x

image: Love Devani

Iklan

Fadzul Haka

Cuma pengelana lintas disiplin dan pemain akrobat pikiran. Bagi yang mau berdiskusi silakan kontak saya: fadzul.haka@gmail.com
Bergabung Sejak: 2 Desember 2021

Senin, 24 Juli 2023 19:45 WIB

Belajar dari Anomali dengan Dialectic of Doing

Ketika ada sesuatu yang janggal dalam rutinitas kita, terbukalah dan arahkan rasa penasaran Anda. Siapa tahu di situ kita belajar hard skill dan soft skill baru tanpa perlu ikut kursus.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Belajar merupakan proses yang berkelanjutan dan tidak berhenti dengan kelulusan dari sekolah atau kampus. Termasuk di tempat kerja, terdapat hal baru yang dipelajari ketika mendapat tugas baru atau memecahkan masalah. Namun, bagaimana kita mempelajari hal baru dan mengasah keterampilan di tengah situasi yang terasa stagnan? Pusatkanlah perhatian, terutama pada aktivitas dan anomali yang sesungguhnya ada di sana tetapi mungkin saja terlewatkan atau segera diabaikan.

Ada hal menarik tentang belajar dan aktivitas manusia yang saya pelajari dari teori perkembangan Lev Semyonovich Vygotsky (1896-1934) ketika menyusun skripsi. Saya kira pelajaran penting yang bisa diambil dari teori dalam manuskrip berjudul Concrete Human Psychology (1989) adalah bagaimana kita menjadi spesialis dalam suatu bidang pekerjaan. Sebuah manuskrip yang tidak sempat diterbitkan tersebut hingga akhir hayat Vygotsky. Meskipun agak terlupakan zaman, saya kira isinya cukup relevan dengan situasi kita hari ini yang mungkin saja akan memulai ronde baru persaingan antara manusia dan mesin, khususnya AI.

Apa yang diajarkan oleh Vygotsky di sini adalah bahwa belajar merupakan aktivitas konkrit menyeluruh yang bersumber dari luar, alih-alih sudah tersedia di dalam otak dan atau pikiran. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Vygotsky mengenai kemunculan fungsi psikis yang lebih luhur, “the relation between higher psychological functions was at one time a physical relation between people ” (1989, hal. 56). Bahkan, relasi fisik di antara orang-orang tersebut, tidak semata-mata sosial, melainkan meliputi kehidupan dalam masyarakat (societal) dengan kompleksitas struktur dan tatanannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Implikasi dari basis kehidupan masyarakat terhadap pembentukan psikis individu adalah aktivitas yang kita lakukan berpusat pada pemenuhan kebutuhan secara kolektif (societal motive). Maka dari itu, kita mengembangkan diri, karakter, dan keterampilan untuk memenuhi societal motive melalui aktivitas yang relevan. Seperti halnya seorang yang berbakat dalam menggunakan alat-alat pertukangan, kemudian menemukan tugas-tugas dari luar yang mengasah keterampilannya, dan akhirnya setelah mahir dia membuka bengkel sendiri.

Akitivas yang relevan terhadap societal motive merupakan kuncinya. Sehingga istilah aktivitas itu sendiri memiliki pengertian tertentu dalam pemikiran Vygotsky. Menurut psikolog Soviet tersebut, aktivitas dibedakan menjadi dua, aktiv’nost’ dan dejaltel ‘nost’. Dalam pengertian pertama aktivitas sekedar serangkaian tugas yang sekedar harus diselesaikan. Sedangkan dalam pengertian yang kedua, aktivitas merupakan jaringan tindakan yang menempatkan seseorang dalam hubungan dengan situasi kemasyarakatannya.

Mari kita kunjungi sebuah tempat pembesaran salmon bersama seorang peneliti, Wolff-Michael Roth. Di sana kita melihat seorang petugas bernama Erika yang akan menebar pakan ke kolam. Mr. Roth berkata, “Perhatikan baik-baik apa yang dilakukannya!” Tidak ada yang istimewa, Erika melihat keadaan kolam, beberapa ikan salmon di permukaan tiba-tiba menyelam seakan menghindari pandangannya. Di sudut lain, sekelompok salmon tampak berkumpul. Dengan segenggam biji pelet, dia tebar pakan tersebut, lalu memperhatikan kembali seberapa jauh tersebar dan seberapa aktif ikan-ikan melahapnya.

“Mereka bisa saja membeli sebuah mesin pemberi pakan.” Ujar Mr. Roth, “Akan tetapi, apakah akan sebaik orang itu?”

Mesin memang memiliki sensor temperatur dan segala perangkat yang memungkinkan modul otomatisasi bekerja sesuai jadwal dan proporsinya. Bahkan juga mengumpulkan data untuk kita pelajari. Jika mesin pakan tersebut melihat segalanya dalam parameter kuantitas (suhu, volume kolam, jadwal, dan lainnya), maka Erika memposisikan dirinya di tengah situasi dan melakukan pengamatan aktif secara menyeluruh untuk mengambil keputusan. Tidak hanya data kuantitatif, tetapi juga asesmen secara kualitatif.

Keputusan sederhana dalam pekerjaannya tersebut perlu dipelajari melalui proses timbal balik dengan fakta di lapangan dan konsekuensinya. Bila memberi pakan berlebih, maka tidak hanya mubazir tetapi juga jika dibiarkan akan menjadi polutan di dasar kolam yang akhirnya menegaruhi kualitas panen. Tentu, masalah ini bisa dihindari dengan memberi pakan lebih sedikit, tetapi bagaimana jika hal tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan salmon dan target yang ingin dicapai perusahaan? Ternyata setelah bertahun-tahun mendapat umpan-balik, Erika tahu bahwa ada kalanya ikan jadi lebih aktif sehingga perlu lebih banyak diberi pakan, dan dia perlu mengorientasikan posisi dan gerakan memberi pakan yang efektif – anggaplah ternyata caranya seperti melempar frisbee alih-alih dengan gerakan menyawer.

Inilah dialectic of doing yang dimaksud, bahwa seseorang mengalami proses pembelajaran secara aktif ketika dihadapkan pada anomali dalam setting yang familiar. Aktivitas yang mereka lakukan merupakan proses interpretasi yang dilakukan untuk merespon anomali tersebut. Sehingga, manusia belajar untuk membuat suatu keputusan yang nantinya memenuhi societal motive, baik secara langsung atau tidak langsung. Seiring dengan proses mengambil keputusan dan mengujinya, keterampilan teknis dan wawasan seseorang turut terasah sehingga dapat mencapai kepakaran di bidangnya.

Hal serupa saya temukan selama menjadi Community Organizer untuk Program Inklusi di LPKA Kelas II Bandung. Terutama ketika saya terlibat dalam pelatihan keterampilan melalui budidaya jamur tiram untuk anak binaan. Pada pelatihan pertama di tahun lalu, saya mencatat penjelasan dari Kang Ceppy Taufik Rahman tentang prosedur membuat bag log tanpa ada demonstrasi, hanya contoh bag log yang sudah siap untuk dirawat. Selang beberapa minggu kemudian, saya berinisiatif untuk membuat bag log sendiri memanfaatkan bahan yang ada.

“Tampaknya enggak sulit-sulit amat.” Pikir saya, “kita Cuma butuh serbuk gergaji, dedak, dan kapur untuk dicampur secara rata, kemudian dikukus hingga 100 derajat selama 6-8 jam, didingankan semalam, lalu diberi bibit.”

Semua prosedur itu saya lakukan dan seminggu kemudian tampak bahwa bibitnya pun mulai berkembang seperti kapas. Waktu itu, saya belum menyadari ada yang ganjil jika seandainya hal ini dikerjakan oleh seorang ahli. Tidak ada perkebangan sama sekali walau satu bulan telah berlalu. Dari situ, saya berspekulasi murni dari catatan yang ada dan sedikit informasi tambahan dari hasil googling. Saya mengira-ngira bahwa kegagalan ini dikarenakan kurangnya asupan oksigen, campuran bag log yang terlalu banyak air, serbuk yang terlalu kasar, dan mungkin juga bahan serbuk gergaji yang tidak homogen dan dari jenis kayu yang keras.

Di lain waktu, saya menguji kembali pembuatan bag log tersebut dengan bagian yang bisa saya kontrol, yaitu kadar air. Karena saya tidak terlalu tahu rasio kelembapan yang tepat, maka setelah bahan dasar tercampur dan dimasukan dalam kantung plastik, saya menambahkan air dengan takaran yang berbeda-beda untuk melihat rasio mana yang paling sesuai. Meskipun tidak berhasil membuat bag log yang bisa dirawat, setidaknya dari sini saya belajar tentang rasio yang tepat.

Begitu kami memulai pelatihan lanjutan di bulan April lalu, pengalaman kegagalan ini memfamiliarkan saya dengan pekerjaan yang akan dilakukan, bahkan memberi gambaran tentang hasilnya meskipun belum tentu bisa dijelaskan. Pada pelatihan ini, asumsi saya terkonfirmasi, seperti penggunaan serbuk gergaji yang masih kasar dan keras, rasio kadar air, dan perlunya sumber udara. Di sini Pak Slamet menjelaskan bahwa kadar air penting untuk pelapukan, tetapi jika terlalu basah justru menghambat penyebaran mycelium jamur. Begitu juga dengan serbuk yang kasar dan berkayu keras.

Meskipun kegagalan ini merupakan pembelajaran yang berharga, tetapi akan lebih baik jika diantisipasi dengan pengamatan yang lebih jeli dan menyeluruh. Bahwa yang diamati tidak serta merta bahan-bahan yang mesti diproses secara step by step. Akan tetapi, ada sebuah keterkaitan yang membuat sebuah bahan dan alat kerja jadi saling terkait dan belum tentu bisa digantikan. Sehingga anomali merupakan gejala ketika keterkaitan tersebut tidak terpenuhi. Tepat atau tidaknya respon kita terhadap anomali pada gilirannya menunjukkan sedalam apa pemahaman dan seberapa berpengalaman kita dengan hal-hal yang dikerjakan.

Ketika kita mulai melihat adanya suatu keterkaitan antara hal-hal yang dikerjakan, terdapat penyadaran atas societal motive yang hasilnya bisa berupa inovasi produk, metode/teknik alternatif, juga etos kerja dan kesungguh-sungguhan. Sebagaimana Erika yang mempadukan pengamatan, keadaan kolam, informasi dalam pikiran, dan keterampilannya dalam menjaga kesehatan ikan salmon. Bahkan lebih jauh lagi, apa yang dipelajarinya juga merelasikan Erika dengan pekerja lain yang dilatihnya, pemilik perusahaan yang mendapat keutungan dan menghemat pengeluaran, dan lebih luas lagi, kepuasan pelanggan terhadap produk ikan salmon yang berkualitas.

Bagi saya, apa diajarkan oleh Vygotsky dari manuskripnya tersebut adalah bagaimana tindakan belajar seseorang bisa mengembangkan masyarakat. Bermula dari apa yang sudah berjalan dan diterima secara umum, kemudian seseorang yang jeli dan kritis menemukan tantangan baru yang membuatnya harus menemukan pemecahan masalah. Dan akhirnya, solusi yang inovatif dan bermanfaat tersebut berkembang menjadi produk, tren, cara pandang, dan bagian dari gaya hidup masyarakat.

Referensi

Lee, Y. J., & Roth, W. M. (2005). The (unlikely) trajectory of learning in a salmon hatchery. Journal of Workplace Learning17(4), 243-254.

Vygotsky, L. S. (1989). Concrete human psychology. Soviet psychology27(2), 53-77.

Ikuti tulisan menarik Fadzul Haka lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB