Percakapan Imajiner (38) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Pinterest

Dien Matina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Sabtu, 21 Januari 2023 07:21 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Percakapan Imajiner (38)


    Dibaca : 321 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kepada seseorang yang padanya kutitipkan ketidakmungkinan yang selalu kusemogakan

     

    Tiga tahun sebelum kutuliskan surat ini dan tiga tahun setelahnya bahkan mungkin lebih, perasaanku akan tetap sama. Jika mungkin, aku ingin kamu memiliki perasaan yang sama, meski aku sadar ini mungkin hanya angan-angan. 

    Sesungguhnya perasaan ini rahasia. Butuh nyali lebih untuk mengatakannya langsung kepadamu, karena itulah aku menulis surat. Sekadar menumpahkan rasa dan berharap timbunan mimpi yang kubangun tak menguap sia-sia.  

    Sejak mengenalmu hari-hariku tak lagi sama. Pertemuan demi pertemuan adalah haru yang candu. Tatapmu itu semacam rindu, hatiku meremang girang. Di lengkung senyummu kuselipkan sayang, lembar demi lembar, dan berharap menjadi buku yang di dalamnya hanya ada kita. Maaf jika aku menyimpan sayang. Tak mampu kucegah. Ya, aku memang payah. Perasaan ini membawaku pada seruang terang penuh kau di dalamnya. Kamu, boleh ya kutuliskan ini untukmu. Bacalah.. 

    Aku menemukanmu di mana-mana. Aku menemukanmu dalam puisi, setelah kepergian berulang-ulang dalam putaran siang dan malam yang diterjemahkan kesedihan. Aku menemukanmu dalam lalu lalang orang-orang di jalanan kesepian. Aku menemukanmu di kedai-kedai kopi, di antara aroma kopi dan asap rokok yang melebur dalam perayaan-perayaan kehilangan. 

    Aku menemukanmu dalam televisi yang mengabarkan berita-berita politik yang membosankan, dan di dalam buku-buku dongeng menjelang tidur. Aku menemukanmu dalam percakapan panjang dengan-Nya. Percakapan yang laut, aku larut. Aku menemukanmu di dalam aku. 

     

    *

    Kepada seseorang yang padanya kutitipkan ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan, berjanjilah untuk bahagia, meski tak ada aku di sana.   

     

     

    *** 

     

     

    Jeremy

     

    "Ada hal yang tidak kita inginkan terjadi, tapi harus kita terima. 

    Ada hal yang tak ingin kita ketahui, tapi kita harus mempelajarinya. Ada orang-orang yang kita tak bisa hidup tanpanya, tapi harus kita relakan kepergiannya." 

    Kalimat ini kutemukan pada sebuah pembatas buku di lantai perpustakaan kota. Sebelumnya aku bersenggolan dengan seorang laki-laki yang berjalan tergesa-gesa sambil menenteng beberapa buku. Mungkin ini miliknya. Kami bertatapan, matanya menyimpan amarah, entah pada siapa. Lantas berlalu, berlari dalam hujan menuju tempat parkir. 

    Kubaca berulang-ulang, seperti mengingatkan pada hidup yang kadang begitu jauh dari ekspektasi. Ketika harapan diinginkan menjadi nyata, tapi yang tergenggam sungguh berbeda. Dan tentu saja hidup akan terus berjalan, meski entah bagaimana dan kemana. 

    "Aku masih punya logika. Aku masih harus bekerja, menyelesaikan pesanan-pesanan, membaca dan menulis. Bukankah hidup harus terus berlanjut meski tanpa dia?" 

    Tiba-tiba laki-laki itu duduk di sampingku di antara rak-rak buku di perpustakaan kota, sambil menunjuk pembatas buku yang kubaca lagi siang itu. Aku diam, tak tahu harus bicara apa. 

    "Aku, Jeremy." katanya sambil mengulurkan tangannya. 

    "Grey." 

    "Kita berteman?" 

    "Oh, oke deal." 

    "Lusa temenin ya." sambil tersenyum kecut ia menyodorkan sebuah undangan, undangan pesta pernikahan kekasihnya. 

     

     

     

    *** 

     

     

     

    Padamu yang cahaya, aku percaya bahwa hidup tak perlu kucemaskan lagi

     

    Mungkin tak pernah ada kita, hanya kau dan aku dan percakapan-percakapan pengisi sepi. Musim-musim yang bertukar peran menyisakan sedikit ruang untuk kita tuliskan. Entah sebagai puisi entah sekedar basa basi. 

    Jika kelak kau lupa tak mengapa, aku saja yang mengingatnya. Merawat apa-apa yang sengaja ditingalkan waktu dan ditanggalkan rindu. 

    Padamu yang cahaya, aku percaya bahwa bertemu denganmu adalah salah satu cara semesta mencintaiku.

      

     

     

    *** 

      

     

     

    Musim dalam ingatan

     

    Menuju tengah malam ketika aku terbangun. Beberapa waktu terlewati dengan perasaan lelah. Dan hari ini mungkin puncaknya, badan sudah penuh lebam-lebam sebagai penanda sedang dalam kondisi terbawah. Maka selepas kerja tidur adalah prioritas utama. 

    Di luar desau angin membawa dingin, jalanan sepi penghuni. Aku duduk di bangku teras rumah tempat ibu biasa memandang lalu lalang orang-orang. Maka kunikmati malam bersama ingatan. 

    Summer 

    Dunia hangat, seperti senyumnya. Mengapa? Tak mengerti. Tak ada alasan yang pasti. Hanya mengalir, tak tersentuh pikir. Tahun-tahun berlalu kupastikan ini tak sekedar suka, lebih dari itu. Dan tak tahu harus bagaimana kutenangkan rindu, detaknya terlalu kencang, menggebu-gebu. 

    Autumn 

    I love the autumn season, it’s when I can see the maple leaves change their color to red. Kau ingat kita pernah melewati musim itu, Je? 

    Winter 

    Seperti hatiku, dingin ini membekukan segala. Ranting-ranting tiada berderak. Pesan-pesan pendek kita terhenti di suatu hari yang kelabu. Begitu rancu. Kita hanya saling melempar kesedihan dalam diam yang entah sampai kapan. 

    Spring 

    Andai semesta sepakat, inginku di sana di dekatmu. Melihat senyum dan binar matamu, sekali lagi. Andai mekarnya bunga juga memekarkan rasa, aku hanya ingin itu padamu, Je. 

     

     

    *** 

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Dien Matina lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.