x

ilustr: roberthammel.com

Iklan

Imelda Zalsabila

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 Januari 2023

Kamis, 19 Januari 2023 06:54 WIB

Pentingnya Mengendalikan Emosi Dalam Diri

Mengendalikan emosi merupakan hal yang sangat penting. Dalam kehidupan sehari-hari setiap individu harus bisa menerapkan dan menguasai pengendalian emosi dalam diri, karena dengan demikian membuat diri menjadi sehat secara fisik dan mental juga semakin baik dalam berhubungan sosial di lingkungan manapun.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Setiap individu memiliki caranya sendiri untuk mengekspresikan segala sesuatu yang sedang dirasakannya. Perubahan fisik yang ditimbulkan oleh emosi bersifat lebih dalam dibandingkan dengan perasaan. Chaplin (Manizar. 2016) mengatakan bahwa emosi adalah keadaan dan reaksi dari rasa seperti takut, marah, cemburu, duka, gembira, ingin tahu, dan kasih sayang. Individu yang baik adalah seseorang yang mampu mengontrol emosi positif maupun negatif. Stabilitas secara fisik maupaun mental dapat dicapai ketika kondisi emosi terkendali. Perasaan dan emosi sering kali disamakan, namun keduanya berbeda. Kemudahan individu dalam memberikan respon emosi terhadap situasi dan sesuai dengan ukuran rangsangan situasi yang diberikan serta sesuai dengan besar kecilnya rangsangan situasi yang menumbuhkan reaksi emosional disebut dengan stabilitas emosi menurut Sherman (Azmi. 2021). Emosi mempunyai fungsi yang penting dalam kehidupan manusia sebab bia mempengaruhi cara individu berpikir, merasa, dan bertindak.

Kondisi emosi yang stabil membuat pikiran menjadi terkendali dan positif dalam menanggapi suatu masalah. Kondisi yang demikian membuat tubuh menjadi sehat, karena kebanyakan penderita penyakit serius bila ditelusuri lebih lanjut akar permasalahan utamanya berasal dari pikiran. Emosi yang tidak terkendali dapat menyebabkan masalah juga dalam interaksi sosial, menurunkan kualitas hidup, dan merusak kesehatan fisik dan mental. Oleh karena itu, mengendalikan emosi diri menjadi hal yang penting untuk dilakukan.

Masa peralihan kedewasaan pastinya sulit untuk semua individu. Siapapun dia dan dengan latar belakang manapun pasti memiliki masalahnya masing-masing. Dalam menanggapi masalah setiap individu memiliki caranya tersendiri, ada yang dengan mudah mengambil keputusan secara tepat dan tepa tatas sebuah masalah Adapun juga yang sebaliknya. Sulit sekali memutuskan suatu masalah apalagi bila dirinya tengah dipenuhi emosi dalam pikirnya. Menurut Ben-ze’ev (Nadhiroh. 2015) perubahan situasi yang drastis atau tiba-tiba akan menimbulkan terjadinya emosi baik itu positif maupun negatif. Perhatian yang terpusat pada satu obyek juga menimbulkan munculnya emosi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dalam kehidupan sehari-hari tidak dipungkiri dapat ditemui peristiwa-peristiwa atau sebuah perubahan yang akan memancing munculnya emosi yang berupa respon atas sebuah peristiwa yang dialami individu. Namun, dalam pengimplementasiannya jika tidak dilakukan dengan baik emosi bisa menimbulkan berbagai masalah karena apa yang diekspresikan oleh suatu individu baik cara pandang, tingkah laku, dan interaksi sosial bisa terpengaruh apalagi bila emosi tersebut negatif. Ketika respon yang dikeluarkan tidak sesuai ekspektasi perseorangan lain, maka Impact yang didapat pihak perespon akan buruk dan bahkan dijauhi dari lingkungan sosial tempatnya berada. Peristiwa seperti inilah yang memicu seseorang menjadi introvert, stress, bahkan puncaknya bisa mengalami depresi diusia dini. Selain masalah mental, kesehatan fisik juga bisa terganggu dikarenakan amarah yang akhirnya membuat individu mengalami tekanan darah tinggi, sakit jantung bahkan stroke. Ketika cemas suatu individu juga akan mengalami insomnia dan masalah pencernaan. Demikian juga depresi, apabila tidak terkendali individu tersebut akan mendapat gangguan kecemasan akut. Dari paparan yang telah dijelaskan, maka sebaiknya setiap individu aware dan mau mengendalikan emosi yang ada pada dalam dirinya.

Menurut Ustman Najati (Nadhiroh. 2015) pengendalian emosi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, dengan displacement (Pengalihan) Mengalihkan atau menyalurkan emosi kepada hal atau kegiatan lain. Dalam prosesnya dapat dilalui dengan kataris dan manajemen anggur asam (berpikir rasional). Kataris adalah pelampiasan emosi ke luar dari individu supaya agresi, ketakutan dan juga kecemasan dapat berkurang. Pengalihan dengan cara kataris dibagi menjadi dua, yang pertama yaitu dengan melampiaskan marah yang menggebu-gebu seperti membanting gelas, memukul dinding, dan membentak orang lain yang tidak terlibat dalam masalah. Yang kedua, dilakukan dengan menyiram tanaman, bersih-bersih, jalan-jalan, dan membaca buku. Selanjutnya manajemen anggur asam yang maksudnya adalah mengalihkan diri dengan menggunakan alasan yang masuk akal (rasional) sehingga menenangkan hati. Dengan manajemen ini, kesehatan jiwa menjadi baik sehingga tidak semua masalah direspon secara eksplosif atau negatif.

Kedua, dengan cognitive adjustment (Penyesuaian kognitif) Cara ini digunakan untuk menilai sesuatu secara subyektif sehingga dapat disesuaikan dengan pemahaman yang diinginkan. Cara yang efektif dalam metode ini adalah berempati, dalam bahasa sehari-hari dapat diketahui istilah simpati dan empati. Keduanya memiliki perbedaan pada tingkat intensitasnya. Jika hanya sekedar mencoba mengetahui permasalahan orang lain, maka ia sedang bersimpati. Tetapi jika mencoba memahami lebih jauh, maka ia sedang berempati.

Ketiga, coping (menanggulangi, menerima, menguasai) . Coping merupakan tindakan individu dalam mengatasi, penerimaan atau penguasaan sebuah keadaan yang tidak diinginkan (masalah). Teori psikologi menjelaskan ada dua cara coping, yaitu emotional focus coping yang berarti fokus mengatasi emosi yang sedang dirasakan, dan problem focus coping yang secara berarti fokus mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Terdapat tiga cara dalam pengendalian emosi dan menanggulangi masalah, yaitu dengan sabar dan bersyukur serta pemaaf. Cara terbaik untuk mengatasi kesedihan yang berlarut adalah dengan sabar.

Keempat, Deep breathing (Bernapas dalam) deep breathing adalah salah satu cara yang dapat digunakan dalam praktik pekerjaan sosial. Deep breathing merupakan salah satu cara untuk relax yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar emosi yang dialami oleh pasien. Berikut ini merupakan langkah-langkah untuk melakukan deep breathing, pertama, duduk dengan posisi nyaman dengan memejamkan mata. Kedua, tarik nafas secara perlahan sembari menyebut nama Allah dalam hati lalu keluarkan nafas dari hidung dan mulut secara perlaha dengan mengucap “alhamdulillah” dalam hati. Lakukan dengan penghayatan dan serius. Ketiga, ulangi langkah kedua tiga sampai lima kali. Keempat, buka mata secara perlahan supaya emosi semakin teredam dan tubuh relax (Santoso. 2019).

Mengendalikan emosi nyatanya sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain diterapkan pengendalian emosi harus dikuasai secara matang oleh setiap individu. Berbagai cara yang ada dapat dipilih dan diterapkan perlahan dalam keseharian. Individu yang konsisten dalam mengendalikan emosinya akan mendapat dampak positif untuk dirinya. Dengan emosi yang stabil kesehatan diri akan meningkat baik fisik maupun mental. Orang sekitar juga akan mau bersosialisasi dikarenakan aura dan sikapnya yang selalu positif. Dengan menjaga kestabilan emosi, seseorang akan tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa sehingga dalam kesehariannya baik dilingkungan sosial ataupun lainnya bisa mendapatkan banyak relasi. Aura positif yang terpancar sangat kuat akan menjadikannya daya tarik yang akan diminati. 

Ikuti tulisan menarik Imelda Zalsabila lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB