x

Iklan

Frank Jiib

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Senin, 27 November 2023 20:36 WIB

Penelusuran Berdarah (15)

Akhirnya Ricky dan Andre mulai berjalan perlahan menyusuri halaman depan rumah yang dipenuhi dengan daun kering yang berserakan di mana-mana. Sejauh yang dapat diamati oleh Ricky dan Andre dalam gelapnya malam yang semakin larut. Bangunan rumah tua terbengkalai yang berada di tengah hutan belantara Donomulyo sepertinya telah lama ditinggal oleh pemiliknya, karena tidak terlihat tanda-tanda bahwa bangunan rumah tua terbengkalai itu pernah dihuni atau hanya sekadar didatangi oleh seseorang dalam waktu dekat ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

21

Akhirnya Ricky dan Andre mulai berjalan perlahan menyusuri halaman depan rumah yang dipenuhi dengan daun kering yang berserakan di mana-mana. Sejauh yang dapat diamati oleh Ricky dan Andre dalam gelapnya malam yang semakin larut. Bangunan rumah tua terbengkalai yang berada di tengah hutan belantara Donomulyo sepertinya telah lama ditinggal oleh pemiliknya, karena tidak terlihat tanda-tanda bahwa bangunan rumah tua terbengkalai itu pernah dihuni atau hanya sekadar didatangi oleh seseorang dalam waktu dekat ini. Bangunan rumah tua terbengkalai itu seakan dibiarkan hancur dan membusuk dengan sendirinya. Di depan dalam sorot cahaya lampu senter terlihat tangga kayu yang menuju ke serambi depan rumah. Setelah akhirnya mereka sampai di depan tangga kayu yang berada tepat di depan bangunan rumah tua terbengkalai. Ricky dan Andre berhenti sejenak untuk menarik napas dan meredakan ketegangan yang terasa semakin meningkat. Setelah merasa yakin untuk terus melanjutkan penelusuran. Ricky dan Andre mulai berjalan perlahan menaiki tangga kayu menuju ke serambi depan dari bangunan rumah tua terbengkalai. Setelah mereka berdua berdiri di serambi depan rumah yang terlihat kotor dan berdebu di sana-sini, Ricky dengan penuh antusias mulai berjalan menyusuri serambi depan rumah hingga sampai ke ujung, lalu berjalan kembali ke tempat Andre yang sedang berdiri diam bagaiksn patung penjaga di depan sebuah pintu kayu yang warnanya sudah pudar karena termakan oleh usía dan cuaca. Ricky seperti biasa dengan penuh rasa percaya diri dan antusiasme yang menggebu berkata kepada Andre:

   “Kau sudah siap untuk petualangan paling mendebarkan yang pernah terjadi sepanjang perjalanan hidupmu?” Ricky tersenyum sambil memandang wajah Andre yang kini mulai terlihat bintik-bintik keringat karena ketegangan serta situasi yang mencekam dan mendebarkan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

   “Cepat, kita lakukan sekarang! Dan setelah itu kita segera pergi dari tempat ini,” jawab Andre tanpa tersenyum.

   Dengan perlahan Ricky mulai mencoba membuka pintu kayu rumah tua terbengkalai yang ternyata tidak terkunci. Ketika pintu rumah telah terbuka, Ricky yang pertama kali melangkah masuk sambil mengarahkan gawainya agar para penonton setianya bisa melihat bagian dalam dari bangunan rumah tua terbengkalai ini. Di tempat yang dulunya digunakan sebagai ruang tamu, hanya ada perabotan yang telah rusak dan usang, terdapat kursi-kursi yang sudah hancur dimakan usía serta tak berbentuk lagi, juga ada beberapa barang yang telah pecah dan berserakan di lantai rumah. Ricky mulai berjalan perlahan untuk melihat ke bagian lain dari bangunan rumah tua terbengkalai ini. Sejauh yang dapat Ricky lihat, hanya ada debu dan kotoran di mana-mana; tidak ketinggalan terdapat jaring laba-laba yang hampir memenuhi sudut-sudut ruangan, Ricky juga mendapati beberapa barang yang sudah tidak dapat dikenali lagi bentuknya berserakan di lantai rumah.

   Ricky terus berjalan perlahan menuju ke bagian tengah dari bangunan rumah tua terbengkalai ini. Sampai sejauh ini, Ricky hanya mendapati kegelapan serta kesunyian dari dalam rumah tua yang sudah lama ditinggal serta dibiarkan terlantar oleh pemiliknya. Tanpa disengaja padangan mata Ricky melihat sebuah pintu yang menurut dugaannya berada di bagian belakang dari rumah tua terbengkalai ini. Karena didorong oleh rasa penasaran dan juga rasa ingin tahu, Ricky segera berjalan mendekat ke pintu dengan bantuan cahaya lampu yang ada di atas kepalanya. Setelah Ricky tiba di depan pintu yang menarik perhatiannya, alangkah terkejutnya Ricky saat mendapati ada beberapa gambar aneh beserta simbol-simbol yang tidak dipahaminya terpahat di pintu yang terbuat dari kayu dan anehnya masih terlihat kokoh, seolah pembusukan yang terjadi di luar tidak sampai merembet ke dalam banguna rumah tua terbengkalai ini. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di balik pintu yang tertutup rapat ini, kata Ricky di dalam hati dengan senyum kemenagan karena telah berhasil menemukan sesuatu di tengah hutan belantara Donomulyo.

   “Andre cepat ke sini! Dan coba lihat apa yang aku temukan,” kata Ricky memanggil Andre untuk segera mendekat ke tempat di mana ia menemukan sesuatu.

   Andre segera berjalan mendekat, lalu berdiri di samping Ricky dan akhirnya mendapati gambar beserrta simbol-simbol aneh yang terpahat di pintu kayu yang anehnya nampak sangat kokoh.

   “Apakah kamu tahu arti atau makna dari simbol-simbol yang terpahat ini Andre?” tanya Ricky penasaran.

   “Aku belum pernah melihat juga membaca mengenai simbol-simbol aneh ini. Dugaanku ini adalah simbol dari masa lalu yang memiliki arti atau makna khusus,” jawab Andre yang juga terlihat begitu penasaran dengan simbol-simbol aneh yang ada di hadapannya.

   “Kalau begitu, aku akan membuka pintu ini dan melihat isi yang ada di baliknya,” kata Ricky dengan santai seolah rumah tua terbengkalai ini adalah miliknya dan ia bebas melakukan apa pun.

   Andre seakan tidak percaya ketika mendengar kata-kata yang baru saja Ricky ucapkan, dan ia hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya dengan putus asa. Andre menduga sahabatnya sudah dibutakan oleh nafsu untuk terus melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran, dan cenderung membahayakan diri sendiri demi sebuah konten agar menjadi terkenal.

   “Kali ini aku tidak akan ikut masuk ke dalam ruangan ini,” kata Andre dengan tegas. “Sudah cukup aku menuruti permintaanmu yang semakin lama semakin tidak masuk akal.”

   Mendengar kata-kata penolakan yang baru saja keluar dari mulut Andre, sontak membuat Ricky merasa tersinggung. “Andre, apa yang baru saja kamu katakan kepadaku? Kenapa kamu bisa mengatakan bahwa aku sudah tidak masuk Akal lagi malam ini? Tolong kau jelaskan kepadaku Andre!” Teriak Ricky kepada Andre dengan emosi yang meluap.

   “Karena malam ini kamu sudah terlalu berlebihan, serta membahayakan diri sendiri juga kedua teman kita yang saat ini sedang menunggu di dalam mobil di tengah hutan belantara Donomulyo pada jam selarut ini. Apakah kamu tidak memikirkan bagaimana dengan perasaan Vanesa sekarang? Kita yang harus bertanggung jawab jika sesuatu yang buruk terjadi padanya,” ujar Andre dengan sengit dan kali ini tidak ingin mengalah kepada Ricky.

   “Aku tidak peduli Andre. Sekarang aku akan membuka pintu ini dan melihat isinya. Kalau kamu tidak mau ikut bersamaku tidak apa-apa, kamu bisa tunggu di ruangan ini,” jawab Ricky dingin kepada Andre seolah Andre adalah nyamuk pengganggu yang harus segera disingkirkan jauh-jauh.

   “Kamu memang sudah gila Ricky,” ujar Andre pelan, “demi sebuah konten, kamu rela membahayakan dirimu dan teman-teman yang sudah dengan sukarela membantumu. Kamu sungguh tega Ricky!”

   “Tutup mulutmu Andre! Dan jangan bicara lagi, atau aku akan—”

   “Silakan lakukan apa yang kamu mau Ricky. Aku akan tetap menunggumu di sini,” jawab Andre dingin masih tetap dengan keputusannya.

   “Baiklah kalau begitu, itu lebih baik menurutku karena aku tidak ingin ada pengganggu yang akan merusak penelusuranku malam ini,” pungkas Ricky dengan suara yang seolah merendahkan Andre, lalu mulai berusaha membuka pintu kayu yang ada di depannya.

&&&

Ikuti tulisan menarik Frank Jiib lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu