Kiamat Telah Tiba (84): Di Tepian Sungai Potomac - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Meteoroids are billions of years old

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 24 November 2022 15:34 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kiamat Telah Tiba (84): Di Tepian Sungai Potomac

    Brian O’Doyle menekan pelatuk pistolnya. terdengar suara letusan yang redup oleh peredam. Senjata yang ditembakkan korbannya ke Brian sebagai balasan sama sekali tidak mengeluarkan bunyi, meskipun Brian merasakan sengatan di lengannya. Brian mengamati korbannya jatuh telentang ke tempat tidur. Peluru menembus dahinya.

    Dibaca : 630 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    5 Juli

     

    Brian O’Doyle menekan pelatuk pistolnya. terdengar suara letusan yang redup oleh peredam.

    Senjata yang ditembakkan korbannya ke Brian sebagai balasan sama sekali tidak mengeluarkan bunyi, meskipun Brian merasakan sengatan di lengannya.

    Brian mengamati korbannya jatuh telentang ke tempat tidur. Peluru menembus dahinya.

    Dia melirik lengannya sendiri dan melihat setitik darah. Di lantai di sampingnya tergeletak anak panah yang jelas-jelas menyebabkan luka ringan itu.

    Dia seharusnya menggunakan senjata yang tepat, pikir Brian ketika meninggalkan rumah korban melalui pintu belakang dan mulai berjalan tiga blok ke tempat dia meninggalkan mobilnya.

    Mobilnya diparkir di sisi jembatan Potomac. Brian menuju tei sungai dan melemparkan pistolnya ke air yang mengalir deras.

    Selama beberapa menit terakhir, dia merasa pusing.

    Saat dia kembali duduk di kursi pengemudi mobilnya, dia mulai merasa mual dan penglihatannya menjadi kabur.

    Menatap luka kecil di lengannya adalah tindakan terakhirnya.

    Dia bertanya-tanya, racun apa yang ada di anak panah yang mengenainya.

    Itu adalah pemikiran terakhirnya.

    ***

    Solange menyelesaikan lari satu kilometernya di pusat kebugaran.

    "Kamu benar-benar bugar," kata konsultan kebugaran yang ditugaskan padanya. "Nyaris tak berkeringat."

    “Aku biasanya lari pagi dan sore hari,” jawab Solange. "Saya akan lebih banyak berolahraga mencari flat selama beberapa hari ke depan."

    Pelatihnya diam, tidak ingin mengajukan pertanyaan pribadi yang mengganggu.

    "Aku baru datang dari Montreal, putus dengan pacarku," lanjut Solange. "Menginap di B&B." Dia menatap pelatih. “Kamu bilang kamu tinggal di sekitar sini, Louis. Apakah kamu tahu flat yang kosong?”

    Louis Boudin berhenti sejenak untuk berpikir. Dia tinggal di sebuah rumah besar bergaya villa yang telah diubah menjadi tiga flat. Dia tinggal di salah satu, dan menyewakan dua lainnya. Satunya masih kosong.

    Solange tampak seperti gadis yang baik. Saat dia dan Solange merancang program kebugaran pribadinya, dia mengobrol tentang hidupnya. Dia sekarang tahu lebih banyak tentang Solange daripada yang dia tahu tentang penyewa lainnya.

    Menawarkan flatnya yang kosong akan menghemat segala tetek bengek menyangkut iklan dan wawancara. Lagi pula, dia membutuhkan uang, dan dalam waktu tiga bulan ke depan, mungkin tidak akan ada calon penyewa yang tersisa di planet ini.

    "Berapa lama Anda berencana untuk mengontrak tempat tinggal?” dia bertanya.

    "Setidaknya setahun, kurasa," jawab Solange. "Aku memulai pekerjaan baruku di perpustakaan setempat pada hari Senin, dan saya tidak berencana untuk pindah setidaknya selama satu tahun, selama masa kontrak kerja, setidaknya."

    "Aku menyewa beberapa flat," Louis memutuskan untuk mengambil kesempatan. “Aku punya satu yang kosong. Apakah Anda ingin melihatnya?”

    ***

    Blanc terkagum-kagum dengan DGSE yang mampu menciptakan identitas baru untuk agen dan menempatkan mereka di lokasi dengan cara yang membuat mereka tidak bisa dibedakan dengan orang lain.

    Misalnya, dengan bantuan perusahaan yang dikenal setia kepada Theta, Solange telah menjadi pustakawati yang baru saja kembali dari masa kerja sukarela di luar negeri. Dia telah berpisah dengan pasangannya sekembalinya ke Prancis dan sedang mencari flat.

    Penyidikan menunjukkan bahwa Louis Boudin, pembom Lillebonne dan operator SOUP, memiliki flat dan salah satunya kosong saat ini. Selanjutnya, Solange bergabung dengan gym tempat Louis bekerja sebagai instruktur kebugaran.

    Blanc, sementara itu, telah menjadi agen asuransi yang pernah menjadi kekasih Solange.

    "Dengan senang hati dia melepaskan flat itu kepadaku," kata Solange setelah kembali ke hotel tempat mereka menginap.

    “Apakah dia mengharapkan lebih dari sekadar uang sewa?” tanya Blanc.

    "Ehem ... mengapa aku merasakan aura kecemburuan di sini?" tanya Solange. "Kurasa tidak,” lanjutnya. "Aku hanya berpikir dia ingin cepat-cepat melepaskannya."

    'Tentu saja, dia berpikir setidaknya untuk tiga bulan,’ kata Blanc, ingat pada asteroid yang akan datang.

    "Itu jelas akan menjadi hal utama dalam pikirannya," jawab Solange.

    "Kita bisa balikan, dan aku bisa pindah bersamamu," saran Blanc.

    "Bukan ide bagus, Sayang," jawab Solange. "Kalau dia mengenalmu, maka kamu tidak akan bisa membuntutinya."

     

    BERSAMBUNG

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.