Rumah Terkutuk - Fiksi - www.indonesiana.id
x

sumber ilustrasi: http://www.countrysidefire.com/lightning-safety/lightning-strikes-house/

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 5 Februari 2023 19:08 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Rumah Terkutuk

    Gadis itu hilang seperti juga saudara laki-laki sebelumnya. Sang ayah di atas bukit, mengutuk Tuhan, dan putri di kakinya. Rumah itu terbakar. Di halaman yang gelap, kakaknya merayap keluar dari rawa seperti kucing di ambang jendela kamar bayi.

    Dibaca : 1.977 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tengoklah gadis itu. Kulitnya seputih awan, mata hitam aspal. Malu. Berani. Misterius, tapi jujur dengan tubuhnya.

    Dalam seprai yang kusut masai, dia meringkuk di sekitarmu seperti daun yang terbakar. Nafasnya melunak, malam merasuk ruangan melalui jendela tinggi. Bulan di balik awan yang berlayar di arus deras.

    Kamu tidak tahu apakah kamu mencintainya, tetapi kamu menginginkannya, cukup untuk bertemu orang tuanya.

    Mereka tinggal di rimba tua, jalan menurun, dijepit ke pohon cemara, di balik pagar besi hitam, pohon mahoni abu-abu hijau yang terkulai tebal dengan lumut.

    Dahan cemara bagai tanaman yang menolak rubuh, tanaman berserabut ditelan oleh tanaman merambat berbunga.

    Ayahnya di beranda, perut sebesar gentong, rambut putih jatuh ke pundaknya.  Di belakangnya, ibunya bersandar di kusen pintu.

    Rumah itu menjulang seperti kapal, berlantai tiga, beratap pelana kuda, loteng berjendela. Seperti dongeng.

    Pesugihan, katamu.

    Ayahnya menyekutukan Tuhan dan menjadi kaya. Bibirnya beracun.

    Seperti semua laki-laki.

    Angin menjerit, dengan tungkai patah dan murad ungu berputar. Hieroglif burung, langit hitam dan abu-abu pualam.Burung tak bisa dibedakan dari daun, dari awan. Hembusan yang mengguncang rumah mendorong pohon mahoni tua berabad-abad, akarnya yang terjungkir seperti pintu membuka jalan ke sarang tuyul.

    Ayahnya memakai jaket bersandar dengan siku, memegang arak. Api menjilat celananya. Dia berlari ke ayahnya dan ibunya diam.

    Jendela tinggi, langit kuning dan ungu seperti luka memar. Dia menggendong putrinya dan menatap gurunya, kamu.

    Saat makan malam, tidak ada ayah. Kurisnya ditetapkan untuk saudara laki-laki. Kakaknya yang hilang.

    Pergi, katanya. Tidak, kata ibunya. Di antara mereka tatapan tajam menikam yang mengusirnya.

    Kamu tidur sendirian di kamar sedingin gua bawah tanah. Pada tengah malam kamu berkeliaran di aula mencari kamarnya.

    Dari potret kuno, orang yang sudah mati memandang rendah dirimu.

    Guntur bergemuruh, langit bergetar.

    Tidak ada pintu yang terkunci. Ibunya pucat diam seperti mayat yang terkubur. Kamar ayah kosong.

    Pintu rumahnya terbuka lebar. Matanya terbuka. Dia memperhatikanmu mendekat.

    Aku sedang bermimpi, katanya. Aku digantung dan ayah membakar lukanya hingga tertutup.

    Di sampingnya, kamu bermimpi seberkas cahaya jatuh, menembus awan, melintasi pohon mahoni yang ditutupi lumut, melalui celah di jendela timah, ke tangan ibu yang menuangkan tuak kuning ke gelas kaca yang retak. Jari-jarinya seperti laba-laba yang terperangkap dalam damar.

    Gadis itu hilang seperti juga saudara laki-laki sebelumnya. Sang ayah di atas bukit, mengutuk Tuhan, dan putri di kakinya.

    Rumah itu terbakar.

    Di halaman yang gelap, kakaknya merayap keluar dari rawa seperti kucing di ambang jendela kamar bayi.

     

     

     

    Bandung, 4 Februari 2023

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Merta Merdeka

    1 hari lalu

    Bertaruh

    Dibaca : 98 kali




    Oleh: Frank Jiib

    5 hari lalu

    Untuk Adikku

    Dibaca : 116 kali