Wayang Potehi, Toleransi, dan Harapan - Travel - www.indonesiana.id
x

Potehi berasal dari kata pou (kain), te (kantong) dan hi (wayang). Wayang Potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut dan memainkannya layaknya wayang jenis lain. (Christian Saputro)

Christian Saputro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Juni 2022

Selasa, 24 Januari 2023 14:00 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Wayang Potehi, Toleransi, dan Harapan

    Wayang Potehi merupakan salah satu seni tradisi yang selain menunjukan keindahan , keragaman budaya dan kehidupan toleransi di Indonesia. Tahun 2022 lalu Wayang Potehi dari Sanggar Fu He An dari Jombang, Jawa Timur menjadi duta budaya Indonesia tampil pentas pada ajang Festival Tong Tong Fair 2022 di Den Haag, Belanda.

    Dibaca : 124 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Wayang Potehi yang akarnya merupakan budaya dari masyarakat Tionghoa ternyata sekarang sebagian besar sehu (dalang) nya sudah bukan orang Tionghoa tetapi orang Jawa.

     

    Wayang Potehi merupakan salah satu seni tradisi yang selain  menunjukan keindahan , keragaman budaya  dan kehidupan toleransi di Indonesia. Tahun 2022 lalu Wayang Potehi dari Sanggar Fu He An dari Jombang, Jawa Timur  menjadi duta  budaya Indonesia tampil    pentas pada ajang Festival  Tong Tong Fair 2022 di Den Haag, Belanda.

    Menurut CEO PT Marimas Putra Kencana Harjanto Halim menginisiasi hadirnya GoPot (ehi) Wayang Potehi Mobil Keliling, Wayang Potehi ini kesenian yang memiliki nilai filosofi dan nilai sosial tinggi yaitu, nilai toleransi.

    Nonton Wayang Potehi

    Wayang Potehi yang akarnya merupakan budaya dari masyarakat Tionghoa ternyata sekarang sebagian besar sehu (dalang) nya sudah bukan orang Tionghoa tetapi orang Jawa.

    Harjanto menandaskan, menariknya mereka malah lebih paham ritual-ritual yang dilakukan sebelum mempergelarkan Wayang Potehi yang orang Tionghoa sendiri justru banyak yang tidak paham.

    “Mereka justru lebih paham ritual-ritual yang biasanya dilakukan oleh orang Tionghoa. bukti nyata yang bisa menunjukan kepada dunia kehidupan yang penuh toleransi di Imdonesia. Kehidupan antar etnis yang  saling mendukung dalam melestarikan kesenian (budaya),” ujar Harjanto. ang juga Ketua Perkumpulan Sosial dan Budaya Boen Hian Tong Semarang.

    Sementara Pimpinan Wayang Potehi  Sanggar Fu He An,  Jombang, Jawa Timur Toni Harsono mengatakan sangat bangga bisa menjadi duta seni dan memperkenalkan Indonesia dengan mengusung kesenian wayang Potehi.

    Toni Harsono yang merupakan generasi ketiga langsung dari seniman Potehi, Tok Su Kwie yang berasal dari Tiongkok berharap ke depan, pemerintah bisa lebih  mengapresiasi Wayang Potehi. Pasalnya, Wayang Potehi ini murni sebagai kekayaan budaya bangsa.

    “Meski memang wayang Potehi asalnya dari Tiongkok, tetapi kini sudah menjadi bagian budaya Indonesia.  Wayang Potehi bisa ini bisa menjadi sarana pemersatu. Buktinya, kini pelakunya kebanyakan justru orang Jawa bukan etnis Tionghoa. Ini menunjukkan semangat toleransi yang tinggi dalam Wayang Potehi,” tandas Toni Harsono.

    Muasal dan Perkembangan Wayang Potehi

    Potehi disigi dari sejarah diperkirakan jenis kesenian ini sudah ada pada masa Dinasti Jin (265-420 Masehi) dan berkembang pada Dinasti Song  (960-1279). Wayang Potehi masuk ke Indonesia (dulu Nusantara) melalui orang-orang Tionghoa yang masuk ke Nusantara pada sekitar abad 16 sampai 19. Data yang sahih berupa catatan awal tentang wayang Potehi di Indonesia, berasal dari seorang Inggris bernama Edmund Scott.

    Dalam catatan Edmund Scott.yang sempat berkunjung ke Banten antara 1602 dan 1625,  menyebutkan, pertunjukan sejenis opera, yang diselenggarakan bila jung-jung akan berangkat ke atau bila kembali ke Tiongkok. Wayang khas Tionghoa ini berasal dari Tiongkok di bawa perantau etnis tionghoa ke nusantara. Kini Wayang potehi kini menjadi salah satu jenis kesenian tradisional Indonesia,

    Potehi berasal dari kata pou (kain), te (kantong) dan hi (wayang). Wayang Potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut dan memainkannya layaknya wayang jenis lain.

    Sedangkan alat musik Wayang Potehi terdiri atas gembreng/lo , kecer/simbal,  cheh dan  puah, suling/phin-a , (gitar/gueh-khim , rebab/hian-a , tambur/kou , terompet/ai-a , dan piak-kou .. Alat terakhir ini berbentuk silinder sepanjang 5 sentimeter, mirip kentongan kecil penjual bakmi, yang jika salah pukul tidak akan mengeluarkan bunyi "trok"-"trok" seperti seharusnya.

    Kru GoPot Siap-siap

    Wayang Potehi bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi Potehi bagi etnis Tionghoa memiliki fungsi sosial serta ritual. Dulu Wayang Potehi hanya dipentaskan dikelenteng-kelenteng, karena kesenian ini untuk persembahan kepada para dewa.. Sedangkan lakon yang dipentaskan dulunya Wayang Potehi hanya memainkan lakon-lakon yang berasal dari kisah klasik Tiongkok seperti legenda dinasti-dinasti yang ada di Tiongkok, terutama jika dimainkan di kelenteng.

    Tetapi kini  Wayang Potehi dalam pentasnya bisa mengusung cerita-cerita di luar kisah klasik seperti novel Se Yu alias Perjalanan Ke Barat  (Pilgrimage to the West) dengan tokohnya Kera Sakti yang tersohor itu.

    Menurut Pimpinan Sanggar Fu He An , Gudo, Toni Harsono pada masa masuknya pertama kali di Nusantara, wayang potehi dimainkan dalam dialek Hokkian. Seiring dengan perkembangan zaman, wayang ini pun kemudian juga dimainkan dalam bahasa Jawa dan  Indonesia.

     *) Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis, Pegiat Heritage di Jung Foundation Lampung Heritage dan Pan Sumatera Network [Pansumnet] kini bermukim di Semarang.

    Ikuti tulisan menarik Christian Saputro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.