Sajadah Basah - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustr: Cuded Art \x26 Design

Dwi Kurniadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Mei 2022

Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Sajadah Basah

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi

    Dibaca : 2.770 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Selepas aku beristirahat untuk memulai hari baru,

    Aku pasrahkan tubuh ini untuk bersama-nya.

    Terdengar suara semesta seakan menggiring tubuh ini untuk kembali. 

    Kembali kubersihkan pada setiap tubuh ini untuk menemui-mu.

    Panggilan kedua sudah berkumandang, kini aku semakin siap untuk berdialog dengan-mu.

     

    ''Allaahu akbar.'' Tuhan, apakah sikapku sudah sempurna untuk berdialog dengan-mu?

    ''gairil-magdubi'alaihim wa lad-dallin.'' Aamiin. kuucapkan dengan merdunya dan diimbangi bersama hati.

    Surah merdu yang dikeluarkan dari mulut suci menusukku dengan surah An-Nas.

    Sukma yang sebelumnya abstrak kini mulai terbentuk.

     

    ''Allahu akbar.'' tatapanku semakin dekat dengan apa yang kuinjak ini.

    ''Subhaana robbiyal 'adziimi wabihamdih.'' tiga kali kuucapkan tiga kali juga aku tersenyum.

    Senang rasanya bisa berdialog dengan-mu di tempat yang suci ini.

    ''Sami'allaahu liman hamidah.'' badan kembali tegak, sesekali kulirik kedepan lalu,

    ''Allaahu akbar.'' perlahan kupejamkan mata kujatuhkan tubuh ini beriringan dengan suara jatuh dari jema'ah lain.

    ''Sub haana robbiyal a'la wabihamdih.'' tiga kali kuucapkan, tiga kali aku semakin dekat dengan-mu untuk menyampaikan semuanya.

    Diulanginya lagi agar aku semakin dekat dengan-mu.

     

    ''Allaahu akbar'' kini nadanya agak panjang, namun kembali kutanyakan.

    Tuhan, apakah sikapku sudah sempurna untuk berdialog dengan-mu?

    Seakan mendapat dorongan pada ingatan masa lalu.

    Tuhan, apakah dengan cara ini kau ingin berdialog dengan-ku?

    Sedikit gagap aku berkumandang Al-FAtihah dihati yang sednag diserang ingatan masa lampau.

    Aku bingung, surah apa yang akan kuucapkan, rasa sesak apa ini?

    Kenapa masa lampau itu kembali datang?

    Untuk apa kau datang disaat aku sedang intim dengan-nya?

    ''Allaahu akbar'' aku tak sempat berdialog dengan-nya,

    atau memang ini caramu berdialog dengan hamba-mu?

    Tangan yang bersimpuh kini semakin lemas.

    Mataku semakin buram, kukedipkan, hanya ada tetesan jatuh.

    ''Sami'allaahu liman hamidah.'' Tak sanggup untuk melirik, 

    kini kupejamkan lebih awal seraya untuk menenangkan.

    ''Allaahu akbar'' nyatanya aku semakin larut dalam dialog-mu.

    Aku hanya bisa menumpahkan segalanya dan membuat sajadah ini basah.

    Teringat semua masa dimana kau menemuiku memakai jas hujan,

    naik KRL yang entah kemana dan kamu cantik sekali memakai celana gaun ala princess itu.

    Makan mie ayam bersamaan dengan hujan bersama kita, dan...

    ''Allaahu akbar'' nanti dulu, aku masih mau mengingat masa lalu itu. 

    Tangisan-mu dipundak-ku. Suapan-mu dikala aku sakit.

    Tuhan, ajak dia pula dalam dialog ini. 

    Aku ingin bersamanya dalam sajadah basah ini.

    Cukup, aku tak ingin larut lebih dalam.

    kupaksakan untuk Tasyahud Akhir namun,

    ''Assalaamu alaikum warahtullah.''

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Dwi Kurniadi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: I. Jepris Mitang

    3 hari lalu

    Ruang Makan

    Dibaca : 217 kali


    Oleh: I. Jepris Mitang

    3 hari lalu

    Hotel Mewah

    Dibaca : 202 kali