Cara Sederhana Berantas Buta Aksara di Era Digital - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Kamis, 15 September 2022 12:38 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Cara Sederhana Berantas Buta Aksara di Era Digital

    Kaum buta aksara adalah fakta. Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka pun memberi hadiah seliter beras atau mie instan seusai belajar baca tulis

    Dibaca : 381 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Selain kegiatan belajar baca-tulis, ada yang unik di aktivitas GRrakan BERantas BUta aksaRA (Geberbura) TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Karena setiap usai belajar, kaum ibu buta aksara selalu diberikan “hadiah” berupa mie instan atau seliter beras. Tujuannya sederhana, agar warga belajar buta aksara termotivasi untuk terus datang dab belajar baca tulis seminggu dua kali (Kamis dan Minggu). Maklum, kegiatan belajar nonformal semacam berantas buta aksara tergolong rentan untuk tidak bisa berlanjut karena komitmen yang mengajar dan yang belajar.

    Saat ini, program Geberbura TBM Lentera Pustaka menjadi tempat belajar 9 warga belajar kaum ibu buta aksara. Memang, memberantas buta aksara memang pasang-surut, dengan segala kendalanya. Tapi TBM Lentera Pustaka dengan didukung para relawan yang mengajar hingga kini masih terus berproses dan aktivitas belajar baca tulis tetap berjalan. (simak pula: https://www.youtube.com/watch?v=_USSmScL2YQ&t=19s). Awalnya, kaum buta aksaran jangankan mengenal huruf. Tanggal dan tahun kelahiran pun tidak tahu walau punya KTP. Tidak kenal huruf, tidak bisa mengeja kata-kata. Bahkan pelajaran pertama mereja adalah menulis nama dan membuat tanda tangan. Dan kini, mereka sudah bisa mengeja kata dan menulis walau belum lancar.

    Maka untuk menjaga semangat dan motivasi, warga belajar kaum buta aksara selalu diberikan seliter beras atau mie instan setelah belajar. Agar tetap datang belajar baca tulis. Maklum, karena di bejara di Geberbura, tidak ada rapor tidak ada absen. Mie instan atau seliter beras pun “ditukar” dengan semangat belajar agar terbebas dari belenggu buta aksara. Apalagi di zaman serba digital seperti sekarang. Selain faktor usia dan kesadaran, faktor motivasi jadi hal penting dalam pemberantasan buta aksara.

    Hadiah berupa mie instan atau seliter beras di program Geberbura TBM Lentera Pustaka pun menjadi sinyal akan pentingnya berbuat baik kepada sesama dalam kehidupan. Termasuk membebaskan kaum buta aksara dari belenggu buta huruf. Sekalipun dianggap sederhana, ikut memberantas buta aksara adalah perbuatan besar yang sangat bermanfaat bagi kaum buta aksara. Untuk mengangkat derajat dan martabat kaum ibu di mata anak-anaknya. Dari yang tadinya tidak bisa baca-tulis, kini sudah terbebas dari belenggu buta aksara.

    Di Geberbura TBM Lentera Pustaka siapa pun bisa jadi relawan. Untuk ikut membantu kaum buta aksara. Sebagai perwujudan kepedulian sosial, di samping menegakkan aktivitas literasi di bumi Indonesia. Hadia mie instan atau seliter beras hanya simbol. Bahwa hadiah bukan dilihat dari harganya. Siapa pun tidak dilihat dari penampilannya. Tapi yang penting, seberapa bermanfaat kita untuk orang lain. Salam literasi #GeberBura #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

     

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Dien Matina

    3 hari lalu

    Antre

    Dibaca : 215 kali