x

Semua mau hijau. Tapi tidak semua hijau. (Foto: Freepik)

Iklan

Fajar Suhud Laksana

Si logophile penyuka kata-kata dalam buku, hobi menulis dan sekaligus gemar menyusun romantisme dalam suatu kalimat utuh.
Bergabung Sejak: 27 April 2023

Selasa, 2 Januari 2024 18:10 WIB

Penipuan Perusahaan Indonesia dan Ilusi Hijau di Eropa

Di tengah kemajuan teknologi dan tuntutan konsumen akan produk berkelanjutan, banyak perusahaan Indonesia meluncurkan kembali citra mereka dengan menonjolkan komitmen terhadap lingkungan. Mereka melakukan penanaman pohon, penggunaan energi terbarukan, dan reklamasi lahan untuk menciptakan ilusi hijau.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam perkembangan dunia yang semakin fokus pada keberlanjutan lingkungan, upaya perusahaan untuk terlihat ramah lingkungan semakin umum. Namun, sayangnya, tidak semua praktik yang terlihat hijau berasal dari niat yang tulus demi kelestarian alam. Terbukti, beberapa perusahaan Indonesia telah terlibat dalam strategi penipuan dengan memanfaatkan ilusi hijau mereka untuk menipu Eropa.

Di tengah kemajuan teknologi dan tuntutan konsumen akan produk yang berkelanjutan, banyak perusahaan Indonesia telah meluncurkan kembali citra mereka dengan menonjolkan komitmen mereka terhadap lingkungan. Penanaman pohon, penggunaan energi terbarukan, dan reklamasi lahan terdegradasi adalah beberapa contoh yang sering digunakan untuk menciptakan ilusi hijau. Namun, sayangnya, dibalik citra yang terlihat baik itu, ada kenyataan yang jauh dari kata-kata.

Sebuah laporan baru-baru ini mengungkapkan praktik penipuan ini oleh beberapa perusahaan Indonesia di pasar Eropa. Para peneliti menemukan bahwa ketika penjahat lingkungan, seperti deforestasi massal atau polusi, didokumentasikan dalam operasi bisnis perusahaan-perusahaan tersebut, manajemen berusaha keras untuk menyembunyikannya. Mereka merancang strategi untuk mengalihkan perhatian masyarakat dan media dengan orientasi lidah halus yang menonjolkan inisiatif hijau mereka.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Salah satu kasus yang diungkapkan oleh laporan ini adalah ditemukannya dokumentasi yang menyebutkan perusahaan-perusahaan bersekongkol dengan pejabat pemerintah untuk menghindari undang-undang lingkungan yang lebih ketat di Eropa. Praktik-praktik ilegal seperti ilegal logging atau penggunaan bahan kimia berbahaya di area aliran sungai telah terekam, namun perusahaan-perusahaan Indonesia tersebut melakukan upaya besar untuk menyembunyikannya dan memutarbalikkan fakta dalam kampanye publisitas mereka.

Partisipasi dalam sertifikasi lingkungan palsu juga menjadi bagian dari strategi penipuan mereka. Beberapa perusahaan Indonesia terlihat memperoleh sertifikat internasional yang menjanjikan komitmen terhadap praktik bisnis berkelanjutan, namun pada kenyataannya, mereka hanya mencoba mempercantik citra mereka tanpa perubahan nyata dalam operasional sehari-hari.

Dampak dari praktik penipuan ini cukup merugikan bagi citra Indonesia di arena internasional. Upaya pemerintah dan berbagai pihak dalam membangun citra positif Indonesia sebagai negara yang ramah lingkungan tercoreng oleh perlakuan beberapa perusahaan yang tidak bertanggung jawab. Dalam konteks perdagangan internasional yang kompetitif, kerugian ini bisa berdampak pada ekonomi negara secara keseluruhan.

Penipuan ini juga melibatkan risiko bagi konsumen Eropa yang terpedaya oleh ilusi hijau ini. Sangat disayangkan bahwa upaya yang seharusnya menjadi langkah maju dalam menyokong lingkungan dan alam dapat berujung pada praktik manipulatif yang merugikan semua pihak yang terlibat.

Oleh karena itu, sangat penting bagi Eropa sebagai mitra dagang Indonesia untuk membuka mata dan memperketat pengawasan terhadap praktik bisnis perusahaan-perusahaan Indonesia. Penegakan hukum yang tegas dan inspeksi yang lebih ketat terhadap kegiatan perusahaan Indonesia harus dilakukan untuk mencegah penipuan semacam ini.

Selain itu, pemerintah Indonesia juga harus mengambil sikap tegas terhadap perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam penipuan ini. Hukuman yang sesuai dan aturan yang lebih ketat harus diterapkan untuk memastikan bahwa operasi bisnis yang tidak bertanggung jawab tidak lagi merusak citra Indonesia secara internasional.

Kelestarian lingkungan adalah masalah yang tidak boleh diremehkan dan jangan biarkan ilusi hijau menutupi praktik bisnis yang tidak bertanggung jawab. Semua pihak, baik perusahaan, pemerintah, maupun konsumen, harus saling bekerja sama untuk memastikan bahwa upaya keberlanjutan adalah nyata dan terjadi dalam setiap lini bisnis. Hanya dengan membuka mata dan menjadi bijaksana dalam melakukan pilihan, kita dapat menciptakan dunia yang benar-benar hijau.

Ikuti tulisan menarik Fajar Suhud Laksana lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan