x

Gambar oleh Bishnu Sarangi dari Pixabay

Iklan

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Jumat, 17 Maret 2023 08:18 WIB

Pohon Mangga Itu Tidak Berbuah Lagi Seperti Dahulu

Dua orang siswa siswi dan sebuah pohon mangga. Masa lalu dan masa depan mereka yang tidak dapat bersinggungan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“Adi, ayo berangkat! Nanti kita telat!” Setiap pagi dia selalu datang membangunkanku, padahal dia tidak diberikan kewajiban seperti itu. “Ayo berangkat!” Walaupun aku mengeluh seperti ini, tetapi tidak buruk juga. Siapa yang tidak suka dibangunkan oleh perempuan di pagi hari seperti ini? “Iya, sebentar. Keluarlah, aku ingin ganti baju,” ujarku. Dia terlihat sedikit malu dan keluar dari kamarku.

Hah, pagi-pagi sudah dapat asupan gula. Aku sebenarnya ingin mengajak dia ke jenjang selanjutnya, tetapi apakah aku pantas? “Haha, sampai kapan aku harus seperti ini?” Aku masih memikirkannya sampai sekarang. “Benar, sampai kapan ya aku seperti ini?” Aku melihat jalanan yang setiap pagi aku lalui bersamanya setiap hari. “Aku harap hari ini cerah. Iya kan?” Kami berdua pun melanjutkan perjalanan kami.

Nilaimu jelek sekali! Bagaimana kau bisa sukses kalau seperti ini?!” Aku keluar dan lari dari ceramah kedua orang tuaku. Aku biasanya mendatangi pohon mangga di atas bukit yang tidak jauh dari rumahku. Aku sudah bermain di sana sejak kecil. Hari ini juga cerah sekali.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Aku mulai berbaring di bawah pohon mangga itu sambil dibelai oleh selir-selir angin. “Sial, aku tidak masuk sekolah lagi hari ini. Bisa-bisa aku tidak naik kelas nanti,” ujarku sambil membalikkan badanku. “Kalau kau tahu, kenapa masih terus dilanjutkan?” Aku kenal suara ini. “Ayo masuk sekarang!” Ahhhh, aku masih ingin menghabiskan waktu di sini. “Coba Rina duduk di sini. Kau pasti akan bisa merasakan apa yang aku rasakan sekarang,” ujarku. Dia malah menjewerku dan menyeretku ke sekolah. “Saat kita nanti reuni bersama teman sekelas lainnya, mari ke sini. Tapi bukan sekarang. Ayo!”

Sore harinya, aku seperti biasa menunggu Rina, namun dia tak kunjung keluar dari sekolah. Lagipula, mengapa dia mendatangiku tadi siang saat jam sekolah? “Eh, Bob, kau ada melihat Rina?” Bob hanya menggelengkan kepalanya. “Pacarmu tidak kelihatan ya?” Sialan. “Kami bukan seperti kalian berdua. Zina!” Mereka berdua marah dan dilanjutkan oleh pelarian diriku. “Ada di mana anak itu?”

Aku tanpa sadar menyusuri jalan menuju ke pohon manggaku seperti biasanya. Aku menemukan dia duduk terdiam di sana. “Hei, aku dengar kau tidak boleh pulang larut malam,” ujarku. Dia hanya meresponku dengan suara lesu. “Ayo pulang, kedua orang tuamu pasti sudah khawatir, tidak seperti yang di rumahku,” ujarku. Dia tetap terlihat sedih. “Kamu pasti dimarahin karena nilai jelek ya. Maaf aku mendengarnya tadi pagi,” ujarku.

Memalukan sekali. “Aku iri denganmu bisa seperti itu,” ujarnya. Aku menepuk pundaknya sambil berkata, “Apanya yang enak? Kau selalu mendapat nilai bagus, pasti mereka bangga kan?” Dia hanya tersenyum dan kami berdua pun pulang. Namun, hari esoknya semuanya berubah. “Mengapa kau tidak menceritakannya kepadaku Rina? Aku mungkin bisa memberikan sesuatu yang dapat lebih membantumu di hari itu,” ujarku.

Hembusan angin membawa beberapa helai bunga yang aku taruh di tempat dia beristirahat. “Apakah sudah selesai sayang?” Aku melihat kembali tempat Rina sebelum aku pergi. “Sampai jumpa tahun depan, Rina,”, ujarku. “Iya, sudah selesai. Ayo pulang,”, ujarku sambil menggenggam tangan yang bukan tanganmu.

Sepertinya reuni yang kita harapkan tidak akan terjadi Rina. “Pohon mangganya juga sudah tumbang ya?” Aku melihat bukit yang telah menjadi perumahan.

Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler