x

santri selalu tampil apa adanya, namun menyampaikan dengan seluruh perasaannya.

Iklan

Faiz Zaky Iqbal Al Ilham

Mahasiswa
Bergabung Sejak: 7 September 2022

Rabu, 7 September 2022 19:40 WIB

Agar Pesantren Tetap Menjadi Pilar Pendidikan Tanpa Kekerasan

Akhir-akhir ini kita banyak disuguhi berita miris yang terjadi di beberapa pondok pesantren. Lembaga yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu pendidikan agama ini, justru jauh dari kata pendidikan. Bahkan tak jarang terdengar kasus kekerasan. Bagaimanakah agar pesantren tetap mampu menjaga misi mulianya?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh Faiz Zaky Iqbal Al Ilham (Generasi muda NU)

Akhir-akhir ini kita banyak disuguhkan dengan berita-berita mengenai pondok pesantren yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu pendidikan agama, justru menjadi tempat yang jauh dari kata pendidikan. Bahkan tak jarang terdengar kasus kekerasan.

Beberapa kasus lahir dari pondok pesantren yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak dalam menuntut ilmu pendidikan agama. Seperti Kasus kekerasan seksual di Kabupaten Subang yang dilakukan seorang pengasuh pada 23 Mei 2022. Ia tega memperkosa santriwatinya yang masih berusia 15 tahun. Belum lagi kasus serupa terhadap 14 santriwati di Bandung yang dilakukan seorang yang katanya pengasuh pondok pesantren.  Akibatnya, 14 santriwati tersebut melahirkan bayi di pondok pesantren itu. Ditambah lagi kasus kekerasan seksual pemerkosaan yang dilakukan seorang anak kiai ternama di Jombang  terhadap santriwati di Pesantren Majma´al Bahrain Shiddiqiyah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

PESANTREN

Kasus kekerasan penganiayaan juga sedang trending topic menjadi perbincangan di media sosial dan masyarakat. Peristiwa itu menimpa seorang santri Pondok Pesantren Darul Qur'an Lantaburo, berinisial RAP yang meninggal dunia diduga karena dikeroyok 12 temannya pada Sabtu 27 Agustus 2022. Kasus serupa juga terjadi terhadap seorang santri Ponpes Modern Darussalam Gontor asal Palembang berinisial AM yang wafat dianiaya oleh temannya. Info lain ia dikeroyok oleh seniornya. 

Padahal, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman bagi santri. Selain itu, keberadaan pesantren di Indonesia seharusnya menjadi tempat pendidikan keagamaan dan pendidikan Islam rahmatan lil alamin yang mencakup aspek karakter kepribadian, pendidikan, keagamaan, moral, serta kedamaian dan keharmonisan.

Pondok Pesantren harus menjadi Pilar pendidikan tanpa kekerasan

Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menempati urutan teratas dalam upaya penciptaan pendidikan tanpa kekerasan. Hal tersebut sangat perlu diupayakan karena peserta didik akan melangsungkan pembelajaran sekaligus menetap untuk waktu yang lama. Segala aturan, muatan materi, bentuk kegiatan, dan kebijakan harus dirancang dengan melihat kondisi peserta didik agar dapat memberikan rasa aman dari kekerasan.

Pondok Pesantren jangan kehilangan fungsi dan eksistensi

Pondok pesantren masih diyakini sebagian besar kalangan umat Islam sebagai lembaga pendidikan perbaikan akhlak. Selain itu juga tempat pendalaman ilmu agama dalam menciptakan anak didik menjadi insan Robbani. Kelak saat terjun ke masyarakat mereka diharapkan sebagai pendidik, pengayom, penyejuk, serta pemimpin umat yang berintegritas. Bukan malah menyebar kebencian dan ajaran melenceng, atau menimbulkan huru-hara di tengah masyarakat kita yang majemuk.

Pondok pesantren menjadi aktor peradaban

Pondok pesantren telah banyak berkiprah bagi kemerdekaan dan bahkan kemajuan bangsa hingga saat ini. Di era ini, pesantren harus bisa mengikuti perubahan zaman yang semakin hari semakin drastis. Pentingnya mempertahankan budaya yang baik dalam sebuah tradisi pesantren adanya sebuah kaidah yang digunakan untuk mengikuti sebuah gerakan perubahan zaman yang sering kali dibuat sebagai rujukan.

Kaidah itu adalah Almuhafazhota ala al qodimi ash sholih wal akhdu bi al jadid al ashlah. Sesuatu yang baru tidak selalu dimaknai sebagai hal yang lebih baik ketimbang yang lama. Karena itu, pesantren perlu untuk terus menerus secara kreatif merespons tantangan perubahan dalam pengelolaan pendidikan sekaligus menemukan pilihan yang lebih relevan, sesuai kebutuhan zaman.

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Faiz Zaky Iqbal Al Ilham lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu