Seni dan Pelangi - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Digital Photography by Tasch 2019.

Inayatillah Nafisah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2022

Senin, 28 November 2022 06:21 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Seni dan Pelangi

    Untaian kata sederhana hasil renungan dari tugas mata kuliah Bahasa Indonesia, berharap bisa memberikan sedikit hikmah dan makna kepada para pembaca nun jauh disana.

    Dibaca : 372 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ilmu adalah sesuatu yang mulia dan paling berharga di dunia. Menuntut ilmu merupakan kegiatan yang kulakukan sejak kecil. Membaca adalah hobi yang melekat dengan jiwaku. Bersyukur kedua orangtuaku sangat memprioritaskan pendidikan dan memberikan fasilitas yang sangat luar biasa. Tetapi, satu hal yang membuatku kecewa, aku tidak bisa memilih bidang ilmu yang kuinginkan.

    Orangtuaku ingin aku menjadi pelukis. Hal itu sempat menjadi beban pikiran dan menyebabkan aku frustasi. Tetapi aku sadar dan merasa kasihan terhadap orangtuaku. Mereka sangat menggemari lukisan dan terobsesi dengan salah satu pelukis terkenal. Tanpa banyak berpikir lagi, aku pun menerima keputusan orangtuaku untuk menempuh pendidikan seni.

    Sebetulnya yang menjadi masalah bukanlah pendidikan seninya, tetapi spesifikasi seni lukis tersebut yang bertentangan dengan agama yang kupelajari. Dimana aku mulai mendalami ilmu agama dan aktif di berbagai kegiatan kajian ilmu. Lukisan-lukisan yang digemari orangtuaku adalah jenis lukisan mahluk hidup. Mereka ingin sekali aku menjadi penerus pelukis terkenal itu yang selalu menggambarkan wanita dan pria dalam lukisan-lukisannya.

    Suatu hari dalam keraguan yang kuhadapi, aku menemui salah seorang ustadzah yang bisa memberikan solusi untuk masalahku ini. Ustadzah itu memberiku saran melatih jari-jariku untuk membuat sketsa pemandangan. Beliau berpikir orangtuaku dapat melihat lukisan pemandanganku yang tak kalah menarik dengan lukisan lain. Itulah salah satu cara memberikan pemahaman kepada orangtuaku bahwa melukis mahluk hidup dilarang dalam islam.

    Sejak itulah aku mulai melatih keterampilan melukis pemandangan. Aku mulai terbiasa dan mulai mengumpulkan lukisan-lukisan tersebut untuk dipamerkan. Di samping itu, aku mencoba memberi pengertian kepada orangtuaku tentang keluh kesahku ini. Tetapi mereka tidak menerimanya dengan baik.

    Di pagi yang cerah, minggu akhir di bulan desember. Tiba tiba Ibuku mengabari akan hadir ke acara pameran lukisan yang kuadakan nanti siang. Hatiku senang mendengarnya, aku bertekad untuk menunjukan lukisan terbaikku kepada mereka. Akan tetapi, semuanya tidak terjadi sesuai harapanku.

    Selesai pameran, orangtuaku datang mengampiri. Mereka kecewa dan merusak sebagian lukisan-lukisanku. Ayahku mengancam untuk berhenti membiayai pendidikanku. Tapi, perlakuan buruk mereka tidak serta merta kubalas dengan perlawanan, kucoba untuk tetap tenang dan memperlihatkan sikap yang santun, kutau mereka tidak pernah membenciku, ini hanyalah masalah waktu, akan kubuktikan bahwa aku bisa menjadi lebih baik dengan cara terbaikku, dengan jalan yang diridai Allah Subhanahu Wata’ala.

    Setelah kejadian di pameran hari ini, ayah dan ibu mulai bersikap dingin kepadaku. Sebagai anak tunggal, ini sangat menyakitkan, aku merasa tersudutkan. Hanya sajadah dan mushaf mungil kesukaanku yang menjadi penawar sedih ini. Tak henti lisanku untuk selau berdo’a, agar ayah ibu segera diberi hidayah oleh Sang Maha Pencipta, agar tahu kebenaran bahwa keinginan yang mereka paksakan terhadapku itu dilarang oleh agama.

    Sesekali aku mendatangi ustadzahku dan meminta pendapatnya, bagaimana cara terbaik untuk bisa mengambil hati orangtuaku, mau mendengar apa yang aku inginkan, kebaikan untuk keduanya. Ustadzah dengan senyum khasnya tetap dengan jawaban pertamanya, ia menyuruhku lebih bersabar menghadapi ujian ini, lebih istiqamah lagi, tidak mudah berubah dan berputus asa, tetap bersikap santun kepada keduanya. Hal ini yang selalu menjadi penguat dikala aku sedih.

    Ancaman ayah untuk tidak membiayai pendidikanku di hari itu memang sekedar bukan ancaman belaka, menjelang UAS ini aku belum diberinya uang kuliah, bahkan jajan pun kadang dikasih kadang tidak. Beruntungnya sedari kecil aku sudah dibiasakan untuk menabung oleh ibuku, dan itu berlanjut sampai sekarang, itulah yang kubayarkan untuk SPP kuliahku semester ini. Dalam hatiku berkata, “Ya Allah, aku yakin bahwa ujian itu sepaket dengan solusinya, hanya manusia terkadang tidak sabar menanti kapan berakhirnya”

    Hari demi hari kulalui dengan tidak seutuhnya, tapi aku coba untuk tetap bertahan. Kuasah kemampuanku melukis pemandangan, berlatih dan bersungguh-sugguh, aku berharap  bisa mengadakan pameran seni, minimal sekali dalam sebulan. Dengan tekun aku terus berusaha mengasilkan karya terbaik. Benar saja, hampir setiap bulan aku mengadakan pameran seni, dan pengunjungnya pun semakin ramai. Dari hasil pameran ini kutabung untuk biaya kuliah dan keperluan lainnya, selebihnya kusisakan untuk anak-anak yatim di yayasan dekat kampusku.

    Suatu hari aku mendapatkan telepon dari salah seorang panitia pameran seni nasional yang diadakan di Jakarta, menawarkan untuk menampilkan beberapa karyaku disana. Sontak kuterkejut, hal yang tak pernah terfikir sebelumnya. Ternyata salah seorang pengunjung setia pameran setiaku mengambil video disetiap pameran yang kuadakan dan mengunggahnya diakun media sosial tiktok miliknya, bahkan salah satu video tersebut sempat menjadi viral. Kurasa inilah yang melatarbelakangi adanya tawaran yang kudapatkan hari ini.

    Berita bahagia ini kusampaikan kepada ayah dan ibu, bukti bahwa aku bisa membanggakan mereka dengan caraku. Perjuanganku akhirnya tidak sia-sia, ayah dan ibu spontan memelukku dan meminta maaf atas perlakuannya kepadaku selama ini. Ibu menyampaikan, bahwa diam-diam mereka terkesan dengan sikapku yang santun dan tetap menghormati mereka, dan mulai tergerak untuk mengikuti kajian sunnah dan berniat memperdalam ilmu agama. Betapa bahagianya aku ketika mendengar hal itu, spontan aku bersujud syukur, akhirnya ayah dan ibuku mendapatkan hidayah.

    Sehari setelah wisudaku digelar, ayah menyampaikan sesuatu yang sangat mengejutkanku. Ayah bilang bahwa ada seorang pria yang datang melamarku, dan ingin segera membawaku ke pelaminan. Sontak kubertanya siapa orang itu. Kerena memang aku tidak pernah menjalin hubungan khusus sebelumnya. Ayah bilang, pria itu adalah pengunjung setia pameranku, dia juga pemilik akun tiktok yang selalu mengunggah video lukisanku yang sempat menjadi viral.

    Ayah juga bilang, ternyata dia sudah lama mengangumiku, bahkan tahu seluk beluk permasalahan antara aku, ayah dan ibu. Dia salut dan terpesona melihat pribadiku yang begitu kuat, dan istiqamah disetiap keadaan. Mendengar hal itu, aku hanya tersenyum dan berkata didalam hati,”Ya Allah kejutan apalagi ini, dia kan sosok pria yang aku idamkan sejak pertamakali masuk kampus, di saat dia memberikan kajian di masjid kampusku. Pria yang selalu ada di do’aku”.

    Akhirya aku menikah dengan pria yang sudah lama kuidamkan, yang tenyata juga diam-dian menyimpan rasa dan menginginkan aku menjadi teman hidupnya. Alhamdulillah kami dikaruniai tiga orang anak yang lucu-lucu. Ayah dan ibuku akhirnya memutuskan untuk berhijrah, dan hidup dibawah naungan sunnah. Alangkah bahagianya hatiku dan tak bisa tergambarkan dengan kata-kata. Hanya kata syukur yang tak henti-hentinya membasahi lisanku. Inilah hasil dari buah kesabaranku selama ini. Memang Allah adalah sebaik-baik pelukis skenario hamba-Nya. Kepahitan hidup tidak akan selamanya, ada saatnya pelangi itu menampakkan wujudnya nan indah, menebar bahagia tak terkira, hingga hati lupa bahwa ia pernah terluka.

    Ikuti tulisan menarik Inayatillah Nafisah lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.