Percakapan Imajiner (40) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Pinterest

Dien Matina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Selasa, 24 Januari 2023 18:37 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Percakapan Imajiner (40)


    Dibaca : 267 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kau selalu tahu bahwa kau akan baik-baik saja, kan?

     

    Dear FA 

    Kau selalu tahu bahwa kau akan baik-baik saja, kan? 

    Segala sepi mungkin bisa diurai oleh arak-arakan mendung atau derai hujan. Segala dingin mungkin mampu dipecahkan permukaan tanah yang menghangat saat kaki-kakimu menyentuhnya. 

    Pada setiap subuh kau siap berdamai dengan kata-kata, dengan rencana-rencana, jam kerja yang lebih padat dari jalanan Jakarta, pertemuan dengan orang-orang yang kau suka atau kau benci, pesta demi pesta, juga logika-logika yang sering tak sepaham dengan rasa di dada. 

    Ketika hidup memberimu jalan yang sulit. Kelokan dan terjalnya melelahkanmu, waktu itu. Pada remang lampu kamar dan pekat kabut di jendela, dadamu sesak, kau terisak. Pilihan-pilihan lain hanya akan menyakitimu, mengiris rasa tipis-tipis dan kau lagi-lagi menangis. 

    Saat beberapa ingatan memaksamu kembali menemui lalu atau mengajakmu memenuhi ingin—semangkuk acar, kue tart atau nasi lalap telur sambel teri daun kemangi yang membuatmu takhluk pada ruang sempit depan lemari. 

    Ya ya.. kau selalu tahu bahwa kau akan baik-baik saja, kan? 

    Di tengah himpitan pekat debu, lelehan matahari di aspal jalanan, hiruk-pikuk percakapan-percakapan mereka yang kau sebut desau angin di tengah hari. 

    Kau selalu tahu bahwa kau akan baik-baik saja, kan? 

    Sebab hidup akan selalu menyediakan celah untuk berbenah. Selalu ada wangi petricore hujan, ada kaktus-kaktus mungil dalam pot di sudut ruang tamu atau di dekat jendela kamar, teh panas di cangkir blirik di meja makan, juga harap dari teman-teman yang jauh, yang mengingatkanmu bahwa selalu ada tempat untuk berbagi bahagia meski sederhana. Sesederhana cinta ibu, apa adanya tanpa pura-pura, setia sampai ia tiada. Pun di usia barumu kali ini, wahai laki-laki baik bersuara emas, selamat! Semoga Tuhan memberimu realita terindah. Segala kebaikan kau genggam sepanjang perjalanan. Jangan lupa jaketnya, di luar angin akan semakin keras menerpamu. 

    Kau selalu tahu bahwa kau akan baik-baik saja, kan? 

     

    050817

     

     

     

    ***

     

     

     

    Juli datang

     

    Juli datang. Sebelum masuk ia berkata, "Dien, aku hanya butuh ruang untuk kita berbincang. Kau boleh membicarakan apa saja, termasuk memakiku jika nanti membuatmu marah." 

    Juli datang. Jarum jam bergerak sedikit lebih lambat. Detaknya pelan. Mengetuk dinding, meja dan foto-foto pajangan. 

    Juli datang. Ia bertanya, "Dien, setahun kemarin kau kemana saja?" Aku diam. Menghela napas. Aku tak kemana-mana dan tak ingin kemana-mana. Seperti menunggu tapi tak tahu apa yang kutunggu. Ingin pergi menghindar tapi tak tahu apa yang kuhindari. Juli tersenyum sambil mengusap-usap kepalaku, entah apa artinya. Di teras belakang, Juli menulis, puisi katanya. Puisi tentang ingatan dan sepasang mata yang menyimpan kesedihan. Katanya, "Bacalah, Dien, berulang-ulang. Sampai kau mengerti apa yang harus kau lakukan." 

    Juli datang. Rindu tak tenang.

     

     

     

    *** 

     

     

     

    Aku dan diriku 

     

    Ini percakapan kami, aku dan diriku semalam, sebelum kantuk datang. 

     

    Malam akan membawa kita ke mana?"

    "Ke pikiranmu sendiri. Jika sampai ke pikiran orang lain, bisa jadi itu bonus suka atau luka." 

    "Jika itu luka?" 

    "Berpura-puralah bahagia sampai kau benar-benar bahagia. Jika tak bisa, berpura-puralah lupa apa itu luka." 

    "Sampai kapan?" 

    "Sampai kau berdamai dengan dirimu sendiri dan menertawakan kebodohanmu." 

    "Apakah saat itu tiba kau ada bersamaku?" 

    "Ya." 

    "Yakin?" 

    "Ya. Kecuali kopi yang kau seduh berubah masam atau kunci pintu membuatmu kehilangan jalan pulang." 

     

     

    *** 

    Ikuti tulisan menarik Dien Matina lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.