Episode Nirmana - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Photography by Tasch 2022

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Kamis, 24 November 2022 21:00 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Episode Nirmana

    Cerpen Episode Nirmana. Niskala peristiwa imaji. Kau lihat gugusan awan-awan memeluk bukit-bukit, tak terhingga. Aku tidak bisa membayangkan. Jika putaran ekosistem semesta mendadak berhenti.

    Dibaca : 369 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tafakur. Di hening tanpa batas.

    Bahagia. Mungkin, di kegembiraan tanpa batas. Mungkin, ada juga kekejaman tanpa batas.

    Lintasan berbagai peristiwa, ada, sejak janin di dalam kandungan, dilahirkan, masa pertumbuhan, hanya perasaan-perasaan semirip kegembiraan, riang hati, hingga usia balita menuju akil balig. 

    Waktu tempuh menuju dewasa, kegetiran, asam manis, hitam putih, pahit asin, warna warni, musikalisasi keadaban. Pantun mengalun merangkai gurindam, tertulis sajak-sajak kehidupan.

    Ia bersimpuh. Bersujud. Di pusaran zikir alam raya.

    Daulat hati kembali mengukir kisah-kisah di waktu tempuh. "Tidak diragukan lagi." Petugas penyidik, tegas. Tim petugas segera mengevakuasi jenazah. menuju autopsi. Suara sirene ambulans mengangkasa. 

    "Identitas." Tegas fokus.

    "Fakta mendukung. Teridentifikasi. Data telah terperinci oleh tim forensik." Lantas keduanya meninggalkan lokasi. 

    Tanah di tempat kejadian, saksi perjalanan, saatnya nanti pasti 'kan bertanya. 

    **

    Bunga pengantin dilemparkan keangkasa, modernisme, berebutan menangkap makna. "Jodoh!" Suara renyah saling berdampingan. 

    Mereka, berbagi bunga. "Nih, biar jodohnya menyebar." Suara-suara kegembiraan, bahagia, pecah telur masa lajang, di pelaminan.

    "Dia masih ganteng."

    "Masih merindu?"

    "Enggaklah. Sudah lewat masa kampus. Anakku dua. Anakmu?"

    "Mau tiga. Nih baru telat tiga minggu."

    "Kau tak terlihat mengidam."

    "Dari dulu aku 'kan badak. Itu, membuat mantanmu jadi suamiku." Lantas keduanya, menderaikan tawa kebahagiaan. Kereta dalam kota membawa kerumah impian masing-masing.

    **

    Waktu berjalan sebagaimana mestinya. Cuaca kehidupan menentukan harapan, demikian pula sebaliknya. Sebagaimana alam senantiasa memberi kebaikan, diperlukan keseimbangan, telaah hidup, menentukan tujuan-tujuan, saksama.

    "Kau lihat gugusan awan-awan memeluk bukit-bukit tak terhingga. Aku tidak bisa membayangkan. Jika putaran ekosistem semesta mendadak berhenti."

    "Gravitasi berhenti?"

    "Ya."

    "Jangan dong. Nanti enggak bisa naik gunung lagi." Keduanya memandangi Kaleidoskopis gambar-gambar panorama pagi nan indah nun sebatas pandangan mata di kurva horizon. Sejauh, kearifan mereka pada alam. 

    ***

    Jakarta Indonesiana, November 24, 2022.  

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.