x

Grasia Apriyani

Iklan

Topas adrian

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 Desember 2022

Jumat, 16 Desember 2022 09:15 WIB

Mendapat Bonus Fantastis, Apakah jadi Atlet Merupakan Masa Depan yang Menjanjikan?

Setiap atlet yang berprestasi di Indonesia, layak diapresiasi setinggi-tingginya. terlebih, jika atlet tersebut memiliki prestasi yang mengharumkan nama bangsa.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Orang tua dulu pernah bilang, "Kamu kalau jadi atlet itu ga makanm lho, makanya sekolah aja yang bener ga usah jadi atlet”.

Mungkin inilah jawaban kebanyakan orang tua kita Ketika ditanya anaknya yang mau berfokus menjadi seorang atlet. Maklum di Indonesia masa depan atlet masih belum terjamin, dikarenakan tidak ada jaminan dari pemerintah mengenai nasib seorang atlet ketika masa jaya mereka telah habis atau mereka memutuskan untuk pensiun.

Di Indonesia banyak masyarakat yang memuji, menyanjung atau bahkan selalu membahas seorang atlet Ketika prestasi mereka berada dalam masa puncaknya. Namun berkebalikan Ketika prestasi meredup, mereka seolah dilupakan. Parahnya lagi mengenai masa depan mereka, karena sulitnya mendapat hak-hak yang seharusnya didapat seorang pensiunan atlet setelah apa yang mereka lakoni selama menjadi atlet.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Keputusan atlet pensiun adalah hal yang lumrah dilakukan karena memang masa karir seorang atlet tidak Panjang. Berbeda dengan sekolah yang semakin tinggi gelar yang didapat seseorang, maka orang itu akan semakin dihargai, namun khusus untuk olahragawan mereka memiliki jangka waktu yang relatif singkat untuk karir mereka. Masa puncak karir bagi seorang atlet umumnya ada si usia 20 sampai 30 tahun. Itupun relatif, ada yang usianya menginjak 40 tahun pun, masih bisa bersaing di 5 besar dunia. Tergantung dari faktor internal seorang atlet itu sendiri atau pun faktor eksternal yang sulit mereka kontrol.

Mantan pebulutangkis tunggal putra Indonesia Taufik Hidayat turut berpendapat soal bagaimana nasib atlet kedepannya setelah mereka pensiun. “Olahraga itu ada batas waktu dan usianya kan, beda dengan sekolah S1, S2, S3 semakin tinggi gelar mereka akan semakin dihormati, tetapi olahragawan khususnya di Indonesia cepat diingat dan cepat dilupakan,” ujar peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 (dalam Close the Door, Deddy Corbuzier, yang diunggah 11 Mei 2020).

Pemerintah seharusnya serius memperhatikan nasib atlet yang telah pensiun dengan memberikan penghargaan atau tunjangan pensiun. Kemenpora harusnya mendata ulang para pensiunan atlet yang memiliki prestasi dari mulai tingkat nasional, regional maupun Internasional. Bonus ataupun tunjangan yang diberikan juga disesuaikan sesuai dengan prestasi yang telah dicapai oleh para atlet.

Pada gelaran Olimpiade Tokyo 2020 atlet yang membawa pulang medali diapresiasi oleh pemerintah berupa bonus atas prestasi yang diraih. Peraih medali emas Olimpiade Tokyo, pasangan ganda putri bulu tangkis Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, masing-masing mendapatkan bonus sebesar Rp5,5 miliar. Sementara itu peraih medali perak Eko Yuli Irawan (angkat besi kelas 61 kilogram) mendapatkan bonus sebesar Rp2,5 miliar.

Adapun atlet-atlet peraih medali perunggu, yakni Windy Cantika Aisah (angkat besi 49 kilogram putri), Rahmat Erwin Abdullah (angkat besi 73 kilogram putra), dan Anthony Sinisuka Ginting (bulu tangkis tunggal putra) masing-masing mendapatkan bonus sebesar Rp1,5 miliar.

Selain para atlet tersebut, para pelatih dari masing-masing peraih medali juga mendapatkan bonus apresiasi. Pelatih peraih medali emas mendapatkan bonus sebesar Rp2,5 miliar, pelatih peraih medali perak mendapatkan bonus sebesar Rp1 miliar, dan pelatih peraih medali perunggu masing-masing mendapatkan bonus sebesar Rp600 juta. Di samping itu, seluruh atlet dan pelatih yang telah lolos kualifikasi dan turut berlaga di Olimpiade Tokyo namun belum mendapatkan medali juga turut mendapatkan bonus apresiasi masing-masing Rp100 juta.(dilansir dari Kominfo dalam artikel Presiden Serahkan Bonus Apresiasi bagi Atlet Indonesia di Olimpiade Tokyo)

Namun, apakah apresiasi itu semua hanya diberikan ketika mereka berada di masa puncaknya ? Mereka tetap membutuhkan kesejahteraan yang berkelanjutan untuk menunjang dari segi ekonomi dan kebutuhan mereka. Bahkan, bukan hanya Ketika mereka sudah pensiun, mereka juga harus mempersiapkan bekal mereka untuk di masa senja mereka. Karena setelah apa yang mereka semua lakukan untuk membela Merah putih berkibar di pentas dunia, mereka layak dan patut diapresiasi selalu oleh Bangsa ini.

Sudah seharusnya pemerintah memprioritaskan olahraga, karena hanya dengan olahraga yang dapat mengibarkan Merah putih untuk dan itu disaksikan oleh negara-negara lain. Negara lain pun saat ini turut memprioritaskan olahraga karena hanya dengan olahraga, mereka mampu menaikan harkat dan martabat bangsanya dihadapan bangsa-bangsa lainnya.  

 Memfasilitasi setiap atlet baik semasa atlet itu aktif ataupun setelah mereka pensiun menjadi peran dan tanggung jawab pemerintah agar setiap orang yang berkeinginan untuk berkecimpung pada dunia keolahragaan merasa hidupnya terjamin dengan hak nya sebagai pahlawan yang membela nama negara dengan susah payah. Mereka merasa aman karena kesejahteraan mereka setelah mereka pensiun dijamin oleh pemerintah.

Hal ini penting karena akan memunculkan regenerasi penerus yang baik. Karena  Mereka tidak bimbang Ketika mereka remaja mereka harus memilih 2 hal, fokus sekolah atau menjadi olahragawan. Mereka juga bisa memiliki perencanaan jangka panjang yang jelas terkait karir mereka, dan mereka tidak lagi merasa bimbang ketika harus berhadapan dengan resiko kegagalan yang akan mereka temui apabila karirnya tidak sesuai harapan, dan mereka tidak khawatir untuk melanjutkan karirnya di bidang lain pada saat mereka gagal atau nanti selepas mereka memutuskan untuk berhenti menjadi sorang atlet.

Ikuti tulisan menarik Topas adrian lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini