Kiamat Telah Tiba (106): Kembali ke Outreau - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Meteoroids are billions of years old

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 3 Januari 2023 20:11 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kiamat Telah Tiba (106): Kembali ke Outreau

    Aimee menggunakan tractor beam untuk membawa Solange dan Blanc ke Starcruiser Two, bergabung dengan Jules, Vivienne, Mireille. Uskup Sakarov tetap berada di Kaunas untuk berbicara dengan pers setelah serangan terhadap katedral.

    Dibaca : 538 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    11 September, Hari Kiamat

     

    Aimee menggunakan tractor beam untuk membawa Solange dan Blanc ke Starcruiser Two, bergabung dengan Jules, Vivienne, Mireille.

    Uskup Sakarov tetap berada di Kaunas untuk berbicara dengan pers setelah serangan terhadap katedral.

    “Apa yang akan kita lakukan?” kata Blanc. “De Gaulle tenggelam, ruang kendali Kaunas runtuh.”

    Dia berbalik ke arah Vivienne. "Apakah kita tahu tentang lokasi ruang kendali Outreau?"

    “Tidak,” kata Vivienne, “tapi itu satu-satunya harapan kita.” Dia melirik Mireille.

    Mireille berbicara kepada starcruiser, “Aimee, bawa kami ke Outreau dan kirim pesan ke Beta, Boris, dan Elena untuk menemui kami di rumahku. Kita bisa menyembunyikan Starcruiser Two di danau di hutan.”

    “Apakah kerahasiaan itu masih penting?” tanya Jules.

    "Kurasa begitu," jawab Vivienne. “Jika penduduk lokal menjadi penasaran atau ketakutan, mereka hanya akan menjadi halanngan, dan tidak ada waktu untuk menjelaskannya.”

    ***

    Satu jam kemudian, Jules berdiri bersama Mireille, Vivienne, Blanc, dan Solange di tempat rekreasi yang berbatasan dengan hutan di Outreau.

    "Allo, Sayang," kata seorang wanita tua yang sedang berjalan-jalan dengan anjingnya.

    "Oh, Allo, Madame Celeste," kata Mireille.

    “Apakah kalian menikmati liburan panjang kalian di Asia?” tanya Madame Celeste.

    "Oui, Madame," jawab Mireille.

    Liburan Asia telah menjadi cerita karangan DGSI untuk menjelaskan ketidakhadiran dia dan Jules yang berkepanjangan.

    "Kami merindukanmu di sekitar sini," lanjut Madame Celeste. “Mungkin kamu bisa berbicara sedikit tentang perjalananmu di Arisan pada hari Selasa minggu depan. Madame Juliette akan berbicara tentang merenda, tetapi encoknya membuatnya tak bisa hadir.”

    “Pardon, Madame Celeste,” kata Vivienne, “tapi kami benar-benar harus pergi.”

    Madame Celeste memandang kelompok kami dengan rasa ingin tahu. "Oh, allo, Monsieur Moreau," katanya ketika mengenali Jules.

    “Senang bertemu Anda, Madame Cedleste,” jawab Jules.

    Jelas, tampak aneh baginya bahwa Mireille, Jules, dan tiga orang asing tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan di tempat rekreasi. Tetapi dia berhasil menahan rasa penasarannya untuik ditanyakan nanti. "Sampai nanti, Sayang," katanya kepada Mireille sambil berbalik untuk mengikuti anjingnya.

    Selama penerbangan, kami berlima telah berusaha merumuskan rencana aksi. Kami telah menyetujui untuk ke rumah Mireille untuk berkumpul dengan yang lain dan untuk minum. Tindakan setelahnya, lebih sulit untuk direncanakan karena kami tidak tahu harus mulai dari mana.

    Mireille dan Jules sudah lama tinggal di Outreau dan mengenal Thomas Lambert. Meskipun demikian, mereka tidak tahu apa-apa tentang pangkalan peluncuran yang seharusnya dia dirikan di desa. Juga, desa itu tidak terlalu besar. Di mana dia akan meletakkannya, dan mengapa tidak ada yang menyadarinya ketika dibangun atau dipasang peralatan?

    Kami sedang berjalan menuju rumah Mireille ketika ponsel Vivienne berdering. Dia mendengarkan tanpa berbicara.

    "Merci," katanya akhirnya dan menutup telepon. "Teleskop Atacama di Chili Utara baru saja melaporkan sebuah asteroid menuju Bumi dari arah Orion," katanya.

    Tidak ada yang mengatakan apa-apa. Semua yang bisa dikatakan sudah terlalu jelas.

    Beberapa saat kemudian sebuah mobil berhenti di samping mereka. Jules melihat Elena di belakang kemudi. Christian dan Vladimir berada di kursi belakang. Seorang pria lain turun dari kursi penumpang depan.

    Aku melihat Vivienne menatapnya dan tersenyum. "Ah, datang tepat waktu, Beau," katanya. “Sudah saatnya.”

     

    BERSAMBUNG

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.