x

buku di perpustakaan

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Rabu, 24 Januari 2024 08:15 WIB

Buku yang Memiliki Roh

Ketika berkunjung ke toko buku dan pameran buku saya sering bersentuhan dengan buku yang memiliki roh. Buku semacam ini memiliki kekuatan yang bisa memengaruhi manusia. Bagaimana penjelasannya? Sila ikuti terus.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh: Bambang Udoyono

 

Intro

Saya sering pergi ke toko buku dan juga pameran buku.  Tujuannya tentu ada beberapa.  Pertama tentu membeli buku. Kedua mencari gagasan untuk menulis artikel dan buku.  Ketiga untuk mengamati trend penerbitan buku, terutama dalam kategori yang saya minati.  Kalau kategori yang tidak saya minati ya lolos dari perhatian saya. Ilmu roket misalnya, ya saya tidak berminat.

Mencari gagasan

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Nah soal mencari gagasan ini ada sesuatu yang menarik.  Tatkala sedang berada di toko buku atau di pameran buku, saya selalu berburu buku dengan dua cara. Pertama saya membeli buku yang sudah saya incar sebelumnya. Kedua saya membeli buku yang saya temui di sana yang menarik hati dan pikiran saya. Tapi ini bukan impulsive buying

Memindai ‘roh’ buku

 

Saya memakai feeling atau intuisi atau apalah namanya, untuk memilih buku. Bagaimana caranya?  Saya sendiri tidak sepenuhnya mengerti. Pokoknya ada semacam radar di dalam saya yang menemukan ‘getaran’ alias ‘roh’ dari buku tertentu.  Ya, benar, saya memindai dengan menggunakan ‘feeling’ dan suatu saat ada perasaan bahwa saya harus menengok ke suatu rak tertentu atau sudut tertentu.  Di sana saya akan menemukan buku yang memiliki ‘roh’.

 

Apa itu berarti roh halus?  Sama sekali bukan.

Kalau meminjam istilahnya Shani Raja, sang trainer kepenulisan kondang itu, buku semacam itu memiliki suatu unsur yang dia sebut ‘evocativeness’. 

Apa itu evocativeness?

Tentang ‘Roh’ buku

 

Menurut Shani Raja, mantan editor Wall Street Journal dan instruktur penulisan terkenal, evocativeness adalah salah satu dari empat unsur utama penulisan yang baik, bersama dengan kesederhanaan, kejelasan, dan keanggunan.

 

Dalam kursusnya, "Secret Sauce of Great Writing," Raja menekankan kekuatan evocativeness dalam menciptakan prosa yang kuat dan indah.  Secara umum, evocativeness merujuk pada kemampuan penulis memakai bahasa untuk membangkitkan atau membawa ke pikiran gambaran, perasaan, dan pikiran di benak pembaca. Ini adalah aspek penting dari penulisan yang melibatkan dan berdampak.

 

Jadi kira kira artinya adalah kemampuan penulis menciptakan tulisan yang sangat kuat sehingga sangat berkesan buat pembaca. 

Itulah yang saya maksudkan dengan memiliki ‘roh’,  dengan kata lain buku yang bagus adalah buku yang memiliki kekuatan, atau tenaga non fisik yang berdampak kepada pembaca.

 

Buku semacam itu akan menguatkan pembaca.  Akibatnya pembaca bisa bertambah ilmu pengetahuannya. Mereka bisa tergugah niatnya untuk berbuat sesuatu. Mereka lantas memiliki suatu ketrampilan atau imu tertentu atau memiliki keimanan yang semakin kuat.

 

Contoh buku memiliki ‘roh’

 

Apakah ada contoh buku seperti itu? Banyak sekali.

Konon kondisi sosial politik di Amerika Serikat pada abad kesembilan belas dipengaruhi oleh sebuah buku.  "Uncle Tom's Cabin" ditulis oleh Harriet Beecher Stowe. Dia adalah seorang penulis dan abolisionis Amerika. Novel ini, yang diterbitkan pada tahun 1852, menyerang kekejaman perbudakan dan menyentuh jutaan orang sebagai novel dan drama, bahkan menjadi berpengaruh di Inggris. Novel ini telah membantu memicu gerakan abolisionis pada tahun 1850-an.

 

"Uncle Tom's Cabin" memiliki dampak yang sangat besar pada masyarakat Amerika pada masanya. Buku ini memainkan peran penting dalam membentuk opini publik tentang perbudakan dalam tahun-tahun menjelang Perang Saudara Amerika. Ia menggambarkan pengalaman perbudakan dengan dramatis sehingga mencapai popularitas luas, terutama di kalangan pembaca kulit putih di Utara. Buku ini telah digambarkan sebagai "gempa bumi verbal, gelombang pasang tinta-dan-kertas" karena pengaruhnya.

 

Jadi "Uncle Tom's Cabin" sangat berpengaruh dalam periode menjelang Perang Saudara.  Kita  dapat mengatakan bahwa buku "Uncle Tom's Cabin" telah memengaruhi situasi menjelang Perang Saudara Amerika. Meskipun buku ini tidak secara langsung menyebabkan perang, novel ini sangat berpengaruh dalam membentuk opini publik tentang perbudakan pada tahun 1850-an, yang memang merupakan dekade penting menjelang perang.

 

Buku ini mengubah sikap masyarakat terhadap perbudakan dan membantu membawa ide-ide abolisionis ke arus utama kehidupan Amerika. Sikap yang semakin bertumbuh terhadap perbudakan di Utara, yang diperkuat oleh isi "Uncle Tom's Cabin", tidak diragukan lagi membantu memastikan kemenangan Lincoln. Jadi, meskipun berlebihan untuk mengatakan bahwa novel populer Harriet Beecher Stowe secara langsung menyebabkan Perang Saudara, tidak ada keraguan bahwa "Uncle Tom’s Cabin", sangat memengaruhi opini publik pada tahun 1850-an, ini memang merupakan faktor yang membawa ke perang.

 

Kalau dalam pengalaman pribadi apakah ada buku semacam itu?

Banyak sekali. Dalam pengalaman pribadi saya, buku buku tulisan almarhum Hernowo Hasim sangat kuat ‘roh’nya.  Terutama buku buku tentang kepenulisan.  Jadi meskipun saya belum pernah bertemu secara langsung, saya menganggapnya sebagai mentor saya dalam menulis.

 

Julia Cameron, seorang penulis terkemuka dari Amerika Serikat juga demikian. Buku bukunya memiliki ‘roh’. Buku barunya ‘Seeking Wisdom’ memiliki tenaga yang sangat dahsyat. Buku itu menggerakkan tenaga dalam pembacanya.

 

Penutup

 

Itulah beberapa buku yang memiliki ‘roh’. Ada buku yang memiliki ‘kekuatan’ sehingga memiliki pengaruh besar. Ada juga yang pengaruhnya terbatas.  Bagaimana apakah Anda memiliki pengalaman sama? Atau apakah buku karya Anda sudah memiliki ‘roh’?

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan