Babad Pancajiwa: 1. Tirta dan Laut - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi: agefotostock.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 24 Januari 2023 06:06 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Babad Pancajiwa: 1. Tirta dan Laut

    Buah cemara dibantun angin melayang jauh jatuh di sisi cadik perahu nelayan menimpa teritip melekat erat mengintip dari sisi kiri menghadap pantai berpasir silika putih yang mengkristal dalam panas bara matahari pukul dua belas.

    Dibaca : 1.376 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Buah cemara dibantun angin melayang jauh jatuh di sisi cadik perahu nelayan menimpa teritip melekat erat mengintip dari sisi kiri menghadap pantai berpasir silika putih yang mengkristal dalam panas bara matahari pukul dua belas.

    Angin mendeburkan ombak mencium bibir laut selingkar pulau di sela bakau dan kerambil tua setinggi minaret istana kremlin di moskwa megah meraup kembang salju segi enam sebening gelas.

    Perahu cadik bergoyang dumang mengayun alun mengusir duri cemara tumpul terkikis perlahan pulang seakan enggan beringsut tak luput dibidik camar riuh memanggil pelikan pemburu malas.

    Duduk mencangkung di rindang bayang cemara laut daun jarum remaja hampir dewasa bibir mengatup kukuh dagu persegi angkuh pandang teropong jauh Tirta gadis sempurna penulis kisah fiksi berkelas.

    Menetes asin air laut dari rambut pendek kaku merah saga ke atas gores luka karang memerih menyeringai sudut bibir kering tahankan nyeri memancung meniup dinginkan nafas.

    Lewat seminggu sudah inspirasi tak kunjung memercik meski dipantik sunyi laut dalam degup jantung mengemis udara memacu vertikal engah tersengal menyembul menusuk selimut lautan luas.

    Mungkin khilaf tersangka laut pembungkus untaian rangkaian nusa kerdil rela berbagi kunci jawaban pembuka gerbang cahaya gemilang kreativitas.

    Sekali lagi menatap batas cakrawala tersamar pantulan prisma butir beku di awan bianglala fatamorgana sebelum melangkah gontai Tirta menuju tetirahan 'tuk berkemas.

    Tanpa maksud apa-apa kaki menindih buah cemara pipih yang hanyut menepi dihantar ombak mengirim kejut pedih ke ujung saraf tertinggi menyetikakan mulut terbuka teriak "Bagas!"

    Tertegun takjub Tirta bersedekap di batas waktu laut yang biru hijau kelam memberi jawaban kemelut jiwa lewat isyarat gerigi buah cemara yang telah bernas.

    Tirta menjumput gawai tercanggih dari ranjang tetirah menggores jari membuka sandi mengetuk layar memilih nama sebelum akhirnya tersadar tiada sinyal melintas.

    Terhempas lesu di kasur empuk gulungan pegas baja Tirta berbisik lirih bening bergetar jelas "...."

     

     

    BERSAMBUNG

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.