaanya yang ingin bertemu denganku. Semoga dengan bertemu aku bisa memberi pengertian dan ia tidak lagi menerorku lewat chat dan telpon, yang entah darimana ia mendapatkan nomorku.

     

    Aku kini tengah mengajaknya bertemu di suatu kafe, sebab tak mungkin aku menemuinya di rumahnya atau ia yang akan datang di rumahku.

     

    "Tolong, Mas. Aku ingin kembali," ujarnya lagi. Sejak tadi aku sudah beri pengertian tetapi tampaknya tak ia hiraukan.

     

    Kujawab setelah ia berhasil memotong steak di depannya dan memasukkan kedalam mulut yang bibirnya merah merekah itu. "Aku sudah menikah, Ver. Anak dua."

     

    Aku sengaja jujur akhirnya agar ia mengerti posisiku dan kemudian memaklumi.

     

    Kulihat sejenak ia kaget, ditinggalkan aktifitas makannya, kemudian menyusul lah katanya lagi, "Aku ingin menjadi yang kedua, Mas, aku rela!"

     

    Kata-kata itu bak satu senjata bermata dua yang melesat begitu hebat kearahku. Satunya melukai, satunya lagi membuatku menjadi ingat betapa dulu ia sangat berarti.

     

    Diam-diam aku mengutuk hati manusia yang suka berubah-ubah. Dan itu berarti aku mengutuk juga segala hal dalam ketidakpastian. Apakah tidak bisa jika cinta tanpa drama?

     

    Andaikan ia tetap berpendirian terus untuk pergi dariku dan kemudian melupakan, dan aku juga berpendirian terus untuk menunggunya meski tersika, barangkali tak ada drama kedua yang membuat keadaan menjadi begitu dilema. Ini ibarat permainan yang ketika aku ingin menangkapnya ke kanan, ia tenyata ke kiri, lalu ketika ia balik ingin menangkapku yang berada di kanan, ternyata aku kini telah di kiri. Sungguh membingungkan.

     

    "Kamu masih cinta, kan, sama aku? Jujurlah, Mas?" katanya lagi. Kali ini ia lebih berani merayuku dengan menyentuh tanganku dan mengenggamnya erat.

     

    Kulepaskan perlahan sembari menggeleng pelan.

     

    Semoga ia paham arti ucapanku dan kemudian gelenganku ini. Bahwa aku sekarang bukanlah aku yang dulu. Dari segi status dan keadaan, entah dengan perasaan.

     

    Aku hanya sadar, kalau sekarang sudah terikat dengan batasan. Jika aku menerima ia kembali, selain aku menghianati istri, juga menghianati prinsip hidup yang sudah susah payah kubangun untuk bangkit selama ini.

     

    "Maaf," ujarku singkat sembari memasang senyum yang aku paksakan. Aku hanya ingin menjelaskan tanpa menyakiti siapapun. Apalagi ia pernah mengisi indah di hati meski kemudian pergi tanpa permisi. Aku ingin menjadi orang baik tanpa menjadi bodoh.

     

    Hanya satu kata itu yang mampu aku sumbangkan untuknya: maaf.

     

    Betapapun luka yang pernah ditorehkan begitu sadisnya, tapi mungkin masih ada sisa hati yang belum benar-benar mati dan sisa hati itu hanya mampu aku pakai untuk mengampuni segala kesalahannya dan bukannya untuk menerima kembali kehadirannya. Aku sadar akan batasan, dengan batasan itu aku masih bisa mempertahan kuda-kudaku dan tidak begerak melanggar prinsipku.

     

    Lalu kulihat ia menundukkan wajah. Sorot mata yang tadi setengah berbinar penuh harap, kini kutangkap perlahan suram dan layu. Barangkali menggelayut dikepalanya atas perlakuannya dulu kepadaku, saat ia meninggalkanku dengan cara yang begitu sadis. Lalu diam-diam menyesali dan mengutuk dirinya sendiri dengan tragis.

     

    Sepertinya begitu.

     

    "Kamu masih begitu cantik, pasti banyak lelaki yang lebih baik dariku bisa membahagiakanmu. Aku doakan," kataku menghibur.

     

    Ia mendongak. Menatap mataku begitu lekat. Mula-mula terlihat sepercik binar, kemudian melebar dan kusadari itu bukan cahaya bahagia tetapi adalah sorot amarah yang berpadu dengan putus asa.

     

    "Aku memang pernah mengecewakanmu. Aku memang pernah meninggalkanmu. Dan aku juga pernah membuatmu tersiksa. Namun, sekarang aku ingin menebusnya. Aku sadar bahwa laki-laki sepertimulah yang aku cari. Namun ...." Kata-katanya tertahan oleh isakan, "jika keputusamu tak berubah, Mas, itu artinya aku tak ada alasan lagi untuk hidup. Aku nyatakan ini pertemuan kita yang terakhir!"

     

    Tak kusangka kata-kata yang aku maksudkan untuk menguatkan hatinya tadi justru bagai api yang penuh gairah menjilat kayu penuh bensin, secepat kilat membakar dengan api yang berkobar tanpa sedikitpun kompromi.

     

    "Tunggu, apa maksudmu?" tanyaku penuh keheranan.

     

    Sebelum aku benar-benar mengerti apa yang ia katakan, sebelum aku bertanya lebih lanjut apa yang ia maksudkan, ia secepat kilat pergi tanpa memberiku kesempatan untuk mencegahnya.

     

    "Hei! Kau mau kemana? Apa maksudmu, Ver!"

     

    Tapi ia sudah jauh pergi.

     

    Suaraku yang keras tak ia hiraukan, atau barangkali sudah tak ia dengarkan sebab ia kini sudah menghilang ditelan tembok kafe yang mengurung kami.

     

    Kini tinggalah aku yang tersengal-sengal bercampur dengan perasaan-perasaan yang mengganjal. Kurebahkan diri dalam kursi kembali. Kemudian mataku tanpa sengaja mendarat di tempat ia duduk tadi, aku merasa ada suatu yang hilang, tepatnya benda yang hilang.

     

    "Pisau. Mana pisaunya?"

     

    Kini kusadari bahwa pisau di meja Vera yang tadi buat untuk memotong steak tidak ada ditempatnya lagi.

     

    Hilang.

     

    Aku bangkit dari duduk. Kutengok arah mana terlahir Vera menghilang. Seolah ia masih ada di sana.

     

    "Ver, apakah kau akan ...."

     

     

    End.

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Em Fardhan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.