Cinnamon - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Image source: https://3.bp.blogspot.com/-O-nb10fr-Zk/Venqvm-JNLI/AAAAAAAAF_0/oAjCSR_mADo/w1200-h630-p-k-no-nu/2015-09-01\x252B14.29.46.png

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Senin, 19 September 2022 18:51 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Cinnamon

    Airmatanya terjatuh dalam getir dan memanas. Jemarinya meremas tanah yang menyelimuti makam itu. Tiba-tiba tangan yang lainnya meraih selembar kain dengan rajutan dua buah daun jambu, kain wol berwarna toska yang diberikan kepadanya di hari ulang tahunnya satu bulan lalu dengan tulisan yang menyulam indahnya huruf italik: “Dia telah mengayak jiwaku dengan kemurnian cinta kasih yang disusunnya dari kedukaanku. Aku takkan goyah. Hatiku terjaga dan memujinya.”

    Dibaca : 617 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dia telah mengayak jiwaku dengan kemurnian cinta kasih yang disusunnya dari kedukaanku. Aku takkan goyah. Hatiku terjaga dan memujinya.

    Suara terdalam dibisikkan dengan ketenangan yang membuat seluruh pelayat bergumam dengan awan hitam menyelimuti langit pemakaman siang ini. Dalam sudut barisan terbelakang pengunjung, terlihat seorang wanita, anggun menatap liang lahat, serta rangkaian bunga yang indah mengelilingi altar kecil pada sisi melintang.

    Perang batin menguasai dadanya, menabuh bagai simbal tanpa bunyi selain getar yang membuatnya tetap bertahan untuk berjalan dan terhenti, berdiri tepat di tepian liang lahat. Pandangannya seketika mengabur, kedua bola mata kecoklatan tidak menyampaikan ganjil. Bahkan, selayaknya mengantar kematian yang terkasih, air mata menghilang.

    Dia telah mengayak jiwaku dengan kemurnian cinta kasih yang disusunnya dari kedukaanku...

    *

    Dis, apa kamu sudah periksa semuanya? Jangan sampai, saat di setengah jalan, nanti kamu bilang; balik lagi ada yang tertinggal”

    Iya..... Semua sudah lengkap, tinggal dimasukkan ke bagasi.”

    Sore hari ini, cuaca di sekitar rumah Olso cukuplah cerah, namun, menurut aplikasi perkiraan cuaca, menyebutkan bahwa akan turun hujan di beberapa desa yang terlewati oleh Diska dan Olso hingga tiba di lokasi wisata. Tempat yang telah dinantikan mereka berdua sejak beberapa tahun terakhir.

    Suami istri yang memilih tidak memiliki anak, memang, telah menyibukkan dirinya masing-masing pada pekerjaannya, yang juga dibidang yang sama. Waktu duapuluh empat jam mereka geluti tanpa batas pekerjaan yang berbeda. Perkumpulan sosialita pun masih sama. Sosial yang hanya menikmati hidangan dari restoran-restoran berkelas dan bersejarah sebagai absah status bersosialnya.

    Mereka pasangan yang begitu diidolakan di lingkungan sosial mereka berkumpul. Bahkan, apabila mereka melakukan perjalanan berlibur yang tidak terlalu membutuhkan waktu sehari untuk pulang pergi, banyak pemandu sekaligus penjamu vila atau restoran sangat menyukai pasangan tersebut.

    Pasangan dengan penampilan penuh mesra beserta senyum yang ramah, sekaligus tidak menyukai anak-anak untuk alasan hanya akan melahirkan mereka ke dunia penuh kekejaman.

    Periksa semua, jangan lupa matikan aliran listriknya, karena kita akan berada di sana cukup lama.”

    Tampak keduanya disibukkan oleh barang-barang selayaknya berpindah rumah. Begitulah mereka, dengan barang-barang yang berlimpah, dengan selalu memperbarui perangkat digital terbaru, juga, masing-masing menggunakan mobil terbaru yang berbeda. Hanya saja, keduanya sangatlah jarang saling menegur selain untuk memastikan agenda yang mengharuskan mereka bersosial.

    Asing dan keterasingnya hubungan pernikahan yang tidak akan terlihat selain oleh Marsya, kekasih Olso yang dengan setia memberikan semangat kepada Olso pada saat suami Diska ini, menghadapi perasaan buntu dan penuh putusasa atas pilihan hidupnya, menikahi Diska. Marsya selalu meminta untuk tidak meninggalkan pernikahan demi dirinya.

    Bagaimanapun, Marsya sesungguhnya wanita yang sangat menghormati perjanjian pernikahan.

    *

    Ada lagi kerabat yang ingin menyampaikan kalimat terakhir?”

    Isak tangis pecah bagaikan komposisi orkestra Pavane For A Dead Princess karya Maurice Ravel. Diska menjerit lalu tubuhnya yang mungil terjatuh dan hampir melayang bebas menjatuhi peti yang berisi jasad Olso. Para pelayat tertunduk. Beberapa berusaha mengangkat Diska dan membawanya ke ruang istirahat yang ada di dekat pintu masuk pemakaman.

    Tentunya, Diska sangat tidak siap untuk kehilangan suaminya. Walaupun Olso sesungguhnya sangat ingin berpisah, dan tanpa bercerai sesuai permintaan kekasihnya. Maka, kematian menjadi jawaban hubungan yang terjaga rahasia, yang dipeluknya hingga nyawa tiada, untuk menyampaikan betapa Marsya sungguhlah wanita yang dicintainya dan terlambat.

    Kematian yang mendadak, sebuah kecelakaan menimpa pasangan suami istri yang sedang berdebat untuk memilih beristirahat dan makan siang. Lelah telah membuat Olso kehilangan atas kendali dan konsentrasi, mobil yang dikemudikannya melawan arah saat jalur berkelok dan, sebuah truk tronton mendadak muncul di depan mobil mereka. Olso terselamatkan, sedangkan Diska harus dikeluarkan dengan susah payah oleh petugas.

    Namun, nyawa memilih meninggalkan Olso terlebih dahulu, dan Diska hanya mengalami luka yang ringan. Perdebatan dan pertengkaran yang seringkali membuat Olso memilih diam lantas pergi menuju halaman belakang untuk meredakan lelahnya hatinya dengan berkebun. Berbincang dengan tanaman atau menelpon Marsya sambil memperlihatkan pertumbuhan tanaman di kebunnya kepada kekasihnya yang juga mencintai dunia berkebun.

    *

    Pemakaman perlahan sunyi, para pelayat satu per satu meninggalkan liang lahat yang telah tertutup rapi dengan tanah serta aneka bunga-bunga. Marsya yang masih berdiri sendiri di samping makam kekasihnya, perlahan bersimpu, sambil membelai tanah basah kecoklatan seperti warna bola mata yang selalu dibanggakan oleh Olso.

    Airmatanya terjatuh dalam getir dan memanas. Jemarinya meremas tanah yang menyelimuti makam itu. Tiba-tiba tangan yang lainnya meraih selembar kain dengan rajutan dua buah daun jambu, kain wol berwarna toska yang diberikan kepadanya di hari ulang tahunnya satu bulan lalu dengan tulisan yang menyulam indahnya huruf italik: “Dia telah mengayak jiwaku dengan kemurnian cinta kasih yang disusunnya dari kedukaanku. Aku takkan goyah. Hatiku terjaga dan memujinya.”

    Sebuah kalimat yang pernah diucapkan Marsya kepada Olso dalam percakapan telpon sebelum Olso mengabadikannya menjadi dua lembar kain wol berwarna toska, warna yang sangat disukai Marsya.

    Seketika hujan turun menutupi genangan air mata di kedua pipi Marsya, sore ini.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Itha Abimanyu

    4 hari lalu

    Rindu dan Cinta

    Dibaca : 133 kali