Nilaimu Ada di Lisan dan Tulisanmu - Analisis - www.indonesiana.id
x

image: Tech Explorist

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 19 Agustus 2022 15:20 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Nilaimu Ada di Lisan dan Tulisanmu

    Lisanmu dan tulisanmu sangat memengaruhi nilaimu di antara sesama. Liyan bisa menghargaimu atau melecehkanmu tergantung lisan dan tulisanmu. Apakah Allah juga menilai kedua hal tersebut?

    Dibaca : 1.068 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Nilaimu Ada di Lisan dan Tulisanmu

     

    Bambang Udoyono, penulis buku

     

    Nenek moyang kita memang orang yang sangat arif bijaksana. Buktinya meréka meninggalkan banyak warisan budaya literasi yang mencerminkan kearifan yang sangat mulia.  Mari kita bahas warisan budaya leluhur yang berupa peri bahasa.  Dalam bahasa Jawa ada peri bahasa begini. Ajining diri ono ing lathi.

     

    Aji dalam konteks ini artinya nilai. Ono ing artinya di sebagai preposisi.  Lathi artinya bibir, bisa juga maksudnya lisan atau perkataan.  Jadi arti keseluruhan kalimat itu adalah, nilaimu tergantung pada lisanmu.  Penghargaan orang tergantung pada lisanmu.  Kalau dalam konteks kekinian termasuk juga tulisan di medsos, artikel, atau bahkan buku.  Mari kita cek apakah kalimat ini sesuai dengan Al Quran dan hadist nabi.

     

    Al Qur’an

     

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”  [Al-Ahzab : 70-71]

     

    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”  [Al-Hujurat : 12]

     

    “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lèhèrnya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir [Qaf : 16-18]

     

    Dari ketiga ayat di atas jelas ada larangan berkata tidak benar (berbohong) dan bergunjing.  Ada juga pernyataan bahwa setiap perkataan manusia dicatat oleh malaikat.  Tentunya akan dipakai sebagai bukti dalam pengadilan akherat kelak.

    Bagaimana dengan hadist?  Mari kita cek.

    Hadist

     

    Jagalah kalian dari api neraka, walaupun dengan bersedekah sepotong kurma. Namun siapa yang tidak mendapatkan sesuatu yang bisa disedekahkannya maka dengan (berucap) kata-kata yang baik.”  (HR. Al-Bukhari no. 6023 dan Muslim no. 2346)

     

    “Kata-kata yang baik adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari no. 2707 dan Muslim no. 2332)

    Sedekah sudah jelas merupakan perbuatan mulia sehingga akan mendapatkan pahala besar.

     

    Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

     

    “Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta atas dirinya”  (Shahih Muslim hadits no. 2589)

     

    Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”

     

    Perbuatan baik akan mendapatkan pahala,  lalu apakah ada ancaman hukuman untuk lisan buruk?  Mari kita cèk lagi.

    Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988.

    Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”

     

    At-Tirmidzi no. 2616 ”Rasulullah bersabda: “Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya ?”

    Saya tergetar membaca ancaman hukuman seperti itu.  Kadang saya bertanya dalam hati mengapa ada ancaman hukuman berat.  Ternyata dampak dari lisan (dan tulisan) bisa dahsyat.  Orang bisa sakit hati, stress, dan sakit fisik.  Masyarakat bisa bertengkar dan bermusuhan. Pokoknya tindakan itu merugikan orang lain dan bahkan masyarakat.

    Benang merah

     

    Dari paparan di atas menjadi jelas bahwa nilai manusia, apakah layak mendapat ganjaran baik atau mendapat hukuman dipengaruhi juga oleh lisannya.   Ternyata kalimat mutiara warisan leluhur sangat benar, sangat sesuai dengan Al Qur’an dan hadist.

     

    Situasinya sudah jelas. Perkataan baik selain mendapat perhargaan manusia juga akan mendapat pahala baik.  Perkataan buruk akan berakibat dosa yang menjerumuskan ke neraka. Pilihannya terserah anda.  Apakah akan menempuh jalan menuju sorga atau jalan menuju neraka.  Kalau orang beriman ya pasti memilih perbuatan baik yang akan membawa kita ke sorga.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Hadirat Syukurman Gea

    10 jam lalu

    Analisis Sistem Jual-Beli Ijon pada Komoditas Mangga Berdasar Ekonomo Makro

    Dibaca : 81 kali

    Mangga merupakan salah satu komoditas buah yang digemari hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Mangga turut menyumbang perekonomian Indonesia karena menjadi komoditas yang di ekspor. Pada tahun 2015, ekspor mangga sebesar 1.515 jutatonyangsebagianbesarmerupakanjenis Mangga Gedong Gincu dan Mangga Arumanis. Kabupaten Kediri merupakan salahsatudaerahyang menjadikan mangga khususnya Mangga Podang sebagai oleh - oleh khas daerah dikarenakan banyaknya pohon mangga yang tumbuh di sekitar lereng GunungWilis.ManggaPodangkhasKediri banyak ditemukan di daerah sekitar lereng Gunung Wilis yaitu Kecamatan Banyakan, Tarokan, Grogol, Mojo, dan Semen. Semakin berkembang perekonomian suatudaerahmakasemakinberagam pula cara produsen dan konsumen melakukan jual beli.Salah satu sistem jual beli yang dilarang dalam Islam adalah jual beli yang mengandung unsur gharar. Sistem jual beli ijon adalah salah satu sistem jual beli yang mengandung unsur gharar sehingga dilarang oleh Allah SWT. Ijon berkaitan dengan perilaku produsen dan konsumen. Hal ini dapat dikaitkan dengan ekonomi mikro berupa keputusan pengusaha dan konsumen, terbentuknya harga barang atau jasa dan faktor produksi tertentu di pasar, dan alokasi sumber daya ekonomi.Penelitian ini menggunaka nmetode penelitian studi literatur. Jenis data yang digunakan berupa data sekunder dengan metode pengumpulan data berupa pengumpulan sejumlah studi pustaka. Berdasarkan studi literatur terkait sistem jual beli ijon dan ekonomi mikro, diperoleh hasil analisis bahwa sistem jual beli ijon dan ekonomi mikro saling berhubungan. Hal ini dikarenakan ijon berkaitan langsung dengan perilaku produsen dan konsumen dan ekonomi mikro turut mengatur perilaku produsen dan konsumen. Keywords: Ijon, Komoditas Mangga,Ekonomi Mikro