Keluarga Ibarat Kopi - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Cara berkomunikasi secara jujur dan berempati dengan anggota keluarga menjadi kunci komunikasi efektif pada masa pandemi

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Sabtu, 1 Oktober 2022 07:10 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Keluarga Ibarat Kopi

    Kopi terdiri dari unsur yang berbeda taoi bisa berpadu menjadi minuman yang digemari. Demikian juga keluarga. Suami dan istri pasti memiliki perbedaan. Tapi mereka mesti punya sesuatu yang bisa memadukan. Apa unsur penyatunya? Sila baca tuntas.

    Dibaca : 895 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Keluarga Ibarat Kopi

    Bambang Udoyono, penulis buku

     

    Saya adalah seorang penggemar kopi.  Itulah sebabnya saya memakai kopi sebagai amsal sebuah keluarga.  Meskipun Anda bukan penggemar kopi, pasti Anda paham bahwa kopi memiliki beberapa unsur.  Ada bubuk kopi.  Ada air panas atau dingin.  Mungkin ada creamer.   Sebagian orang suka menambah gula, tapi saya tidak.  Sebab yang saya nikmati adalah rasa kopi itu sendiri, bukan rasa gula.  Semua unsur itu berbeda.

     

    Demikian juga sebuah keluarga.  Awalnya hanya dua orang saja, hanya  suami dan istri saja sebelum Allah memberi anak dan cucu.  Biasanya suami dan istri berasal dari keluarga yang berbeda.  Mungkin saja dari suku yang berbeda.  Maka bahasa dan budaya mereka beda.  Kepribadian mereka berbeda.  Pendidikan mereka beda. Profesi mereka beda. Hobby mereka beda.   Mungkin selera makan beda.  Selera nonton film beda.  Selera musik beda.  Timbullah pertanyaan bagaimana menyatukan dua pribadi yang berbeda dalam sebuah keluarga?

     

    Dalam keluarga inti saya perbedaan juga ada.  Kami sama sama orang Jawa, tapi saya dari Jawa tengah dan istri dari Jawa timur.  Ada sedikit perbedaan dalam bahasa dan budaya.  Bahasa Jawa tengah lebih halus. Bahasa Jawa timur lebih lugas dan egaliter.  Kepribadian kami juga beda.  Saya lebih pendiam dan introvert.  Saya suka solitude.  Saya menikmati menulis dalam sunyi.   Istri saya lebih banyak bicara dan ekstrovert. Dia hangat dan ramah.  Dia suka bertemu dengan orang banyak, menyanyi dan menari.  Meskipun demikian kami bisa menyatu.  Modal kami untuk menyatu menjadi keluarga adalah cinta, iman dan wacana.  Karena saling menyintai, menyayangi maka kami memahami, menerima semua aspek kepribadian masing masing.  Wacana alias dialog dua arah menambah kemampuan untuk saling memahami.  Iman Islam menambah pemahaman akan fungsi dan tugas masing masing yang saling mengisi.  Jadilah kami pasangan yang padu dalam melangkah.   Pendidikan anak anak dalam keluarga dilakukan dengan padu juga.

     

    Ketiga unsur itulah yang menyebabkan kami bisa padu.  Ibarat air, bubuk kopi, gula dan creamer yang menjadi minuman kopi.  Itulah kami.  Unsur yang beda disatukan dengan bermodal cinta, iman dan wacana.  Alhamdulilah hasilnya tidak mengecewakan.

     

    Minuman kopi tidak bisa tercipta hanya dengan satu unsur saja.  Bubuk kopi saja masih belum bisa disebut minuman kopi. Itu masih bahan baku saja. Meskipun kopi harum dari Toraja, misalnya, kalau sendirian ya belum menjadi minuman kopi. Unsur itu masih harus ditambah air dan mungkin sedikit gula dan creamer.

     

    Demikian juga keluarga.  Harus ada unsur yang berbeda untuk menjadi sebuah keluarga.  Sedangkan perbedaan tidak jarang menimbulkan masalah. Artinya harus ada kemampuan untuk menyatukan.  Keduanya harus memiliki kemampuan menerima pasangannya apa adanya. Keduanya harus maklum kalau tidak ada manusia sempurna.  Jadi terimalah kelemahan pasangan Anda.

     

    Keduanya harus rido dengan pemberian Tuhan berupa jodoh.  Suami dan Istri adalah pemberian Tuhan. Sedangkan pemberian Tuhan kepada manusia adalah yang terbaik.  Mungkin saja dia bukan manusia terbaik tapi dia paling pas untuk kita.  Masih banyak orang lain yang lebih baik, tapi bukan untuk kita. Jadi kita harus rido dengan pemberian Allah. Kita harus mensyukuri pemberian Allah.

     

    Unsur cinta tentu mutlak harus ada. Tanpa unsur ini ikatan formal perkawinan aka kurang kokoh. Kalau ujian datang ikatan yang rapuh akan mudah pecah.

     

    Jika ada unsur cinta, rido dengan pemberian Allah, kemampuan kompromi dan menerima apa adanya maka lengkaplah unsur perekat penrnikahan Anda. Itulah kekuatan yang akan mampu membentengi segala ujian yang datang.

     

    Dengan semua unsur itu ‘kopi’ Anda sudah tercipta.  Sila nikmati ‘kopi’ Anda. Itulah asset utama Anda.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.