x

Iklan

Mulya Sarmono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Merindukan Gus Dur

Tujuan dari tulisan ini adalah mengingat kembali sosok kepemimpinan ala KH. Abdurrahman Wahid serta membandingkannya dengan pemimpin sebelum dan sesudah beliau.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Teringat ketika penulis berada dikerumunan para mahasiswa di fakultas penulis. Penulis melihat dan mendengar para mahasiswa mendiskusikan sosok pemimpin yang ideal untuk bangsa. Kebetulan sebentar lagi rakyat Indonesia akan merayakan pesta demokrasi terbesar yang dilaksanakan pada lima tahun sekali. Ada yang mengidolakan Jokowidodo karena di  anggap pemimpin yang peduli pada rakyat marginal, ada yang mengidolakan Surya Paloh karena ide perubahannya.

Ada yang sedikit menyayat hati ketika mereka membicarakan pemimpin-pemimpin sebelumnya. Seperti Soekarno, Soeharto, dan Gusdur tentunya. Mereka justru merendahkan Gusdur karena penampilan fisiknya yang sedikit berbeda dengan pemimpin lain. Mereka justru mengkategorikan Gusdur sebagai pemimpin yang gagal serta mereka tertawa terbahak-bahak ketika bercerita tentang pemakzulan Gusdur sebagai Presiden.

Sungguh ironis memang ketika kita hanya menilai sesuatu pada satu sisi saja. Tidak melihat prestasi atau kebaikan orang di lain sisinya. Padahal ketika kita membuka kembali sejarah Indonesia, serta melihat kembali sejarah kepemimpina Gusdur secara holistik, maka penilaian kita terhadapnya akan jauh berbeda.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Gusdur nama panggilan akrabnya, tapi panggilan lengkapnya adalah KH Abdurrahman Wahid. Lahir di Jombang pada tanggal 7 September 1940 dengan nama Abdurrahman Addakhil. Addakhil artinya sang penakluk, tapi nama itu tidak cukupdikenal, dan diganti dengan nama Wahid,dan kemudian lebih dikenal dengan nama Gusdur. “Gus” adalah nama panggilan kehormatan khas pesantren untuk anak seorang kiai yang berarti “abang” atau “mas”. (Gusdur.net)

Gusdur adalah anak dari KH. Wahid Hasyim, kakek Gusdur adalah KH. Hasyim Asyari pendiri NU. Gusdur pernah menjadi Ketua Umum Nahdlatul Ulama tahun 1984. Gusdur pernah menjadi Presiden Indonesia pada tahun 20 September 1999 sampai 23 Juli 2001. Banyak gebrakann yang dilakukan Gusdur semasa menjabat sebagai Presiden yang singkat itu. (kompas.com 7 Agustus 2012) tidak seperti presiden Soeharto yang menjabat selama 32 tahun justru meninggalkan banyak kesengsaraan bagi rakyat. Presiden SBY yang menjabat selama 10 tahun tidak pernah menghasilkan apa-apa kecuali album dari lagu ciptaannya.

Salah satu gebrakan yang dilakukan Gusdur adalah dengan mencabut pelarangan budaya, bahasa dan adat istiadat Tionghoa yang selama 30 tahun hidup dalam tekanan tidak bisa mengekspresikan identitasnya. Gusdur menjadi bapak pluralisme yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap perbedaan agama dan keyakinan. Selain itu sosok Gusdur juga sangat menghormati Hak Asasi Manusia bukan hanya melalui kata-katanya, tapi juga melalui perbuatannya.

Ahok yang notabene seorang wakil gubernur Jakarta pernah berkata bahwa Gusdur menjadi Inspirasinya untuk terjun ke dunia politik. (kompas.com 28 Desember 2013) kata Quraish Shihab bahwa “Gusdur sangat menekankan pluralisme, yaitu mengakui dan menghormati keberagaman, ini merupakan pemikiran yang jauh kedepan”. Mustofa Bishri mengatakan bahwa “Gusdur memberikan keteladanan dalam kesederhanaan, orang-orang sangat mencintai Gusdur karena Gusdur juga sangat mencintai mereka. (kompas.com 28 September 2012).

Mantan Presiden ke 4 Indonesia yang menggantikan Bj Habibie yang terkenal karena sangatlah menyukai humor ini mempunyai kehebatan lainnya. Gusdur pernah meramal Jendral Pol Sutarman menjadi Kapolda Metro Jaya dan Kapolri, dan itu menjadi kenyataan sekarang. (news.liputan6.com 28 Desember 2013).

Sosok Gusdur yang begitu luar biasa sangatlah dirindukan oleh para pecintanya. Para pecintanya sangat mendambak pemimpin yang mempunyai visi misi serta pemikiran politik seperti Gusdur, bukan pemimpin yang hanya mengandalkan retorika kosong serta orasi yang tanpa isi. Bukan pemimpin yang lebih mementingkan citra daripada karya. Bukan pemimpin yang pandai permainkan momen sehingga dimanja media. Bukan pemimpin yang demi kuasa harus menggunakan cara yang salah serta mengorbankan hal yang benar.

Sosok pemimpin yang kita rindukan adalah sosok yang membela kaum marginal dan kaum terpinggirkan yang mayoritas di Indonesia. Sosok pemimpin yang menegakkan kebenaran dan kebaikan serta menghormati keseragaman. Sosok pemimpin yang jujur yang demi keadilan berani menantang penindasan. Itulah gambaran sosok Gusdur, semoga limpahan rahmat selalu tercurahkan kepadanya. aamiin

 

Ikuti tulisan menarik Mulya Sarmono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler