x

foto ini menggambarkan suasana seminar berjudul Kedaireka Ecosystem : RekaTalks 2023\xd Kedaireka Ecosystem : RekaTalks 2023 di The Tribrata Darmawangsa Jakarta, tanggal 14 Agustus 2014

Iklan

Dr. Novalia Agung Wardjito Ardhoyo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 September 2023

Sabtu, 16 September 2023 14:23 WIB

Ada Apa Dengan Program Kedaireka?

Pentingnya kolaborasi perguruan tinggi dengan industri dalam proses hilirisasi inovasi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ada Apa Dengan Program Kedaireka?

Oleh: Dr. N. Agung W. Ardhoyo

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Kedaireka merupakan akselerasi perkawinan massal perguruan tinggi dan kalangan industri sebagai syarat mendapatkan dana matching fund sehingga menghasilkan ekosistem reka cipta berbasis kebutuhan yang mampu untuk ditumbuhkembangkan”

- Nadiem Anwar Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Pada perkembangannya, bentuk kolaborasi dapat melibatkan berbagai pihak dan dikenal dengan istilah kolaborasi pentahelix. Menurut Bryson dkk. (2006) kolaborasi didefinisikan sebagai menghubungkan dua atau lebih organisasi untuk mencapai hasil bersama. Agar kolaborasi dapat berjalan baik, diperlukan padanan (matching fund) dari masing-masing pihak. Beberapa riset yang mendukung mengenai pentingnya matching fund seperti dalam proyek kolaborasi inovasi kedaireka antaralain hasil riset Pinheiro dkk., pada tahun 2015, bahwa perguruan tinggi memainkan peran penting dalam mencapai pertumbuhan ekonomi dalam masyarakat berbasis pengetahuan saat ini (Pinheiro dkk. 2015). Kemudian menurut Bekkers dan Freitas, bahwa hingga 10 persen produk atau proses baru didasarkan pada kontribusi penelitian akademis (Bekkers dan Bodas Freitas 2008). Bentuk kolaborasi keduanya dapat berada pada level input, proses, dan output (Kumar, 2019). Dengan demikian, program Kedaireka bertema kolaborasi industri-perguruan tinggi diperlukan dalam menghadapi era saat ini.

Faktor-faktor yang menjadi alasan utama mengapa industri perlu berkolaborasi dengan perguruan tinggi atau akademia seperti dalam program Kedaireka, antara lain bahwa perusahaan (industri) mendapatkan keuntungan dari sumber daya manusia yang berkualifikasi tinggi seperti peneliti atau mahasiswa (Myoken 2013); perusahaan mendapatkan akses terhadap teknologi dan pengetahuan (Barnes dkk. 2002); dan perusahaan (industri) dapat menggunakan infrastruktur penelitian yang mahal (Ankrah dan AL-Tabbaa 2015). Kemudian perguruan tinggi mendapatkan keuntungan dari pendanaan tambahan yang diberikan, dari akses terhadap peralatan industri atau dari pendapatan perizinan atau paten (Barnes dkk. 2002). Mengingat dampak dan relevansi tersebut, penting untuk memastikan keberhasilan pengelolaan program Kedaireka dalam proyek kolaborasi perguruan tinggi (universitas) dengan industri dalam rangka mewujudkan keuntungan bagi kedua belah pihak.

Dalam praktiknya selain kewajiban melaksanakan kegiatan belajar mengajar, para akademia diarahkan untuk mengembangkan bidang penelitian dan menciptakan inovasi. Akademia juga diarahkan untuk mengomersialkan pengetahuan akademis dalam proyek kolaborasi pentahelix. Program-program komersialisasi pengetahuan akademis seperti disampaikan Marhl dan Pausits pada 2011 dan Perkmann dkk pada 2013 adalah melalui program pendidikan berkelanjutan, paten, transfer teknologi, perwujudan taman sains dan program inkubator (Marhl dan Pausits 2011; Perkmann dkk. 2013). Agar dapat mencapai padanan (matching fund), maka perguruan tinggi maupun industri perlu saling beradaptasi dalam mewujudkan proyek kolaborasi inovasi Kedaireka. Komponen-komponen yang akan mengalami adaptasi di antaranya sistem keuangan, sistem dan waktu kerja, sumber daya manusia, hingga peralatan. Pihak-pihak yang berkolaborasi akan beradaptasi dengan keadaan dan budaya yang berbeda (Logar et al. 2001). Dengan demikian, kemampuan semua pihak dalam belajar dan memahami satu sama lain sangat penting untuk keberhasilan kolaborasi.

 

References:

Ankrah S, AL-Tabbaa O (2015) Universities–industry collaboration: a systematic review. Scand J Manag 31:387–408.

Barnes T, Pashby I, Gibbons A (2002) Effective university–industry interaction: a multi-case evaluation of collaborative R&D projects. Eur Manag J 20:272–285.

Bekkers R, Bodas Freitas IM (2008) Analysing knowledge transfer channels between universities and industry: to what degree do sectors also matter? Res Policy 37:1837–1853.

Bruneela, J., D'Esteb, P. and Saltera, A. (2010). Investigating the Factors that Diminish the Barriers to University-Industry Collaboration.

Bryson JM, Crosby BC, Stone MM (2006) The design and implementation of cross-sector collaborations: propositions from the literature. Public Adm Rev 66:44–55.

Kumar, R. Satish. (2019). Handbook of Research on Ethics, Entrepreneurship, and Governance in Higher Education: A mutually beneficial partnership between industry and academia

Logar CM, Ponzurick TG, Spears JR, Russo France K (2001) Commercializing intellectual property: a university–industry alliance for new product development. J Prod Brand Manag 10:206–217.

Marhl M, Pausits A (2011) Third mission indicators for new ranking methodologies. Eval High Educ 5:43–64

Myoken Y (2013) The role of geographical proximity in university and industry collaboration: case study of Japanese companies in the UK. Int J Technol Trans Commer 12:43–61.

Pinheiro ML, Lucas C, Pinho JC (2015b) Social network analysis as a new methodological tool to understand university-industry cooperation. Int J Innov Manag 19:1550013.

Ikuti tulisan menarik Dr. Novalia Agung Wardjito Ardhoyo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan