x

Iklan

Eliana Ratmawati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Juli 2023

Minggu, 23 Juli 2023 06:24 WIB

Menunggu Senja Datang

Senja pasti datang setiap hari. Namun, suatu hari senja tak datang.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ini kisah seorang anak yang tidak diharapkan lahir di dunia. Anak itu tidak bisa memilih lahir di rahim siapa. Namun, setelah ia lahir dia harus menanggung semua beban dan dosa orang tuanya. Sepanjang hidupnya hanya dihadapi dengan masalah-masalah yang membuatnya selalu bersedih. Masalah bak sungai yang deras mengenai batu. Walaupun batu itu terkikis akibat derasnya sungai, batu harus tetap bertahan dan tidak boleh hanyut diterpa sungai yang deras. Sama dengan anak itu, walaupun masalah datang bertubi-tubi ia harus tetap bertahan dan kuat agar masalah tak memengaruhi mentalnya, yang sedikit demi sedikit melemah bak batu itu.
 
Masalah itu yang membuatnya mempertanyakan keberadaan kebahagiaan di dunia. Sejak lahir anak itu tidak pernah merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan bagai jarum di tumpukan jemari yang sulit ditemukan. Anak itu harus berjuang lebih besar dan keras supaya ada rasa kebahagiaan dalam dirinya. Namun, apa daya anak itu tetap tidak menemukan kebahagiaannya. Semakin dicari kebahagiaan selalu menjauh. Kebahagiaan hilang dan semakin menjauh entah kemana.
 
Anak itu hampir setiap hari datang ke suatu tempat berharap kebahagiaannya datang. Kebahagiaannya ada setiap anak itu pergi ke tempat itu, di mana bisa bertemu seorang yang bisa menghargainya dan menyayanginya. Kak Senja adalah kebahagiaannya. Di kala anak itu menangis saat orang tuanya berkelahi di rumah, kak Senja yang meredakan tangisannya. Di taman itu, ia bertemu kak Senja. Seorang perempuan yang sangat baik hati. Perempuan berambut panjang, berwarna hitam pekat, dengan senyuman semanis makanan kesukaannya. Perempuan yang berbanding terbalik dengan ibunya yang selalu jahat padanya. Beberapa hari sekali kak Senja membelikan makanan kesukaan anak itu yang dibeli di minimarket dekat taman.
 
Sudah beberapa hari kak Senja tidak datang menemuinya. Anak itu gelisah, ketakutan jika kak Senja menghilang. Setiap senja dia selalu mengingat kak Senja, kepergiannya membuatnya sangat bersedih. Ia harus kembali kerutinas hariannya menjual tisu di pinggir jalan tanpa seorang yang membuatnya bahagia. Walau tidak seberapa keuntungannya tapi jualan tisu cukup untuk makan sehari dan keluarganya. Anak itu berjualan sampai ada seseorang yang membeli dengan jumlah yang banyak. Dia kegirangan dan menerima uang itu sambil mencari kembalian di kantong celananya. Kantong celananya terasa penuh dengan uang recehan dan beberapa lembar uang kertas. Tanpa disadarinya, ada kertas yang jatuh dari kantongnya. Anak itu membungkuk dan mengambil kertas tersebut. Dibukanya kertas itu dan berisi nomor telepon kak Senja, ia masih ingat. Kak Senja pernah memberikan nomor telepon kepadanya. Namun, anak itu tidak mempunyai ponsel untuk menghubunginya.
 
“Tidak ada kembalian nak?” tanya bapak itu dengan kebingungan karena anak itu lama memberinya kembalian.
 
“Ada pak, sebentar.” Anak itu memberikan uang kembaliannya ke bapak itu.
Bapak itu pun menerima uang kembalian dari anak itu, sebelum kepergiannya, anak itu memanggil bapak itu kembali.
 
“Pak, bapak bawa ponsel ga?” tanyanya.
 
“Bawa, buat apa ya nak?” jawabnya sambil mengambil ponsel tersebut dari kantong celananya.
 
“Boleh minjem ga pak? buat telepon kakak saya sebentar saja.” Anak itu berbohong supaya bapak itu meminjamkan ponsel tersebut.
 
"Boleh nak." Bapak itu memberikan ponselnya ke anak itu untuk dipinjam. Dia menunggunya sambil duduk di pinggir jalan.
 
“Terima kasih ya pak” jawab anak itu dengan senangnya.
 
Dia pun meminjam ponsel dari bapak yang baik itu. Dan mulai mengangkat kertas yang berisi nomor telepon kak Senja. Dia mengetik angka demi angka dengan sangat hati-hati agar tidak ada yang salah. Setelah nomor itu sudah lengkap, dia mencoba untuk memencet ikon telepon itu. Berharap Kak Senja menjawabnya.
 
Telepon itu pun diangkat oleh seseorang laki-laki dengan suara yang berat. Anak itu kaget siapa yang menjawabnya. Tidak mungkin itu suara kak Senja.
 
“Halo, siapa ya ini.” tanya orang dengan suara berat itu.
 
“Halo juga, ini nomornya kak Senja bukan?” jawabnya dengan kebingungan.
 
Anak itu sangat merindukan kak Senja, di mana dia menemukan kebahagiaan seutuhnya.
 
“Iya, ini nomornya kak Senja. Saya ayahnya.” jawab laki-laki itu.
 
“Om, kak Senja ada ga?” tanya anak itu dengan senangnya karena kak Senja akan menghubunginya.
 
“Kamu adik yang sering ketemuan sama Senja di taman ya.” tanyanya, laki-laki itu sepertinya tahu mengenai anak itu.
 
“Iya Om,” dia menjawabnya, dalam hatinya sebentar lagi pasti kak Senja yang akan mengambil alih teleponnya.
 
“Maaf dik, om baru memberi tahu kamu. Kak Senja meninggal tiga hari yang lalu.” Jawab laki-laki itu dengan suara yang semakin mengecil.
 
“Kak Senja meninggal?” tanya anak itu dengan tidak percaya.
 
“Iya Senja sudah meninggal dan dua hari yang lalu jasadnya dikuburkan.” jawab laki-laki itu.
 
Suara anak itu terasa seperti tercekik, tidak sanggup untuk berbicara kembali. Butiran air mata menetes di matanya dan membasahi seluruh pipinya. Dia mengelap tangisannya dengan baju lusuhya, ia tidak ingin memakai tisu yang dijualnya.
 
“Adik ...” sahutnya.
 
Dia tidak bisa menjawabnya kembali.
 
“Dik, nanti sore kita ketemuan di taman ya. Senja nitip surat ke saya untukmu dik.” ujar laki-laki itu.
 
“Dik ...” sahut laki-laki itu kembali memastikan jika telepon masih tersambung.
 
“Oke om.” Suaranya yang tersisa hanya bisa menjawab itu saja. Dia mencoba menahan tangisannya namun bukan semakin membaik tapi tangisannya semakin sulit untuk ditahan. Ponsel itu ia kembalikan pada pemiliknya, bapak baik itu yang sudah menunggu. Dia sangat berterima kasih ke bapak itu dan secepatnya pergi ke taman, tanpa berpikir lagi.
 
***
Sesampainya dia di taman itu, dia mencari tempat duduk yang berhadapan langsung dengan danau kecil. Taman itu tidak seperti biasanya, biasanya dia sangat senang pergi ke sana tapi kali ini tidak. Berharap kebagagiaan yang datang melainkan kesedihan yang datang.  Badannya masih terasa lemas. Tangisannya pun masih berlanjut. Dia tidak pernah menyangka kak Senja sudah pergi selamanya.
 
Langit sudah berubah menjadi jingga, burung-burung beterbangan di langit, tanda taman itu sudah mulai sepi. Dia masih menangis tersedu-sedu. Entah bagaimana caranya untuk berhenti menangis. Dia tidak peduli berapa orang yang lalu-lalang melihat dirinya menangis. Sampai ada seseorang datang kepadanya. Laki-laki bertubuh besar dengan rambut berwarna putih. Laki-laki itu menghampirinya.
 
“Adik, temannya Senja ya.” tanya laki-laki itu, laki-laki itu duduk di sampingnya dan memeluknya dengan sangat hangat. Pelukan yang ia tak pernah dapatkan dari orang tuanya.
 
“Ini surat dari Senja untukmu, terima kasih sudah membuat Senja lebih bahagia. Senja cerita banyak tentangmu. Cerita tentang awal pertemuan denganmu dan banyak sekali. Senja senang karena saat bertemu denganmu, dia merasa seperti punya seorang adik. Ini surat dari Senja untukmu, Saya pamit pergi.” Laki-laki itu pun memberinya sebuah surat. Setelah itu ia pergi menjauh dari pandangannya, sampai bayangannya tidak terlihat kembali.
 
Surat yang digenggamnya berwarna putih polos dan di depannya ada tulisan "Untuk Angga". Dia membukanya perlahan-lahan dan melihat sebuah cokelat, makanan kesukaannya. Di bawah cokelat ada sebuah kertas. Kertas putih bergaris, dan hanya ada satu halaman berisi tulisan. Tulisannya sangat indah dan rapi, dengan tinta berwarwa biru.
 
Angga, kak Senja senang bisa bertemu denganmu. Kak Senja jadi tahu ada seorang sekuat dirimu, kakak bangga. kak Senja sekarang sudah tidak sakit lagi dan sudah bertemu ibu kak Senja di sini. Kamu pasti bisa melewati masalahmu Angga, jangan bersedih aku selalu ada di hatimu, temui aku saat senja datang Angga.
Jika kamu mencari kebahagiaan, kamu tidak akan mendapatkannya. Kebahagiaan itu sepenuhnya dari dirimu sendiri Angga, bukan dari orang lain. Tidak apa jika kamu tidak mengerti maksud kaka, pasti suatu hari kamu akan mengerti.
 
Terima kasih Angga...
Senja, 24 Oktober 2022
 
Tangisannya semakin menjadi-jadi, dia telah kehilangan seorang yang dia sayangi. Namun, dia tidak boleh bersedih kembali, nanti kak Senja juga ikut bersedih di sana. Anak itu pun menutup suratnya dan pergi dari taman, taman itu pasti menjadi tempat yang tak pernah ia lupakan. Taman yang menemukannya dengan seorang yang membuatnya bahagia.
 
"Kak Senja, aku akan selalu mengingatmu setiap senja datang. Terima kasih sudah pernah mewarnai hidupku walau hanya sesaat," ujarnya dalam hati. Dia pun mencoba ikhlas pada keadaannya. Dia akan melanjutkan hidupnya kembali tanpa seorang yang ia anggap seperti kakaknya sendiri, yang ia anggap menjadi kebahagiaannya.

Ikuti tulisan menarik Eliana Ratmawati lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Menggenggam Dunia

Oleh: Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Selasa, 9 April 2024 13:46 WIB

Terkini

Terpopuler

Menggenggam Dunia

Oleh: Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Selasa, 9 April 2024 13:46 WIB