x

Tanaman sorgum untuk mengatasi dampak perubahan iklim

Iklan

Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Oktober 2022

Sabtu, 25 Maret 2023 20:07 WIB

Sorgum Jadi Tanaman Pangan Alternatif Untuk Mengatasi Dampak Perubahan Iklim di Manggarai Timur

Perubahan iklim sudah sedang berlangsung di Manggarai Timur-Nusa Tenggara Timur, berdampak kepada sektor pertanian pangan. Perubahan Iklim yang ditandai dengan kondisi musim kemarau yang lebih panjang, musim hujan bergeser, suhu udara meningkat dan curah hujan sangat tinggi berpengaruh terhadap produksi padi, baik di lahan sawah beririgasu tehnis maupun di sawah tadah hujan. Saat ini terjadi kelangkaan beras dan harga beras di wilayah pedalaman Kabupaten Manggarai Timur naik 40 persen. Pada 4 tahun terakhir memang terjadi penurununan produksi padi sawah beririgasi tehnis sebesar 18.2 persen dan 53 persen pada lahan sawah tadah hujan. Terhadap situasi ini, maka pengembangan sorgum menjadi alternatif yang masuk akal untuk mengatasi dampak peerubahan iklim di Manggarai Timur. Masyarakat harus didorong untuk membudidaya tanaman sorgum sebab tanaman pangan jenis ini ternyata mampu beradaptasi untuk tumbuh baik pada lahan kritis dan disaat terjadi cuaca/iklim ekstirm kering dan basah.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 
Yayasan Ayo Indonesia menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan Tingkat Kecamatan Congkar (Musrenbangcam), Kabupaten Manggarai Timur, Senin (6/3/2023) lalu, di Aula Kantor Camat Congkar di Watu Nggong. Musyawarah ini dihadiri juga oleh utusan dari beberapa Organisasi Perangkat Daerah dalam lingkup Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, antara lain, Dinas PUPR, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Dinas Pendididikan dan Olah Raga (PPO), dan Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbangda). Selain dari unsur Organisasi Perangkat Daerah, Musyawarah Perencanaan Pembangunan ini mengikutsertakan anggota DPRD, 12 Pemerintah Desa, dan wakil dari kelompok tani.



Ismail Jehada, Camat Congkar dalam kata sambutannya pada acara pembukaan Musrenbangcam mengajak para kepala desa untuk memberi perhatian pada isu perubahan iklim dalam menyusun program dan kegiatan, salah satunya,  adalah mengembangkan sorgum untuk menjamin ketahanan pangan masyarakat dengan memanfaatkan lahan-lahan yang dinilai kurang subur lagi.



Beberapa isu penting yang diangkat oleh para peserta pada musyawarah perencanaan pembangunan tersebut, seperti, terkait kelangkaan dan mahalnya harga beras, kondisi infrastruktur jalan yang rusak, minimnya fasilitas umum (seperti lapangan sepak bola, beberapa fasilitas Posyandu dalam keadaan rusak, belum ada Kantor Pemerintah Kecamatan yang resmi), Kelangkaan air minum bersih, dan prevalensi Stunting yang cukup tinggi.


Terhadap isu yang berkaitan dengan kelangkaan pangan beras, Yayasan Ayo Indonesia, sebagai lembaga swadaya masyarkat mitra kerja Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, yang diwakili oleh Florianus Hasi, ketika diberi kesempatan untuk menyampaikan usulan pada musyawarah perencanaan pembangunan tersebut, menggarisbawahi bahwa persoalan tersebut merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim yang sudah sedang berlangsung di Manggarai Timur. Dia menegaskan, kelangkaan beras yang terjadi saat ini, kemudian harga jual yang sangat mahal dengan kenaikan harga 40 persen, dikarena ketersedian (supply) beras berkurang akibat hasil panen padi yang cenderung menurun pada empat tahun terakhir. Perubahan iklim berdampak pada penurunan produksi padi sawah beririgasi tehnis dan sawah tadah hujan.

Florianus Hasi, District Officer Program VICRA di Manggarai Timur sedang mengajukan usulan pada Musrenbangcam Tingkat Kecamatan Congkar, Senin (6/3/2023) tentang promosi sorgum sebagai tanaman pangan adaptif terhadap perubahan iklim yang perlu dikembangkan di Manggarai Timur untuk menjamin Ketahanan Pangan Masyarakat


Maka, alternatif jalan keluar yang masuk akal saat ini, lanjut Flory, adalah mendorong masyarakat untuk membudidaya sorgum sebagai salah tanaman pangan yang dikenal sangat adaptif terhadap ekstrem basah dan kering. Selain itu, perlu upaya Perlindungan mata air dengan penanaman pohon di sekitar sumber mata air sebagai salah satu langkah mitigasi dalam kebijakan penggunaan dana desa . Hal ini, lanjutnya, sesuai dengan surat edaran Bupati Manggarai Timur dalam petunjuk penggunaan Dana Desa Tahun 2023, yaitu desa Tanggap Perubahan Iklim. Dia juga menambahkan perlu ada kebijakan khusus terkait pengurangan penggunaan Pupuk Kimia yang berkontribusi terhadap terjadinya pemanasan global.

 

Pemerintah Kecamatan Congkar  menghadiri panen perdana sorgum di lahan milik komunitas Kampung Nelo.


Camat Congkar, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kepadal Desa Satar Nawang, Kepala Desa Golo Ngawan, Kepala Desa Golo Pari, dan staf dari Yayasan Ayo Indonesia untuk program VICRA di Manggarai Timur mengikuti panen perdana sorgum di lahan milik Kelompok Tani Mbau Sita Kampung Nelo, Desa Golo Ngawan, Selasa (7/3/2023). 
 
 
Camat Ismail menjelaskan tentang dampak Perubahan Iklim terhadap ketersedian pangan dan kebijakan pembangunan pemerintah mengatasi dampak perubahan iklim kepada masyarakat di Kampung Nelo, Desa Golo Ngawan, Manggarai Timur, Selasa (7/3/2023)


Husni Sandur, Ketua Kelompok Tani kepada tamu yang hadir pada panen perdana sorgum tersebut, menjelaskan Sorgum varietas super 1 dan kwali  yang dipanen hari ini di atas lahan kritis lingko Labe merupakan buah dari kerjasama Yayasan Ayo Indonesia dengan kelompok tani untuk mengatasi dampak perubahan iklim yang sedang terjadi sebab kejadian alam ini berpengaruh terhadap hasil pertanian, khususnya padi. Bersama seluruh anggota kelompok tani pada tanggal 12 Nopember tahun 2022, cerita Husni, di atas lahan berbatu berukuran luas kurang lebih 1/3 hektar ditanami sorgum meski dengan keadaan tanah tidak subur dan kondisi cuaca, kadang-kadang tidak ada hari hujan atau kering dan juga hujan dengan curah cukup tinggi.


Meskipun kondisi tanah dan cuaca demikinan, jelasnya, ternyata sorgum dapat tumbuh dengan baik sehingga berdasarkan pengalaman ini, kelompok berkomitmen untuk memperluas lahan budidaya sorgum pada tahun 2023, targetnya 4 hektar, bekerjasama dengan Pemerintah Kecamatan Congkar, Pemerintah Desa Golo Ngawan dan Yayasan Ayo Indonesia.


Upaya peningkatan produksi sorgum, jelas Husni, untuk mengantisipasi terjadinya gagal panen padi, sebab sekarang ini akibat dari hasil padi yang rendah bahkan ada petani yang mengalami gagal panen padi, harga beras sangat mahal, kenaikan harga jual untuk takaran 1 karung 50 kg mencapai 40 persen, para penjual beras mematok harga Rp 750.000/ karung, padahal biasanya dijual dengan harga Rp 500.000.


Sorgum dalam bahasa congkar dikenal dengan nama Kurut dan ditanam oleh orang tua dulu sebagai pangan yang dikonsumsi setiap hari dengan usia panen 7 bulan, sedangkan yang varietas super 1 dan kwali usia panennya hanya 4 bulan. Cara pengolahan paska panennya, kata Husni, terbilang sangat gampang, kurut dipanen kemudian dijemur, jika sudah kering bisa ditumbuk untuk menghasilkan biji atau biasa disebut beras kurut lalu bisa dimasak tanpa perlu dicampur dengan pangan jenis lain, seperti beras dan jagung.


Camat Congkar pada acara panen perdana sorgum, dihadapan kelompok tani dan undangan lainnya, menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Ayo Indonesia yang telah bekerjasama dengan pemerintah untuk memberdayakan petani pada sektor pertanian pangan di Kampung Nelo, Desa Golo Ngawan. Persoalan kita di Kecamatan Congkar dan juga seluruh dunia hari ini, ujarnya, adalah isu perubahan iklim. Perubahan iklim ini berdampak negatif terhadap pertumbuhan tanaman-tanaman pangan dan perdagangan, akibatnya ketersediaan pangan akan berkurang dan kesehatan manusia terganggu, hal ini merupakan ancaman bagi kita semua. Hasil tanaman perdagangan menurun dan hal ini berpengaruh langsung kepada penurunan pendapatan petani dan daya beli mereka untuk menjamin ketersediaan pangan terutama beras.

Panen Sorgum di lahan kritis di Kampung Nelo, Desa Golo Ngawan Kabupaten Manggarai Timur, Selasa (7/3/2023)


Lebih lanjut, camat Ismael menjelaskan, pada kondisi terakhir ini, kita di Kecamatan Congkar mengalami kelangkaan pangan, baik pangan beras, ubi-ubian maupun jagung. Selama melakukan kunjungan kerja ke desa-desa saya menemukan fakta bahwa para petani tidak menanam jagung dan keladi lagi sebagai sumber pangan, lebih banyak menanam padi lahan sawah tadah hujan yang luas arealnya mencapai 446,3 hektar dan juga beberapa jenis tanaman perdagangan. Tanaman perdagangan merupakan sumber pendapatan sedangkan sawah tadah hujan menjadi sumber pangan beras namun hasilnya terus berkurang dan tidak mampu mencukupi kebutuhan beras untuk masyarakat di Kecamatan Congkar. Kami juga menemukan fakta pada saat berkunjung ke para pedagang beras di kota kecamatan, dimana stok mereka sedikit dan ada diantara mereka tidak ada stok beras untuk dijual kepada masyarakat.


Oleh karena itu, menyikapi situasi atau ancaman kelangkaan pangan ini, tegas Ismail, jumlah kelompok harus ditambah lagi untuk mengembangkan tanaman sorgum di lahan sendiri atau di lahan milik petani lain yang tidak dikerjakan, kelompok bisa meminjamnya kepada pemilik lahan untuk tanam sorgum. “Jadi saya sebagai Pemerintah akan mendorong para kepada desa untuk mengalokasi dana desa bagi pengembangan sorgum sebagai sumber pangan bergizi, pendapatan alternatif (ekonomi) dan untuk menjaga ekologi. Pengalaman saya waktu menghadiri lokakarya pengembangan sorgum di Robek, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, ternyata sorgum tidak hanya diolah menjadi beras tetapi bisa menjadi bahan baku untuk aneka jenis kuliner, rasanya enak, dengan demikian sorgum bisa menjadi produk olahan yang mendatangkan uang bagi para petani,”ungkap Camat Ismael yang dikenal masyarakat sebagai penggerak untuk membangun kemandirian petani.


Sedangkan Rikhardus Roden Urut, Koodinator program VICRA di Mangggarai Timur mengatakan bahwa Yayasan Ayo Indonesia berperan tidak hanya untuk mendorong pemerintah memberi perhatian kepada isu perubahan iklim dalam kebijakan pembangunan tetapi bersama petani mengembangkan satu pendekatan pertanian pangan yang adaptif terhadap perubahan dan anomali iklim dengan menerapkan pertanian karbon sebagai input atau sarana produksi.

Ikuti tulisan menarik Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu