x

Iklan

Naufal Indra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Desember 2023

Sabtu, 6 Januari 2024 11:32 WIB

Menuju Kesetaraan Gender dalam Dunia Kerja

Bias gender masih merajalela di dunia kerja dengan adanya kesenjangan upah antara pria dan wanita. Statistik menunjukkan wanita seringkali mendapatkan upah yang lebih rendah dibandingkan pria dengan pendidikan dan pengalaman yang setara.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bias gender merupakan sebuah realitas yang masih menghantui berbagai lapisan masyarakat di seluruh dunia. Fenomena ini muncul ketika perbedaan jenis kelamin seseorang memengaruhi cara individu tersebut diperlakukan atau dinilai, seringkali secara tidak adil. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi contoh kasus konkret, teori yang relevan, dan melakukan analisis terhadap fenomena bias gender.

Salah satu contoh kasus yang menunjukkan bias gender yang masih merajalela adalah kesenjangan upah antara pria dan wanita di dunia kerja. Meskipun upaya untuk mengatasi ketidaksetaraan gender terus dilakukan, statistik menunjukkan bahwa wanita seringkali mendapatkan upah yang lebih rendah dibandingkan dengan rekan pria yang memiliki tingkat pendidikan dan pengalaman yang setara.

Teori Stereotip dan Peran Sosial Teori stereotip menyatakan bahwa masyarakat cenderung memiliki pandangan umum atau stereotip tentang peran yang sesuai dengan jenis kelamin tertentu. Stereotip ini dapat mempengaruhi keputusan dan penilaian terhadap individu, menciptakan landasan bagi bias gender. Sementara itu, teori peran sosial menyoroti bagaimana norma-norma sosial dapat membatasi individu dalam menjalankan peran tertentu berdasarkan jenis kelamin.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dampak dari bias gender tidak hanya bersifat psikologis tetapi juga ekonomis. Secara psikologis, individu yang mengalami perlakuan tidak adil berdasarkan jenis kelamin dapat mengalami stres, depresi, dan kehilangan rasa percaya diri. Di sisi ekonomis, ketidaksetaraan upah antara pria dan wanita dapat menghambat pertumbuhan ekonomi karena potensi dan kontribusi wanita yang tidak sepenuhnya dimanfaatkan.

Ada dua fenomena lain yang menonjol dalam konteks bias gender adalah "glass ceiling" dan "pink tax". "Glass ceiling" merujuk pada batasan tak kasatmata yang mencegah wanita mencapai posisi kepemimpinan tertinggi di dunia kerja. Sementara itu, "pink tax" mencerminkan praktik harga yang tidak adil, di mana produk atau layanan yang ditujukan untuk wanita seringkali dikenakan tarif lebih tinggi dibandingkan dengan produk serupa untuk pria.

Dalam mengatasi bias gender, perlu adanya upaya kolaboratif dari semua pihak, termasuk pemerintah, perusahaan, dan masyarakat umum. Edukasi, penegakan hukum yang kuat, dan perubahan norma sosial dapat menjadi langkah-langkah kunci dalam meredam dan menghilangkan bias gender di berbagai aspek kehidupan.

Sebagai masyarakat yang semakin menyadari pentingnya kesetaraan gender, langkah-langkah konkret perlu diambil agar kita dapat menciptakan lingkungan yang adil dan inklusif bagi semua individu, tanpa memandang jenis kelamin.

 

Naufal Indra Safiq (1152000390)

Program Studi Ilmu Komunikasi Untag Surabaya

Mata Kuliah : Komunikasi Gender (S)

Dosen Pengampu : Dr. Merry Fridha Tripalupi., M.Si

Ikuti tulisan menarik Naufal Indra lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu