x

Iklan

Frank Jiib

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Senin, 23 Oktober 2023 22:34 WIB

Penelusuran Berdarah (8)

Pada saat itu di luar hujan telah turun dengan deras, sehingga membuat suhu udara kembali turun yang berimbas dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Ricky segera membuka kunci pintu kamarnya lalu masuk ke dalam bersama Usman dan Andre. Sedangkan untuk kamar Vanesa berada tepat di sebelah kamar Ricky.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

9

Sambil menunggu Usman datang, Vanesa dan Ricky berjalan menuju ke sebuah bongkahan batu besar yang berada di depan rumah seorang warga, keduanya lalu duduk berdampingan di atas bongkahan batu besar itu. Berdua mereka mengamati lalu-lalang kendaraan yang melintas di jalan raya sambil pikiran mereka berkelana karena terbuai oleh suasana juga keadaan yang ada di daerah Donomulyo.

   Tidak berapa lama Usman datang dengan membawa dua cangkir kopi panas dan satu gelas teh panas untuk Vanesa. Kemudian, ketiga sahabat itu meminum kopi dan teh panas untuk mengusir hawa dingin yang menggelayuti tubuh mereka. Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara, seolah mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah mereka menghabiskan minuman teh panas beserta kopi panas, Usman segera berjalan kembali ke warung untuk mengembalikan gelas beserta cangkir kopi yang telah kosong dan membayarnya. Setelah Usman kembali ke tempat Vanesa dan Ricky duduk, barulah ketiga sahabat itu melanjutkan perjalanan menuju ke penginapan yang telah Ricky pesan sebelumnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

&&&

10

Pagi ini Ricky kembali duduk di balik kemudi mobil untuk melanjutkan sisa perjalanan, dan terlihat Ricky begitu bersemangat untuk segera sampai ke tempat penginapan agar bisa langsung beristirahat sebelum melakukan penelusuran pada malam harinya. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih lima belas menit, akhirnya mobil yang dikemudikan Ricky berbelok masuk ke halaman parkir sebuah penginapan dengan papan nama bertuliskan “Penginapan Dahlia”. Mobil Toyota Avanza yang dikemudikan oleh Ricky akhirnya berhenti di tempat parkir, kemudian Ricky beserta ketiga sahabatnya segera turun dari mobil. Pagi ini cuaca yang awalnya terlihat cerah dengan cahaya kuning keemasan matahari, dalam waktu singkat telah berubah menjadi mendung gelap yang sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan.

   Ricky beserta ketiga sahabatnya segera mengambil barang bawaan dari bagian belakang mobil. Setelah itu, mereka bersama-sama berjalan menuju ke serambi depan Penginapan Dahlia yang berbentuk seperti bangunan tua dengan tiang-tiang penyangga dari kayu yang terawat dengan baik, di sini juga terdapat beberapa kursi rotan yang ditata menghadap ke area parkir agar para pengunjung dapat duduk bersantai sambil menikmati suasana di sekitar Penginapan Dahlia. Di serambi depan juga terdapat sepasang pintu geser dari kayu yang terbuka dan pintu ini langsung menuju ke bagian dalam penginapan. Keempat sahabat itu berjalan santai masuk menuju ke bagian dalam Penginapan Dahlia. Di bagian dalam Penginapan Dahlia, terdapat sebuah lukisan yang menggambarkan sebuah tepian sungai yang berarus deras dengan bongkahan batu-batu besar yang berada di tengahnya dengan berlatar belakang hijau serta rimbunya hutan yang tergantung di dinding, terdapat kipas angin yang menggantung di langit-langit ruangan, di sebelah kiri terdapat satu set sofa dengan sebuah meja kecil di tengahnya yang dapat digunakan untuk bersantai para tamu; sedangkan di  ujung ruangan yang menghadap ke arah pintu masuk terdapat sebuah meja persegi panjang dengan beberapa piagam penghargaan yang terpasang di dinding yang berada di belakangnya, dan meja ini merupakan tempat penerimaan tamu serta pengambilan kunci kamar. Keempat orang itu segera berjalan menghampiri meja penerima tamu. Dan sesampainya mereka di depan meja penerima tamu, mereka langsung disambut oleh seorang petugas wanita cantik berusia akhir tiga puluhan dengan mengenakan seragam yang terlihat serasi.

   “Selamat pagi dan selamat datang di Penginapan Dahlia para tamu yang kami hormati. Apakah ada yang bisa saya bantu?” kata petugas muda itu dengan sopan dan senyum ramah yang selalu menghiasi wajahnya.

   “Pagi ini saya beserta teman-teman saya akan melakukan Chek in. Saya sudah melakukan pemesanan dua kamar standar untuk hari ini,” jawab Ricky dengan santai.

   “Kalau boleh saya tahu, dengan nama siapa pemesanan dua kamar standar kemarin dibuat?” tanya petugas muda itu lagi.

   “Kemarin saya memesan dengan menggunakan nama ‘Ricky’.”

   Petugas muda itu segera memeriksa daftar pemesan kamar hotel melalui komputer yang terdapat di mejanya, dan akhirnya menemukan pemesanan untuk dua kamar standar atas nama Ricky. Petugas muda itu lalu meminta kartu tanda pengenal Ricky, dan setelahnya mengambil dua buah kunci kamar yang ada di ruang penyimpanan.

   “Ini dua buah kunci kamar standar yang telah Anda pesan sebelumnya,” kata petugas muda itu sambil menyerahkan dua buah kunci kamar kepada Ricky. “Tuan Ricky beserta teman-temannya. Silakan ikuti saya, saya akan mengantarkan kalian menuju ke kamar tempat kalian akan beristirahat,” imbuh petugas muda itu dengan penuh semangat.

   Segera petugas muda itu berjalan meninggalkan meja penerima tamu, dan mengajak para tamunya untuk ikut bersamanya menuju ke kamar yang telah dipesan. Ternyata kamar yang dipesan oleh Ricky terletak di bagian belakang penginapan dan memiliki pemandangan ke arah perkebunan juga hutan yang masih berselimut kabut tebal. Setelah tiba di depan pintu kamar yang dipesan, Ricky mengucapkan terima kasih banyak kepada petugas muda tadi atas pelayanan yang telah diberikan. Dengan senyum sopannya petugas muda tadi menganggukkan kepalanya kepada Ricky, lalu segera berjalan kembali menuju ke tempat kerjanya di bagian penerima tamu.

   Pada saat itu di luar hujan telah turun dengan deras, sehingga membuat suhu udara kembali turun yang berimbas dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Ricky segera membuka kunci pintu kamarnya lalu masuk ke dalam bersama Usman dan Andre. Sedangkan untuk kamar Vanesa berada tepat di sebelah kamar Ricky. Setelah berada di dalam kamar, ketiga sahabat itu langsung merebahkan tubuh di atas kasur, dan setelahnya jatuh tertidur dengan diiringi suara hujan yang menenangkan.

&&&

Ikuti tulisan menarik Frank Jiib lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu