Keluar Zona Nyaman agar Kamu Berubah dan Tumbuh - Analisis - www.indonesiana.id
x

ilustr: Shelters to Shutters

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 21 Oktober 2022 13:31 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Keluar Zona Nyaman agar Kamu Berubah dan Tumbuh

    Salah satu resep sukses adalah keluar dari zona nyaman. Tapi sayang sekali kendalanya seringkali orangtua sendiri. Terus bagaimana mengatasinya?

    Dibaca : 1.067 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    It’s only after you’ve stepped outside your comfort zone that you begin to change, grow, and transform (Roy T Bennet).  Hanya setelah kamu melangkah keluar dari zona nyamanmu kamu mulai berubah, tumbuh dan bertransformasi.  Itulah nasehat Roy T Bennet, seorang penulis terkenal dari negri Paman Sam.  Mari kita ulas dari perspektif parenting.

    Saya pernah menulis sebuah artikel tentang Lesmono Mondro Kumoro,  seorang tokoh dalam cerita wayang Jawa.  Dia adalah anak raja Ngestino (Hastinapura) yaitu Prabu Duryudono alias Prabu Suyudono.  Si Lesmono ini sejak kecil dimanjakan oleh orang tuanya.  Akibatnya sifatnya jadi buruk.  Dia jadi pemalas dan demanding.  Semua potensinya tidak berkembang.  Maka dia tidak bisa menjadi pemimpin.  Jadi para pujangga Jawa dan para dalang wayang sudah memberi peringatan agar para orang tua tidak memperlakukan anak anaknya dengan manja agar mereka tidak menjadi Lesmono.

    Nah Roy Bennet memberi nasehat agar manusia tumbuh dan bertransformasi dengan melangkah keluar dari zona nyamannya.  Tidak mudah bagi keluarga yang sudah mapan untuk membiarkan anak anaknya melangkah keluar dari zona nyamannya. Mereka yang biasa naik kendaraan pribadi tidak akan tega membiarkan anak anaknya naik angkot, makan di warung sederhana atau kos di kosan sederhana.  Orang tua memang memiliki kecenderungan untuk terlalu melindungi anaknya. Sebenarnya wajar saja orang tua memiliki perasaan itu asal tidak terlalu ekstrim. 

    Orang tua harus belajar menata perasaanya agar tidak terlalu melindungi dan menolong anak anaknya.  Biarkan mereka menghadapi tantangannya.  Biarkan mereka melangkah keluar dari zona nyamannya. Lihat dunia tumbuhan.  Pohon yang berkembang maksimal adalah yang terkena matahari langsung. Mereka yang tertutupi bayangan pohon besar justru tidak akan tumbuh maksimal.  Demikian juga anak.

    Jadi langkah nyatanya bagaimana?  Salah satunya adalah kuliah di kota lain agar mereka kos.  Jangan berikan dana tanpa batas meskipun Anda super kaya raya.  Beri batas.  Tetapkan setiap bulannya sekian.  Mereka harus mampu mengelolanya.    Dengan demikian mereka akan keluar dari zona nyamannya.  Dalam keadaan itu mereka akan belajar banyak hal.  Masa belajar di perguruan tinggi dengan tinggal di kosan itu akan menjadi ‘kawah Condrodimuko’ yang akan membuat mereka tumbuh menjadi Gatotkoco.  Itulah gambaran  masa transformasi mereka dalam budaya Jawa.

    Monggo belajar mendidik anak dengan mengijinkan mereka kaluar dari zona nyaman mereka agar mereka berubah, tumbuh dan bertansformasi menjadi Gatotkoco yang sakti mondroguno. 

     

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.