x

Iklan

Duta Literasi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Februari 2021

Selasa, 19 Desember 2023 11:50 WIB

Pengamat Terorisme: Masyarakat Harus Mewaspadai Paham Radikal dan Aksi Jihadis

Pengamat terorisme, Stanislaus Riyanta menenkankan pentingnya peran aktif semua elemen masyarakat untuk mencegah aksi terorisme jelang Nataru. Publik harus mendukung penuh upaya aparat keamanan dan juga masyarakat harus mempersempit ruang gerak kelompok jihadis di lingkungannya masing-masing.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

JAKARTA – Pengamat terorisme, Stanislaus Riyanta menenkankan pentingnya peran aktif semua elemen masyarakat untuk mencegah aksi terorisme jelang Nataru. Publik harus mendukung penuh upaya aparat keamanan dan juga masyarakat harus mempersempit ruang gerak kelompok jihadis di lingkungannya masing-masing.

Tidak dapat dianggap remeh, bahwa ancaman radikal dan terorisme masih ada di sekitar kita. Hal ini harus diimbangi dengan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar agar terbebas dari aksi kekerasan kelompok jihadis.

Terkait dengan terorisme, Stanislaus Riyanta menyatakan bahwa agama bukan penyebab teror, namun tidak bisa dipungkiri bahwa ada orang atau kelompok tertentu yang memanfaatkan simbol agama sebagai daya tarik agar masyarakat bergabung dengan kelompok tersebut. Radikalisme juga tidak bisa dilihat dari penampilan fisik, karena radikalisme adalah suatu pemikiran yang baru bisa diketahui jika orang tersebut diajak dialog, menyampaikan pendapat, atau melakukan suatu tindakan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Menurutnya saat ini media sosial menjadi “shortcut to terrorism”. Konten tentang radikalisme menyebar melalui media sosial dan mempengaruhi generasi muda. Pernyataan “shortcut to terrorism” ini sekaligus mengkritik teori “staircase to terrorism” yang dicetuskan oleh Fathali M. Moghaddam.

“Saya kan juga meneliti tentang radikalisme, bersahabat baik dengan banyak sekali mantan napiter dan sering mewawancarai mereka ketika masih radikal. Saya menganggap mereka korban-korban doktrinasi, ideologi yang salah sehingga mereka meyakini bahwa apa yang mereka lakukan itu benar. Nah, teroris itu meyakini benar apa yang mereka lakukan itu benar, dan apa yang mereka lakukan itu mulia, ini repotnya karena sudah didoktrin lama,” ujar Riyanta.

Selain itu, Riyanta juga menambahkan bahwa sebagai anak muda pegiat media sosial dan masyarakat umum harus mampu mencerna dan tak menelan bulat-bulat setiap informasi yang ada tanpa melakukan verifikasi terhadap kebenaran berita tersebut. Ia juga mengajak agar anak-anak muda supaya tidak terpapar radikalisme.

“Kenali perbedaan itu sebagai anugerah, sebagai bukti kebesaran negara kita. Kita hadapi dengan syukur. Jangan mau dipancing-pancing oleh orang yang anti perbedaan, itu yang pertama. Kedua, belajar agama yang benar. Jangan orang yang sok baru masuk agama langsung ngajak melakukan kekerasan, membenci yang berbeda. Pokoknya kalau sudah ada yang ngajarin-ngajarin untuk membenci pemerintah, tinggalin. Udah pasti nggak benar,” tambahnya.

Kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan terus diperkuat dalam upaya untuk mencegah aksi terorisme hingga bisa menghasilkan tren yang positif. Penyebaran paham terorisme wajib diwaspadai, khususnya ketika hal tersebut menyasar kepada generasi muda. Karena jika terus dibiarkan terjadi, maka akan sangat kontraproduktif terhadap upaya pemerintah menciptakan generasi emas tahun 2045 mendatang.

“Kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan terus diperkuat dalam upaya mencegah aksi terorisme. Penyebaran paham terorisme seperti adanya intoleransi terhadap generasi muda. Karena jika dibiarkan, maka sangat kontraproduktif terhadap upaya pemerintah dalam menciptakan generasi emas 2045,” ujarnya.

Ikuti tulisan menarik Duta Literasi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu