Tradisi Mepandes, Ritual Simbol Pengendalian Diri Manusia - Travel - www.indonesiana.id
x

Mangku memimpin jalannya ritual Mepandes

Christian Saputro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Juni 2022

Rabu, 25 Januari 2023 13:40 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Tradisi Mepandes, Ritual Simbol Pengendalian Diri Manusia

    Tradisi mutilasi gigi atau memotong gigi merupakan tradisi yang banyak dijumpai di dunia. Tindakan mutilasi secara fisik, merupakan salah satu bentuk penyiksaan terhadap salah satu anggota badan.Tetapi, dibalik tindakan tersebut, terkandung tujuan atau mempunyai simbol tertentu. Seperti ritual mepandes yang berlaku pada komunitas masyarakat Bali yang bertujuan untuk pengendalian diri terhadap sesuatu yang tidak baik bagi manusia.

    Dibaca : 89 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tradisi mutilasi gigi atau memotong gigi merupakan tradisi yang banyak dijumpai di dunia. Tindakan mutilasi secara fisik, merupakan salah satu bentuk penyiksaan terhadap salah satu anggota badan.Tetapi, dibalik tindakan tersebut, terkandung tujuan atau mempunyai simbol tertentu. Seperti ritual mepandes yang berlaku pada komunitas masyarakat Bali yang bertujuan untuk pengendalian diri terhadap sesuatu yang tidak baik bagi manusia.

    Mutilasi gigi sebagaimana halnya dengan tato, dapat juga dipandang sebagai hasil karya seni. Seni merupakan salah satu ciri kebudayaan. Adat mutilasi gigi, disamping untuk memenuhi tujuan tertentu, dapat juga dipandang sebagai ekspresi seni atau budaya

    Bentuk gigi yang dimutilasi atau dipangur dapat dibedakan menjadi berbagai jenis. FM Uhle membedakan 17 bentuk gigi pangur yang ditemukan tersebar di kalangan suku-suku bangsa di Indonesia.

    Mutilasi gigi ada yang berupa pengrataan, pematahan, bahkan pencabutan gigi. Gigi yang biasa mengalami mutilasi adalah gigi seri, disamping gigi geraham dan gigi taring. Di Indonesia, adat atau tradisi mutilasi gigi, berupa pangur gigi tersebar luas di kalangan suku-suku bangsa di Kepulauan Indonesia.

    Daerah-daerah yang mengenal adat pangur gigi, meliputi hampir seluruh Kepulauan Indonesia. terutama yang didiami ras (suku-bangsa) Melayu atau sudah bercampur dengan unsur-unsur Melayu, termasuk dalam wilayah ini adalah daerah-daerah di Kepulauan Filipina.

    Tindakan mutilasi gigi juga dilakukan terhadap seseorang pada beberapa suku-bangsa di Indonesia, ketika yang bersangkutan memasuki masa akil balig. Sedangkan tindakan mutilasi gigi, juga dilakukan pada waktu perkawinan. Di Enggano, pada waktu perkawinan, mempelai wanita melakukan mutilasi gigi.

    Sedangkan pangur gigi untuk tujuan keindahan, dapat dilihat di tengah-tengah masyarakat, misalnya di desa dan daerah pegunungan di Jawa Tengah. Adat pangur gigi hanya untuk keindahan saja, tidak mempunyai arti religius.

    Pangur gigi sebagai upacara berkabung, dapat disejajarkan dengan adat mematahkan gigi, seperti yang dilakukan di Polinesia pada waktu ada kematian. Pematahan dua buah gigi seri atau kedua gigi taring, dapat ditemukan pada beberapa suku-bangsa di Sulawesi Tengah, misalnya Suku Tonapo, Tobada, dan Tokulabi. Tindakan tersebut dilakukan oleh wanita dewasa. Pematahan gigi seri juga dilakukan pada beberapa suku bangsa di Polinesia, Melanesia, dan Australia.

    Beberapa rangka manusia dengan temuan gigi yang telah mengenal adat pangur gigi, ditemukan di Anyer, Plawangan, Gilimanuk dan Semawang (Bali), Batangmatasapo (Selayar, Sulawesi Selatan), Gunung Piring (Lombok Selatan), serta Gua Alo dan Liang X (Flores).

    Untuk menjelaskan tradisi mutilasi gigi, data yang digunakan berupa data etnografi dan arkeologi. Data etnografi berupa adat atau tradisi mutilasi gigi yang pernah, bahkan masih dilakukan oleh beberapa suku di Indonesia. Sedangkan data arkeologi berupa temuan kerangka manusia, pada beberapa situs di Indonesia. Di dunia, tradisi mutilasi gigi telah berlangsung ribuan tahun silam di Afrika (Mesir kuna), Amerika (Suku Indian), Polinesia, Melanesia, dan Australia.

    Menurut Wilken, pangur gigi sebagai tindakan memperindah badan. Sedang menurut Uhle, pangur gigi merupakan tindakan penyiksaan diri.  Wilken menambahkan , pangur gigi merupakan bentuk tindakan yang lebih halus daripada pematahan gigi. Menurutnya, tujuan awal atau tindakan pematahan gigi yang kemudian diperluas menjadi pangur gigi itu, telah mengorbankan sebagian anggota badan (rambut, jari tangan, gigi), sebagai tanda berkabung.

    Simbol tindakan meratakan, mematahkan bahkan mencabut gigi dengan sadar, tentunya mempunyai tujuan atau maksud tertentu. Mutilasi gigi bisa melambangkan atau simbol dari rasa duka-cita atau kematian atau untuk menolak bala, masa pentasbihan, masa perkawinan, dan keindahan. Banyak suku bangsa di belahan bumi ini, melakukan tindakan mutilasi gigi sebagai bentuk atau simbol kematian atau berduka cita. Petunjuk adanya tindakan tersebut dapat dijumpai di daerah Kedu (Jateng), Bengkulu, Kepulauan Sula, Selayar, dan pada Suku Alfuru di Minahasa (Sulawesi Utara).

    Penduduk di daerah tersebut hanya boleh melakukan pangur gigi, jika ada anggota keluarga terdekat, misalnya salah satu atau kedua orangtua dan kakak, sudah meninggal. Seorang wanita melakukan pangur gigi, jika mengalami kematian bayi. Pangur gigi juga dilakukan waktu atau segera setelah bayi dilahirkan, dan pada waktu kematian tunangannya. Pangur gigi yang dilakukan pada masa anggota-anggota keluarga terdekat tersebut masih hidup, akan menimbulkan kematian anggota-anggota keluarga tersebut.

    Ritual Mepandes

    Di Bali terminologi mutilasi gigi  dikenal dengan upacara potong gigi. Bahkan upacara   ini menjadi salah satu ritual wajib bagi orang Bali. Adat upacara potong gigi ini ada yang menyebutnya dengan istilah Mepandes,  metatah atau mesangih. Mepandes merupakan salah satu ritual masyakat Bali yang berhubungan dengan adat dan spiritual. Di komunitas Bali upacara ini tidak ubahnya dengan acara pernikanan. Orang yang menggelar mepandes biasanya mengundang kerabat dan kenalan seperti pernikahan.

    Upacara potong gigi, mepandes, atau metatah ini juga merupakan  salah satu upacara besar dalam adat Bali. Pasalnya, upacara  ini adalah wujud tanggung jawab orang tua pada anaknya, selain menikahkan.

     

    Upacara mepandes  ini diadakan biasanya sekali seumur hidup, atau boleh juga lebih. Berhubung ini ritual wajib, jadi semua orang Hindu Bali pasti mengalami upacara ini seperti yang dilakukan keluarga I Nyoman Suarsana, SH penduduk Metro, Lampung yang melaksanakan mepandes untuk empat putrinya ; Ni Putu Sri Wahyuasih, Ni Made Swesty Rahayu, Ni Nyoman Parahita Santy, Ni Ketut Puspa Wilwatikai.

     

    Ritual  boleh dilakukan pada masa si anak mencapai akil balig, atau masa-masa setelah itu. Dan kalau ada seseorang yang meninggal sebelum sempat melaksanakan upacara potong gigi maka upacara itu tetap diadakan untuk dirinya setelah meninggal, sebelum di aben tentunya.

     

    Tradisi  Mepandes

    Upacara Mapandes  kalau disigi bersumber  pada Lontar Kala Pati, Kala tattwa,Semaradhana, dan Sang Hyang Yama. Dalam lontar Kala Pati disebutkan bahwa potong gigi sebagai tanda perubahan status seseorang menjadi manusia sejati yaitu manusia yang berbudi dan suci sehingga kelak di kemudian hari bila meniggal dunia sang roh dapat bertemu dengan para leluhur di sorga Loka.

    Lontar Kala tattwa menyebutkan bahwa Bathara Kala sebagai putra Dewa Siwa dengan Dewi Uma tidak bisa bertemu dengan ayahnya di sorga sebelum taringnya dipotong.Oleh karena itu, manusia hendaknya menuruti jejak Bathara kala agar rohnya dapat bertemu dengan roh leluhur di sorga.

    Sedangkan dalam lontar Semaradhana disebutkan bahwa Bethara Gana sebagai putra Dewa Siwa yang lain dapat mengalahkan raksasa NIlarudraka yang menyerang sorgaloka dengan menggunakan potongan taringnya.

    Selain itu disebutkan bahwa Bethara Gana lahir dari Dewi Uma setelah Dewa Siwa dibangunkan Dari tapa semadhinya oleh Dewa Semara (Asmara) namun kemudian Dewa Siwa menghukum Dewa Semara bersama istrinya, Dewi Ratih,dengan membakarnya sampai menjadi abu.kemudian menyebarkan abu tersebut ke dunia dan mengutuk manusia agar tidak bisa hidup tanpa berpasangan (laki-perempuan) dalam suami istri.

    Dalam lontar Sang Hyang yama disebutkan bahwa upacara potong gigi boleh dilaksanakan bila anaksudah menginjak dewasa, ditandai dengan menstruasi untuk wanita dan suara yang membesar untuk pria. Biasanya hal ini muncul di kala usia 14 tahun atau pada usia akil balig.

     

    Mengntar Kedewasaan

     Mitologi

    Tujuan upacara potong gigi dapat disimak lebih lanjut dari lontar kalapati dimana disebutkan bahwa gigi yang digosok atau diratakan dari gerigi adalah enam buah yaitu dua taring dan empat gigi seri di atas.

    Pemotongan enam gigi itu melambangkan symbol pengendalian terhadap Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia). Meliputi kama (hawa nafsu),Loba (rakus), Krodha (marah),mada (mabuk),moha (bingung),dan Matsarya (iri hati).

    Sad Ripu yang tidak terkendalikan ini akan membahayakan kehidupan manusia,maka kewajiban setiap orang tua untuk menasehati anak-anaknya serta memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari pengaruh Sad ripu.

    Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati, Kala Tattwa,dan Semaradhana ini adalah mengupayakan kehidupan manusia yang selalu waspada agar tidak tersesat dari ajaran agama (dharma) sehingga di kemudian hari rohnya dapat yang suci dapat mencapai surge loka bersama roh suci para leluhur, bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi).Dalam pergaulan muda-mudi pun diatur agar tidak melewati batas kesusilaan seperti yang tersirat dari lontar Semaradhana.

    Upacara potong gigi biasanya disatukan dengan upacara Ngeraja Sewala atau disebutkan pula sebagai upacara “menek kelih”, yaitu upacara syukuran karena si anak sudah menginjak dewasa,akil balig, meninggalkan masa anak-anak menuju ke masa dewasa.

    Kronologi  Upacara

    Setelah sulinggih ngarga tirta, mereresik dan mapiuning di Sangah Surya,maka mereka yang akan mepandes dilukat dengan padudusan madya,setelah itu mereka memuja Hyang raitya untuk memohon keselamatan dalam melaksanakan upacara.

    Metirta

    https://www.indonesiana.id/admin/foto#

    Kemudian melakukan  potong rambut dan merajah dilaksanakan dengan tujuan mensucikan diri serta menandai adanya peningkatan status sebagai manusia yaitu meningalkan masa anak-anak ke masa remaja.

    Dilanjutkan dengan Naik ke bale tempat mepandes dengan terlebih dahulu menginjak caru sebagai lambang keharmonisan,mengetukkan linggis tiga kali (Ang,Ung,Mang) sebagai symbol mohon kekuatan kepada Hyang Widhi dan ketiak kiri menjepit caket sebagai symbol kebulatan tekad untuk mewaspadai sad ripu.

    Selama mepandes,air kumur dibuang di sebuah nyuh gading afar tidak menimbulkan keletehan.

    Dilanjutkan dengan mebiakala sebagai sarana penyucian serta menghilangkan mala untuk menyongsong kehidupan masa remaja.

    Mapedamel berasal dari kata “dama” yang artinya bijaksana. Tujuan mapedamel setelah potong gigi adalah agar si anak dalam kehidupan masa remaja dan seterusnya menjadi orang yang bijaksana,yaitu tahap menghadapi suka duka kehidupan,selalu berpegang pada ajaran agama Hindu,mempunyai pandangan luas,dan dapat menentukan sikap yang baik, karena dapat memahami apa yang disebut dharma dan apa yang disebut adharma.

    Secara simbolis ketika mepadamel,dilakukan sebagai berikut; : Pertama, mengenakan kain putih,kampuh kuning,dan selempang samara ratih sebagai symbol restu dari Dewa Semara dan Dewi Ratih (berdasarkan lontar Semaradhana tersebut). Kedua,  memakai benang pawitra berwarna tridatu (merah,putih,hitam) sebagai symbol pengikatan diri terhadap norma-norma agama.

    Ketiga, mencicipi Sad Rasa yaitu enam rasa berupa rasa pahit dan asam sebagai simbol agar tabah menghadapi peristiwa kehidupan yang kadang-kadang tidak menyenangkan. Rasa pedas sebagai simbol agar tidak menjadi marah bila mengalamai atau mendengar hal yang menjengkelkan,rasa sepat sebagai symbol agar taat ada peraturan atau norma-norma yang berlaku.

    Rasa asin sebagai simbol kebijaksanaan,selalu meningkatkan kualitas pengetahuan karena pembelajaran diri, dan rasa manis sebagai symbol kehidupan yang bahagia lahir bathin sesuai cita-cita akan diperoleh bilamana mampu menghadapi pahit getirnya kehidupan,berpandangan luas,disiplin,serta senantiasa waspada dengan adanya

    Kemudia ritual  natab banten, tujuannya memohon anugerah Hyang Widhi agar apa yang menjadi tujuan melaksanakan upacara dapat tercapai.

    Dan terakhir menjalani  metapak,mengandung makna tanda bahwa kewajiban orang tua terhadap anaknya dimulai sejak berada dalam kandungan ibu sampai menjadi dewasa secara spiritual sudah selesai.

    Sedangkan makna lainnya adalah ucapan terima kasih si anak kepada orang tuanya karena telah memelihara dengan baik,serta memohon maaf atas kesalahan-kesalahan anak terhadap orang tua,juga mohon doa restu agar selamat dalam menempuh kehidupan di masa datang.

    *) Christian Heru Cahyo Saputro, Mantan kontributor indochinatown.com, Penggiat Heritage di Jung Foundation Lampung Heritage dan Pan Sumatera Network (Pansumnet), penulis buku, Piil Pesenggiri, Etos dan semangat Kelampungan, penyuka wayang, kini bermukim di Kota Semarang.

     

    Ikuti tulisan menarik Christian Saputro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.