Amor Dalam Purnama Oktober - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Senin, 10 Oktober 2022 19:31 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Amor Dalam Purnama Oktober

    Oktober dan peristiwa sosial dalam konflik prakiraan cuaca. Pilihan seringkali menjadi pertarungan panjang bagi perjalanan hidup di mana akhirnya, manusia dan peristiwa memilih untuk bersikap “bagaimana berbohong”. Kebohongan memang lebih mudah disembunyikan; memalsukan sebagai cara alternatif menimbang keuntungan, dan, kebohongan seringkali tidak membutuhkan keharusan rekayasa sebab peristiwa tertangkap tanpa seluruh cerita. --Ekspresi bahasa yang dilematis, tentang moral dan etika, tentang sastra dan dunia penulisan.

    Dibaca : 837 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oktober dan peristiwa sosial dalam konflik prakiraan cuaca. Pilihan seringkali menjadi pertarungan panjang bagi perjalanan hidup di mana akhirnya manusia dan peristiwa memilih untuk bersikap “bagaimana berbohong”. Kebohongan memang lebih mudah disembunyikan; memalsukan sebagai cara alternatif menimbang keuntungan, dan, kebohongan seringkali tidak membutuhkan keharusan rekayasa sebab peristiwa tertangkap tanpa seluruh cerita.

    Ekspresi bahasa yang dilematis, tentang moral dan etika, tentang sastra dan dunia penulisan.

    Pada akhirnya, tulisan fiksi menjadi tempat yang cukup aman sebagai ruang penyimpan penat, yang seringkali kontra realita, atau sebaliknya, dengan mengubah seluruh nama beserta judulnya. Betapa ironinya, seorang penulis, menutup kedukaannya menjadi catatan yang cerah bagi para pembaca. Siapa yang akan sanggup membedakan kapan penulis menjadi dirinya dan karakter yang ditulisnya? Tidak ada. Mungkin...

    *

    Tragedi bagi dunia Shakespeare, yang menunjukkan keahliannya sebagai proses kesalahan paling fatal, kejatuhan kaum bangsawan atas kekayaan dan kuasa absolut, hingga tekanan sosial sebagai eksternal yang pada akhirnya menempatkan tokoh-tokohnya sebagai sosok pahlawan untuk setiap karakter yang telah dituliskannya dengan kematian dramatis. Namun, Shakespeare bukanlah satu-satunya dari para penulis yang menjerit dalam sunyi. Ada yang lain, semisal James Joyce untuk Ulysess, yang menulis tentang kompleksitas manusia sebagai individual sekaligus sosial.

    Sebagai pembaca, saya seringkali merenungkan bagaimana sebuah karya menjadi dan penuh kacau, hingga sunyi pada masanya. Bagaimana akhirnya penulis dan pembaca memaknai kedalaman suara manusia sebagai mahluk yang hidup untuk emotions dan feelings sebagai kebutuhan mendasarnya? Di mana keduanya cenderung menjadi momok dan berakhir sebagai pengabaian akan realita hidup.

    Popular psikologi seakan buntu untuk masalah mendasar dalam menggandeng kembali sisi terkelam manusia dalam kesehatan jiwa serta keyakinan akan hidup yang bergerak, berproses, dan moving on tanpa memanggul masa lalu yang “kelam” sebagai langkah awal perjalanan tanpa sikap dendam.

    *

    Mungkin, akan jauh lebih mudah untuk menghentikan pembacaan kisah fiksi dengan cara menutup kehidupan sang penulis sebagai jalan singkat “kebencian” atau “kekaguman” dengan berbagai cara, atau melawan karya tulis melalui serangkaian ekspresi. Namun, segala sesuatu yang telah tercatat dan disembunyikan akan memberikan kejutan-kejutan kepanikannya masa depan.

    Pilihan bijak menjadi manusia dalam menyaring, mempercayai, hingga mengumpat dengan terkejut atau tertawa, bahkan terharu menjadi proses lain tentang percakapan personal atas peristiwa sosial dalam konflik prakiraan cuaca untuk suatu jalan panjang kehidupan saat bulan purnama singgah di Oktober bersama sang Jupiter. Untuk kesekian purnama, amor merundukkan sunyinya rindu.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.