Mengintip Masa Depan Pendidikan Indonesia lewat Visi-Misi Capres-Cawapres Pemilu 2024

Rabu, 25 Oktober 2023 07:13 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Masa depan pendidikan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh program yang dijalankan oleh pemerintah yang berkuasa. Selama ini program pendidikan kerap kali berganti saat pemerintahan berganti. Akan di tahun 2024 nanti pendidikan kita mendapatkan angin segar?

Pendidikan Indonesia sudah kerapkali mengalami bongkar-pasang kurikulum, yang terbaru adalah penerapan kurikulum merdeka yang menggantikan kurtilas (kurikulum tiga belas). Memasuki masa Pemilu persoalan pendidikan Indonesia tampaknya tak menjadi sorotan penting dalam visi-misi Capres-Cawapres yang akan berkontestasi dalam Pemilu 2024 kelak. Padahal sektor pendidikan juga menjadi salah satu sektor vital yang mesti diperhatikan dan dijadikan fokus perkembangan untuk menuju Indonesia maju. 

Banyak negara-negara maju yang memulai kemajuan bangsanya dengan memperhatikan kualitas pendidikan negaranya. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia sendiri menurut data paling mutakhir yang disajikan oleh WorlTop.org, Indonesia menduduki peringkat 67 dari 203 Negara. Hal ini bisa dibilang rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga kita di kawasan Asean yang rata-rata menduduki peringkat 30 besar dunia. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Hal ini tentu menjadi salah satu tantangan capres-cawapres yang kemudian akan mengemban mandat dari rakyat untuk menjalankan fungsi pemerintahan. Sektor pendidikan sangat berpengaruh terhadap masa depan bangsa, masyarakat yang memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik tentu akan mempermudah kemajuan bangsa di bidang lain. Namun, jika angka pendidikan rendah maka masyarakat akan mudah dipengaruhi oleh berita hoax yang tentunya akan menghambat perkembangan Indonesia. 

Dari ketiga pasangan capres-cawapres yang akan beradu di Pemilu 2024 mendatang baru ada dua pasangan yang memberikan clue terkait visi-misinya di bidang pendidikan. Dua pasangan itu yang pertama Pasangan Anis-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud. 

Pasangan Anis-Muhaimin merumuskan visi-misinya dalam bidang pendidikan ke dalam beberapa poin, diantaranya :

1. Memastikan seluruh lulusan SD sederajat dapat melanjutkan hingga SMA sederajat. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan kapasitas di sekolah negeri maupun sekolah swasta.

2. Mempercepat pelaksanaan wajib belajar selama 13 tahun. Artinya, 1 tahun pendidikan anak usia dini (PAUD) dan 12 tahun dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas sederajat.

3. Dengan tingginya angka putus sekolah di Indonesia, Anies dan Muhaimin juga menargetkan untuk memfasilitasi program kejar paket A, paket B, paket C, dan homeschooling. Hal ini dilakukan untuk memperluas akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

4. Anies dan Muhaimin juga berencana untuk memperluas akses sekolah bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus.

5. Menyediakan bantuan bagi anak-anak yang membutuhkan pendidikan dan mengatasi faktor-faktor lain yang mungkin menjadi penyebab tingginya angka putus sekolah di Indonesia.

6. Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) akan tetap dilanjutkan, namun akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah.

Berbeda dengan pasangan Anies - Muhaimin, pasangan Ganjar - Mahfud secara sederhana memiliki visi-misi dalam pendidikan dengan program satu keluarga miskin memiliki satu orang sarjana. Dengan harapan Sarjana dalam keluarga itu akan memutus rantai kemiskinan pada keluarga tersebut. 

Dari poin-poin tersebut saya tertarik untuk membahas salah satu point dalam visi-misi Anies-Muhaimin, yaitu persoalan pendidikan khusus. Di Indonesia sendiri penyelenggaraan pendidikan khusus memang belum begitu luas dan merata, dan masih membutuhkan perhatian secara lebih. Mengingat, Anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang kayak dan dihargai sebagai mana warga negara lainnya.

Program ini jika dijalankan dengan benar pastinya akan menghasilkan iklim pendidikan yang baru dan lebih inklusif. Sedangkan dalam visi-misi yang digadang leh Ganjar - Mahfud yaitu program satu keluarga miskin satu sarjana juga tak kalah menarik untuk disoroti. Pasalnya jika melihat realita yang ada di Indonesia saat ini, angka sarjana yang menganggur juga cukup banyak, dan program ini tentunya mesti didampingi dengan program perluasan lapangan kerja yang cukup. 

Insan pendidikan tentunya sangat mengharapkan pemimpin yang menaruh perhatian lebih terhadap masa depan pendidikan Indonesia. Karena mengingat saat ini Insan Pendidikan seakan tak diperhatikan kesejahteraannya, masih banyak sekolah-sekolah yang fasilitasnya kurang baik dan menunjang. 

Karena itu dalam kontestasi politik mendatang rasa-rasanya sektor pendidikan juga menjadi isi yang "seksi" Untuk diperdebatkan selain isu ekonomi dan hak asasi manusia. 

Sampai artikel ini ditulis visi-misi pasangan Prabowo belum dikeluarkan secara publik sehingga penulis hanya menyoroti program dua pasangan calon saja. 

Semoga siapapun yang terpilih nanti di tahun 2024 bisa membawa pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. 

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler