x

Pemandangan hutan pinus fatumnasi bak diluar negri

Iklan

Didi Adrian

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Februari 2023

Sabtu, 9 September 2023 08:06 WIB

Kupu-kupu Kecil dari Desa

Sumber daya hutan adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dikelola sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat dan keberlanjutan pengelolaan lingkungan dalam jangka panjang.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Lelah masih terasa dari perjalanan dinas selama sepuluh hari ke  9 desa  di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat bulan Juni 2023 lalu. Namun ada kepuasan tipis dan optimis mulai terbangun dari rangkaian kegiatan sepuluh hari tersebut.

 

Acara hari terakhir ditutup dengan penanaman mangrove bersama di tepi hutan satu desa pesisir di hamparan bentang Kubu Raya, Kalimantan Barat. Kegiatan penanaman yang dikawal oleh LPHD (Lembaga Pengelola Hutan Desa) ini bagian dari rencana aksi multi usaha dari program Perhutanan Sosial yang dilakukan di hutan desa, yang berupa rawa mangrove.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Program besar Perhutanan Sosial memotret tiga penekanan utama: Kelola Kawasan, Kelola Lembaga dan Kelola Usaha. Menanam mangrove hari ini adalah satu satu butir pelaksanaan Kelola Kawasan. Sebanyak 2.500 bibit mangrove  sudah ditanam, agar hutan mangrove desa pulih dan rimbun kembali.

 

Inklusif

Gagasan Program Perhutanan Sosial memiliki sejarah panjang sejak tahun 1999. Kemudian dituangkan secara resmi pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Perhutanan Sosial.

Ada upaya serius  pemerintah untuk melakukan koreksi tata kelola perhutanan masa lalu. Perhutanan masa Orde Baru di tahun 1970-an hanya memandang hutan dari aspek ekonomi belaka. Hutan baru bermanfaat jika sudah berubah bentuk dan peruntukannya. Menyedihkan. Hutan negara berjuta-juta hektar diserahkan kepada pengusaha untuk dikelola sebesar-besarnya  kepentingan bisnis. Masyarakat desa sekitar hutan cukup nikmati rembesan ekonomi ala kadarnya. Padahal sumber daya hutan adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dikelola sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat dan keberlanjutan pengelolaan lingkungan  dalam jangka panjang.

Kini, akses dan kesempatan mengelola hutan dibuka selebar-lebarnya kepada desa dan masyarakat sekitar hutan untuk manfaat bersama. Mereka boleh secara legal mengelola dan memanfaatkan kawasan hutan dengan cara-cara yang ramah lingkungan tanpa harus merusak hutan.  Ada semangat inklusif untuk menjawab ruh dari konstitusi kita.

Kejadian salah urus perhutanan berpuluh-puluh tahun coba diperlunak dewasa ini dengan istilah keterlanjuran. Program Perhutanan Sosial muncul sebagai kesadaran kolektif untuk membereskan ketimpangan pengelolaan sumber daya alam.

 

  

Narasi atau Aksi

Melalui Perhutanan Sosial, masyarakat desa  melalui LPHD (Lembaga Pengelola Hutan Desa) punya hak yang sama seperti pengusaha untuk mengelola hutan negara  selama 35 tahun baik berupa kawasan hutan produksi, hutan lindung, atau kawasan hutan konservasi sesuai dengan fungsinya.

Selain menjaga 3 aspek utama hutan: Ekologi, Ekonomi dan Sosial, masyarakat desa punya 4 pola pemanfaatan yang bisa dilakukan, yakni agroforestry, silvofishery, silvopastura dan jasa lingkungan ekosistem. Jasa lingkungan ekosistem yang dimaksud adalah ekosistem penyerap karbon.

Isu karbon makin lama makin menghangat, namun acap kali ada kesenjangan narasi dan aksi dari berbagai ruang. Istilah dan diksi-diksi ilmiah yang rumit di ruang-ruang rapat, diskusi, seminar, konperensi atau hotel-hotel yang nyaman, dingin dan wangi. Sementara di rumah-rumah kampung, warung, bilik desa atau pos jaga tepi hutan perlu narasi sederhana sehari-hari.

Ibarat sebuah perahu, pesan kunci tentang kelimpahan karbon, pemanasan global dan perubahan iklim ada dalam perahu yang sama dengan emisi gas rumah kaca, karbon, dan bisnis karbon.  Semua makhluk hidup akan mengeluarkan ‘karbon’ khususnya dalam bentuk senyawa karbon dioksida. Karbon dioksida salah satunya dikeluarkan tiap makhluk hidup dari proses pernafasan. Kita menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Tumbuhan dan pepohonan justru sebaliknya: menghirup karbon dioksida dan mengeluarkan oksigen. 

 

Bisnis Karbon

Atmosfir bumi sebenarnya sudah jenuh dengan emisi karbon dari manusia yang rajin membakar bahan bakar fosil sejak Revolusi Industri. Para ahli mengungkapkan emisi karbon sekali sudah disemprotkan ke atmosfir, akan tetap berada di atmosfir selama 300 hingga 1000 tahun. Sampai ada sistem atau ekosistem yang mampu menyerapnya dan menjadi netral. Dan itu adalah hutan. Pertanyaannya apa kita mampu menjaga tutupan hutan utuh sampai jangka waktu 1000 tahun?

 

Kembali ke hutan dan Perhutanan Sosial. Sepetak hutan mangrove utuh di hamparan desa pesisir Kubu Raya akan makin banyak berjasa dalam waktu dekat. Tersebab kemampuan hutan mangrove menyerap dan menyimpan karbon. Satu hektar hutan mangrove mampu menyimpan karbon 5 kali lebih banyak daripada hutan dataran tinggi. Ini adalah modal awal dalam kerangka kerja sama investasi multi usaha Perhutanan Sosial.

Kemampuan hutan desa dalam menyerap karbon bisa menjadi penyeimbang atau memberi offset bagi perusahaan pencemar lingkungan atau penghasil karbon yang dihitung menurut karbon unit. Ini bernilai uang  dan kemudian mendapat istilah kredit karbon dalam  perdagangan karbon di bursa karbon.  Pihak desa menjadi pemasok kredit karbon, perusahaan pencemar lingkungan atau lembaga yang perlu kredit karbon menjadi pembeli.

Indonesia termasuk negara dengan tutupan  hutan  yang masih cukup luas dan tersebar di berbagai wilayah, sehingga Indonesia memiliki kemampuan serap karbon dioksida yang tinggi untuk menghasilkan udara bersih.

 

Semakin kesini, kontribusi Indonesia akan cukup besar dalam perdagangan karbon internasional.  Buktikan  bahwa Indonesia itu bukan spot kecil di peta dunia seperti celetukan warganet bahwa Indonesia menjadi salah satu obyek tak kasat mata terbesar di garis khatulistiwa.

 

Siapa Yang Mesti Diselamatkan: Bumi Atau Kita?

Planet Bumi sudah mengalami pemanasan dan pendinginan berganti-ganti secara alami berjuta-juta tahun lalu. Tanpa adanya kehadiran manusia. Manusia baru ada sekitar ratusan ribu tahun lalu di bumi dan sudah membuat banyak perubahan termasuk mengubah tabiat hutan yang dulu banyak menyimpan karbon sekarang menjadi penyuplai karbon: pembukaan lahan, pertanian, industri hingga kebakaran.

Karbon dan gas rumah kaca lain bukannya tanpa manfaat. Sejarah awalnya karbon dioksida menaikkan suhu planet bumi  sampai bumi layak huni dan kehidupan bermunculan. Akan tetapi, karbon dan atau gas rumah kaca yang terus-menerus bertambah dan menumpuk di atmosfir jadi penyebab peningkatan suhu bumi.

Rentetannya berdampak kepada senarai bencana yang menanti kita, dan makin sering terjadi: kemarau ekstrim, kebakaran, krisis air, banjir, gagal panen, krisis pangan hingga kenaikan muka air laut dan pulau-pulau kecil tenggelam. Perubahan iklim global yang berdampak buruk pada lingkungan dan kelangsungan hidup manusia. David Wallace-Wells dalam buku The Uninhabitable Earth menyampaikan bahwa kita sekarang tak perlu menunggu masa depan atau menyongsong masa depan, karena masa depan itu sendiri sudah hadir menyongsong kita: bencana perubahan iklim.

Kupu-kupu kecil

Kita hidup di bumi yang mestinya sama-sama kita lindungi. Tanggung jawab perlindungan lingkungan bukan semata-mata tugas pemerintah, tapi juga tugas kita sebagai pribadi, tugas kita semua. Semua apa yang kita lakukan hari ini adalah melulu siklus karbon. Menghapus sama sekali jejak karbon adalah tidak mungkin.

Mulailah dengan menyeimbangkan karbon (carbon offset) , dimana pengurangan atau penghilangan emisi karbon untuk kompensasi emisi yang dibuat tempat lain. Sekecil apapun upaya itu, tapi harus dimulai. Kita tak bisa bermewah-mewah  merasa  terus punya kelimpahan waktu dan atau menanti sampai ada solusi sempurna.

Dari cerita di awal tulisan, saat acara penanaman mangrove di hutan desa di pesisir Kubu Raya, Kalimantan Barat.  Dengan tangan masih belepotan lumpur, Ketua LPHD (Lembaga Pengelola Hutan Desa) bergumam sambil berkacak pinggang satu tangan,”Inilah salah satu sumbangsih kecil kami dari desa untuk dunia.”  

 

Ucapannya mengingatkan saya pada Teori Efek Kupu-kupu (Butterfly Effect): satu kepakan kecil kupu-kupu di hutan belantara satu tempat terpencil dapat menghasilkan badai di bagian dunia lain.  Istilah yang pertama kali dipakai oleh Edward Norton Lorenz (seorang ahli meteorologi Amerika Serikat) ini merujuk pada sistem saling ketergantungan yang sangat peka terhadap kondisi awal dimana perubahan yang hanya sedikit pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Ya, seperti itulah kepakan kupu-kupu kecil dari desa pesisir Kubu Raya, Kalimantan Barat.

 

Ikuti tulisan menarik Didi Adrian lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan