Makna Pahlawan dalam Bingkai Nasionalisme Kaum Muda

Rabu, 9 November 2022 20:40 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kaum muda menjadi salah satu harapan bagi masa depan bangsa. Namun, jika ada satu kesalahan dalam sistem mengelola dan menggerakkan kaum muda, segala hal bisa berbalik merugikan bangsa. Maka itu, kaum muda mesti dibekali semangat kepahlawanan dan nasionalisme untuk kemajuan bangsa.

Di Indonesia setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hal ini sebagai tanda penghormatan atas peristiwa yang terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya. Di mana pada saat itu terjadi bentrokan hebat antara tentara Inggris dengan pejuang Indonesia di bawah komando Bung Tomo dan beberapa tokoh lain seperti KH. Hasyim Asy'ari, Gubernur Surjo, dan Moestopo.

Pertempuran itu berlangsung selama tiga minggu dan memakan banyak jiwa di kedua belah pihak. Rakyat Indonesia saat itu tak mau menyerahkan harga dirinya kembali ke pelukan kolonialisme. Rakyat yang sudah sejak lama ingin merdeka, dan baru beberapa bulan diikrarkan proklamasi kemerdekaan tentu memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi. Sehingga tak perduli siapapun musuh yang hendak merebut tanah air dan kemerdekaan akan diladeni.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Akibatnya banyak pejuang yang gugur di pertempuran 10 November Surabaya. Sehingga pada tanggal itu ditetapkan sebagai hari pahlawan untuk mengenang dan menghormati jasa para pahlawan yang rela berkorban demi kemerdekaan penuh Indonesia. Serta belum lama kita juga baru saja memperingati hari sumpah pemuda, sebuah tanggal untuk merayakan dan memperingati momentum bersatunya elemen muda dari timur hingga barat Nusantara untuk menyatukan visi sumpahnya demi tanah air Indonesia.

Dua peristiwa sejarah itu memang sudah berlalu hampir satu abad. Namun penting sekali bagi kita khususnya generasi muda untuk selalu mengingat dan mengkaji makna dan mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut. Sebab dengan mengingat momentum semacam itu, ada semangat dan satu bentuk kesadaran yang perlahan namun pasti akan bangkit dan terbangun dalam diri kita. Sebuah kesadaran yang membawa kita untuk terus berjuang dan bersatu demi kepentingan bangsa dan negara, seperti yang dilakukan para pahlawan di masa dahulu kala.

Bicara soal pahlawan tentu akan terbesit dalam benak kita tentang kisah-kisah heroik, perjuangan dan pengorbanan. Pahlawan menjadi sosok yang diidolakan dan juga menjadi teladan bagi setiap orang. Karena nilai-nilai yang ada dalam diri seorang pahlawan memang pantas untuk dijadikan teladan.

Namun akhir-akhir ini pikiran saya sedikit terusik dengan kata "pahlawan". Terusik dalam artian pikiran saya mengajak untuk mencari siapakah yang patut disebut sebagai pahlawan di era saat ini, di sebuah jaman yang bisa dikatakan damai tanpa ada peperangan fisik. Apakah masih ada ruang untuk pahlawan-pahlawan baru yang akan datang? Bermula dari pikiran yang mengusik itu, saya mencoba untuk menelisik apa makna pahlawan yang sebenernya. Dan apakah pahlawan hanya akan muncul setelah konflik serupa pelangi yang muncul setelah badai? Tentu pahlawan tak melulu hadir di tengah badai. Setiap saat mesti ada sosok yang bisa kita katakan sebagai pahlawan. Sebab seseorang bisa dikatakan sebagai pahlawan jika di dalam dirinya terdapat nilai-nilai kepahlawanan.

Nilai-nilai itu yang mesti ada dan dirawat di setiap generasi. Nilai dan jiwa kepahlawanan mesti melekat dalam setiap peradaban yang bergulir. Peradaban memang tak melulu sama dari waktu ke waktu perubahan adalah suatu hal yang niscaya. Boleh jadi saat ini kita tak lagi melihat orang-orang yang bisa dikatakan pahlawan sebab ia berjuang melawan kolonialisme atau penjajahan di atas tanah Indonesia, karena saat ini secara de facto dan de jure Indonesia sudah merdeka. Pahlawan model begitu sudah pasti tak akan kita temui. Namun bukan berarti tak ada lagi sosok pahlawan di tanah air ini. 

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, peradaban boleh jadi berubah, tetapi nilai, jiwa, dan semangat harus tetap sama. Dalam hal ini yang saya maksud adalah nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme. Kita saat ini memang sudah tak lagi beradu tinju dalam Medan peperangan demi menyelamatkan bangsa. Tetapi bukan berarti rasa nasionalisme dan patriotisme itu menjadi hilang. Kita harus tetap selalu menjaga nilai-nilai itu agar tetap bersemayam dalam diri setiap individu maupun kelompok.

Kata pahlawan dalam KBBI adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Jika merujuk pada KBBI kita bisa mengambil sedikitnya tiga nilai yang mesti kita rawat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Diantaranya, berani, mau berkorban, dan membela kebenaran. Jika nilai-nilai itu terkandung dalam kehidupan di setiap generasi, maka bangsa ini tak akan kekurangan tokoh dan sosok yang akan muncul menjadi tauladan. 

Selain tiga hal itu nilai kepahlawanan yang mesti ada dalam setiap generasi adalah idealisme. Terlebih bagi golongan muda. Sebab tanpa idealisme kita hanya akan menjadi pribadi yang kosong dan serupa buih yang terombang-ambing di lautan. Memang betul yang dikatakan oleh Tan Malaka "Idealisme menjadi kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh seorang pemuda” sebab kita sebagai generasi muda yang akan menjadi generasi penerus jika tidak memiliki idealisme yang kuat, kita akan diporakporandakan dengan begitu mudahnya. Jika kita melihat tokoh-tokoh dan pahlawan kita di masa lalu, semuanya memiliki satu kesamaan yaitu memiliki idealisme yang kuat.

Sebagai seorang pemuda saya mengajak kawan-kawan semua untuk tetap memupuk nilai-nilai kepahlawanan serta memegang kuat idealisme yang searah seperjuangan dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Pikir saya, di jaman yang seakan tanpa batas dan sekat di setiap negara dan informasi begitu cepat bergerak dari satu benua ke benua lain jika kita tak membekali diri kita dengan idealisme, kita akan hanyut tergerus oleh kebudayaan asing. Bukan berarti kita tak boleh meniru bangsa lain, meniru boleh, tetapi kita harus tetap menunjukkan ciri khas kita sebagai bangsa Indonesia. Disitulah nasionalisme dimainkan.

Saat ini kita memang tak lagi berada di kondisi perang dengan kekuatan militer, tetapi kita harus mengakui bahwa saat ini dunia dan masing-masing negara tengah melakukan peperangan budaya secara tersirat. Seluruh negara di dunia hendak menunjukan kesuperpoweran dengan cara saling tebar pengaruh dalam sistem kebudayaan serta ekonomi. Ambil saja contoh budaya Korea yang kini dikenal sebagai KPop. Berapa banyak pemuda kita yang lebih mengenal budaya-budaya Korea karena mereka menjadi penikmat KPop ketimbang tahu akan budayanya sendiri.

Atau, pemuda kita yang rela belajar bahasa serta budaya Jepang hanya untuk mengerti dan mendalami anime yang ia nikmati di setiap malam. Hal-hal itu bukanlah masalah jika masih diimbangi dengan nasionalisme dan nilai kepahlawanan yang sudah saya sebutkan tadi. Akan berbahaya jika rasa nasionalisme sudah tak ada lagi dalam pribadi pemuda. Maka akan terjadi fenomena krisis identitas, dan pada tahap yang lebih ekstrem jika hal semacam itu dibiarkan kita akan kehilangan identitas sebagai suatu bangsa. Maka hal yang diperjuangkan para pahlawan kita di masa lalu akan menjadi sia-sia.

Mengkonsumsi produk kebudayaan asing memang bukan hal yang dikarang, namun akan lebih baik jika kita sebagai pemuda mencoba untuk bukan menjadi sekedar konsumen namun naik tingkat menjadi produsen. Jika mereka mampu memproduksi karya-karya yang memiliki khas kebudayaan bangsa mereka, kenapa kita tidak memperbanyak karya-karya yang merepresentasikan budaya bangsa kita. Sehingga bangsa-bangsa lain bisa melihat budaya Indonesia yang luar biasa kaya. Semua ini akan sangat mudah terjadi jika kita sepakat untuk menghidupkan dan menjaga kesadaran serta semangat kepahlawanan yang pernah ada dalam diri pejuang-pejuang bangsa.

Dengan kesadaran dan menghidupkan nilai-nilai kepahlawanan serta memupuk semangat idealisme dan nasionalisme yang kuat bukan tidak mungkin bangsa kita akan menjadi bangsa yang berdaulat penuh dalam berbagai hal. Baik di bidang politik, ekonomi, hingga kebudayaan. Komitmen penuh terhadap budaya bangsa juga akan menjadikan Indonesia dikenal luas oleh bangsa-bangsa besar karena identitasnya yang tidak luntur dimakan jaman. 

Peradaban boleh berganti rupa, namun semangat harus tetap sama. Dahulu para pahlawan berjuang dengan senjata dan berkorban harta serta nyawa. Saat ini, kita masih harus tetap berjuang, bukan lagi dengan senjata, namun dengan apa yang kita bisa. Kita sama-sama berjuang dengan karya untuk kemajuan bersama. Mari kita bersatu, serupa isi sumpah pemuda, bukan malah saling hina dan mencaci anak bangsa hanya karena perbedaan stigma belaka. Mari kita berjuang dan satukan visi demi Indonesia, bukan hanya sibuk berdebat saja. Demi bangsa yang utuh dan masa depan sejahtera anak-anak Indonesia.

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler