Percakapan Imajiner (15) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Pinterest

Dien Matina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Selasa, 6 Desember 2022 21:05 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Percakapan Imajiner (15)


    Dibaca : 979 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Anomali hujan dan sepi 

     

    Malam ini kita berbincang, tentang sinisnya hujan bulan November yang tak sehebat hujan di bulan Juni. Hanya sekedar lebat dan sedikit meluruhkan gelisah, tetapi lebih banyak membangunkan rindu yang entah. 

    Di kepala, sajak-sajak membentur dinding. Sakit? Ya, ada beberapa lebam yang kita biarkan saja. 

    Mungkin tak peduli, mungkin juga tak dipahami. Tetapi mungkin saja kesibukan-kesibukan hidup membuat kita hanya mampu manafsirkan sepi, tanpa mengerti di mana akan berhenti, sekedar singgah, atau kembali berlalu menyusuri sisa waktu. 

    Kemarilah, dekatlah padaku, akan kita selesaikan kesedihan ini. Sederhanakan segala sepi, sebab mengurainya hanya akan melelahkanmu. Larutkan saja dalam cangkir-cangkir kopi kita, dan nikmati tiap cecapnya sebagai cinta. 

     

     

     

    ***

     

     

     

    Kelak kita akan saling menemukan 

     

    Seharian ini aku tak ke mana-mana, di sini saja. Rehat dari penat. ⁣Mungkin esok perjalanan akan kulanjutkan. ⁣ 

    Perihal waktu, ia menyimpan imajiku dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, percakapan denganmu misalnya. ⁣

    Kau paham kan, selalu ada pesan pada tiap pertemuan. Tentang apa-apa yang terlupa, angan ingin yang kadang dingin, rindu yang candu, dan tentang saling menjadi cermin atas satu sama lain. ⁣

    Kelak kita akan saling menemukan. Entah sebagai berkat yang saling melengkapi, entah sebagai puisi-puisi yang hanya dibaca sesekali.  

     

     

     

    ***

     

     

     

    Pulang 

     

    Seorang laki-laki berjalan resah. Sepanjang perjalanan ia meracau. Kadang diam menunduk, kadang tergelak menertawai diri sendiri, kadang menangis di pelukan lengannya sendiri. Ada apa dengan perjalanannya, jika arti rumah adalah tatapan seorang perempuan yang jauh di seberang. 

     

     

    Di sebuah kota yang membeku, sebab musim dingin kali ini lebih lama dari biasanya. Seorang perempuan menatàp jalanan dari jendela lantai lima tempat kerjanya. Salju dimana-mana. Dingin menusuk tulang. Sambil merapatkan jaket dan memasukkan kedua tangannya ke saku, diingatnya lagi pertemuan sederhana suatu sore, tigapuluh menit sebelum masuk studio lima sebuah gedung film.  

    Laki-laki jangkung bermata murung. Yang jika menatapnya dalam-dalam, bening coklat retinanya akan menceritakan sekian kisah. Timbunan lelah memenuhi lingkar matanya pun pundaknya yang sarat sepi yang menyakiti. Terlalu redup dan nyaris padam. Satu yang menyala di dirinya, harap. Entah pada siapa. Seringnya ia sembunyikan di kaku garis senyumnya. 

    Bertahun-tahun setelahnya hidup membawa perempuan itu pergi menjauh, sejauh-jauhnya untuk lupa. Lupa akan pelukan dalam diam sepanjang film diputar. Genggaman yang seolah menjadi janji untuk saling menunggu. Menunggu kembali pulang dalam kedalaman rindu masing-masing. Membangun apa-apa yang tak sekedar suka.

     

     

     

    ***

    Ikuti tulisan menarik Dien Matina lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.