Kepada yang Tak Diketahui - Analisis - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Jumat, 12 Agustus 2022 07:21 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kepada yang Tak Diketahui

    Reruntuhan menempati dunia tergelap dari makna penghargaan bagi yang marjinal dengan ekspresi kelamnya, sesaat kita berdiri gagah merebut sejarah dengan terbata untuk saling tikam.

    Dibaca : 366 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Saat memandang beberapa koleksi foto yang hendak dirapikan ke dalam berkas kenangan, satu foto menyentuh ingatan tentang lautan yang demikian luas di antara tersenyum puas akan beragam fauna dan panganan hangat cakap dari tradisi makan malam di tepi laut. Tepi laut beserta gulungan ombak memang telah mengisi harapan dalam menjaga pertahanan diri untuk suatu “Bitter is Healthy”.

    Sementara, di kepulauan Seribu, di sebuah pulau bernama Bidadari, Benteng Martello dengan setia menjaga megahnya realm dari masa lalu dan dihantam oleh perubahan pola iklim.

    Pada akhirnya, kini, kita semua mendadak tertidur pulas untuk tetap cemas.

    Namun pada Kerkhof, karang merangkai rahasia kelor, juga kecipir.”

    Wajah-wajah lesu menanti hiburan di sebuah pasar malam. Peliknya desahan malam terhalang pada satu-satunya kepastian tentang lelap. Musik mengulum pembakaran yang mendidih dalam hampa, semacam uap dipanaskan menuju lautan lepas, bagaikan sasar rudal-rudal menghantam pemukiman untuk segala iba. Namun, panggung-panggung kebiadaban meluap taktik pertukaran dan perjanjian dengan jaminan nyawa-nyawa bagi peradaban masa depan.

    Yang pasifis semacam gagap di pertahanan untuk perdamaian.”

    Hanya di dalam naskah-naskah tragedi, persona dramatis mewakili Dionysos memerintahkan alam mengungkap peristiwa dunia pada jaman kuno. Kontemporer hanya memungkinkan pada heningnya foto-foto sebagai kenangan yang mengadaptasi bentuk-bentuk keindahan dalam diam. Serupa cita-cita tersendat di antara Pusara Bermuda dalam arusnya menumbangkan tangisan batu-batu kesetiaan di bangunan manusia dan alam yang terabaikan.

    Reruntuhan menempati dunia tergelap dari makna penghargaan bagi yang marjinal dengan ekspresi kelamnya, sesaat kita berdiri gagah merebut sejarah dengan terbata untuk saling tikam. Namun, ada ingatan tentang lautan yang demikian luas di antara senyum pilu akan beragam fauna dan panganan hangat cakap dari tradisi makan malam di tepi laut dalam gulungan ombak yang mengisi harapan.

    langit malam kian mendekat

    pada kenangan mendarat liar

    bicara di antara ngarai cemas

    mengintip dingin dari balik noir

    seorang nelayan memeluk jala

    di hadapan purnama menangis

    di semak-semak yang bernafas

    Sementara di lantai pesisir, jajanan harga diri memupuk warisan dari budaya tikam, dan terlegalkan.

    Mungkin, ini periode awal untuk lebih kokoh dalam memantapkan negara kepulauan, atau sering kali kita tidak benar-benar menjalin hubungan terbuka sementara senjata telah disiapkan di berbagai gudang-gudang skandal para pemegang kekuasaan. Satu-satunya prostitusi yang diaminkan dengan baik-baik saja oleh kita semua. Dan, saat memandang beberapa koleksi foto, bagai surutnya bisikan kepada yang tak diketahui, tentang penghancuran.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.