Post Truth sebagai Alat untuk Mencapai Kebenaran - Analisis - www.indonesiana.id
x

Iklan

Kokowoyo

Penghancur peradaban
Bergabung Sejak: 20 Maret 2023

Senin, 27 Maret 2023 06:26 WIB

Post Truth sebagai Alat untuk Mencapai Kebenaran

Artikel ini merupakan analisis rasional mengenai post-truth sebagai sebuah alat dan proses untuk mencapai kebenaran yang real.

Dibaca : 132 kali

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Post-truth merupakan sebuah istilah yang terdiri atas kata post yang berarti setelah atau pasca, dan truth yang berarti kebenaran. jadi dapat dikatakan post-truth sebagai seteleh atau pasca kebenaran, atau singkatnya sesuatu yang melampaui kebenaran. Post-truth dewasa ini, sering diartikan sebagai suatu hal negatif yang perlu untuk dijauhi dan dihakimi, karena post-truth berpotensi untuk memicu kegaduhan dan bentuk pembodohan kepada masyarakat karena post-truth merupakan sebuah kebohongan.

Inilah suatu hal yang perlu dipahami secara seksama mengenai bagaimana post-truth sebenarnya merupakan sebuah kebenaran yang tertunda sebab post-truth sejatinya bersifat hipotetik karena ia bukanlah sebuah finalitas tapi masih dalam taraf proses untuk mencapai dan membongkar kebenaran yang real.

Kegagalan dalam menalar dapat memicu sentimen terhadap post-truth itu sendiri, maka dari itu, perlu lah untuk memahami secara linear termasuk dalam segi historis atas post-truth itu sendiri. Perealisasian post-truth secara konkret adalah hoaks. Hoaks diartikan sebagai sebuah kebohongan yang berkonotasi negatif, definisi ini sebenarnya merupakan bukti atas ketidaktuntasan pendefinisian terhadap hoax itu sendiri. Jika berkaca pada konteks historisnya hoax sebenarnya adalah sebuah media untuk membongkar kebenaran yang real, hal ini dapat diungkap dalam peristiwa perang dunia ke-1.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Saat Amerika dan Jerman sedang dalam keadaan memanas dan Amerika melakukan ekspansi ke wilayah Jerman, Amerika mencoba untuk menyewa salah satu studio rekaman yang berada disana, Amerika sejatinya tidak melakukan penyerangan secara brutal, tapi ia mencoba untuk penyerangan dengan hoax. Mereka memutar playlist yang berisikan instrumental peperangan, yang seolah-olah menurut warga jerman itu adalah bentuk penyerangan Amerika kepada Jerman secara langsung.

Mendengar suara itu, warga dan tentara Jerman lari terbirit-birit tanpa mengetahui terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi. Mengacu kepada peristiwa tersebut, sebenarnya hoax yang dilakukan Amerika adalah sebuah proses untuk memunculkan kebenaran final, bahwa warga jerman memang menyegani Amerika. maka dari itu dapat dikatakan hoax yang merupakan bentuk post-truth itu adalah alat untuk memancing kebenaran yang nyata.

Dalam konteks filsafat, subjektifisme dalam post-modernisme itu sendiri memicu munculnya post-truth, seharusnya hal ini tidak menjadi kebimbangan subjek terhadap banyaknya pilihan, tapi tentang bagaimana subjek dapat menjadikan post-truth itu sendiri untuk memicu kebenaran yang real didalamnya. Sekali lagi saya katakan bahwa bentuk apapun yang mengacu kepada sentimen terhadap post-truth merupakan bentuk kegagalan dalam bernalar dan menjadi bukti konkret bahwa subjek terjebak dalam jurang paradox post-truth. 

 

Ikuti tulisan menarik Kokowoyo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Sajak Reranting

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 jam lalu

Dibaca : 165 kali

Terpopuler