Kekerasan Seksual di Sekolah dan Pendidikan yang Membebaskan

Jumat, 16 Februari 2024 14:30 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pendidikan manusia Indonesia harus memiliki peran dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Kekerasan dalam lingkungan sekolah harus diberantas agar dapat terwujud Indonesia yang unggul dan maju.

Kasus kekerasan seksual di Indonesia bertambah banyak dan menjadi pusat perbincangan di media online. Hal tersebut menjadi heboh apabila kasus kekerasan seksual terjadi di dunia pendidikan. Kekerasan seksual dalam ranah pendidikan merupakan masalah krusial yang sering terjadi tanpa disadari. Rata-rata korban yang mengalami kekerasan seksual tersebut merasa malu untuk berbicara dan baru melaporkan setelah beberapa bulan kemudian. 

Adapun salah satu kekerasan seksual yang menjadi isu saat ini yaitu salah satu oknum tenaga guru honorer di Gorontalo yang telah melakukan tindak asusila terhadap peserta didiknya. Berdasarkan laporan KompasTV (2024) terdapat dugaan terjadi tindak asusila oleh guru honorer kepada empat peserta didik yang masih tingkat sekolah menengah pertama di Gorontalo. Kasus tindak asusila tersebut dilaporkan oleh orang tua korban pada 31 Januari 2024 dan ternyata terjadi pada November 2023.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Guru honorer yang berusia 27 tahun tersebut mengancam korban untuk tidak mengadu ke orang tua. Berdasarkan kasus tersebut, guru honorer yang bersangkutan telah diberhentikan dan pidana penjara sekaligus kena denda.

Maraknya kekerasaan seksual kepada peserta didik di Indonesia mengakibatkan dampak yang sangat besar pula terhadap perkembangan anak seperti dampak fisik, psikologi, hingga sosial. Trauma yang dialami anak perlu diberikan pendampingan yang mendalam agar anak dapat merasakan kecintaan dan rasa percaya diri. Kenyataannya, anak yang menghadapi kekerasan sering juga mengalami trauma yang mendalam. Oleh karena itu, diperlukan penyelesaian yang matang agar dapat meminimalisir kekerasan di lingkungan sekolah.

Lantas, bagaimana hubungan kekerasan di lingkungan sekolah dengan filosofi pembelajaran Ki Hajar Dewantara? Berikut konsep dari alternatif yang sesuai prinsip pembelajaran Ki Hajar Dewantara.

Menurut Ki Hajar Dewantara (dalam Indayanti, 2018) pendidikan merupakan kekuatan dan upaya untuk mengembangkan budi pekerti, batin, karakter, dan pikiran peserta didik. Pentingnya pendidikan karakter digunakan sebagai bekal dalam menggapai cita-cita. Selain itu, juga pendidikan yang berkarakter mampu menciptakan lingkungan sekolah bagi perkembangan etika, sikap tanggung jawab, dan bentuk pengajaran berkarakter berdasarkan nilai-nilai universal. Kasus kekerasan di sekolah yang sering terjadi tiap tahun dan menunjukkan bahwa kemerdekaan peserta didik masih dibelenggu.

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara berfokus pada pendidikan yang membebaskan peserta didik untuk mengeksplorasi diri sesuai kodrat anak. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Satir (2016) bahwa peserta didik juga perlu diberi kebebasan, namun jika merasakan tertekan dan menganggap negatif bagi dirinya maka dianggap pendidikan yang membelenggu. Dengan demikian, selaras dengan pendapat Faroh (2020) bahwa tujuan pendidikan hakikatnya adalah memerdekakan kehidupan peserta didik baik lahir dan batin.

Ajakan Anti Kekerasan

Filosofi pendidikan berdasarkan lima gagasan menurut Ki Hajar Dewantara terdiri atas sistem among, nilai budaya luhur, kodrat alam, kodrat zaman, dan budi pekerti. Adapun lima gagasan menurut Ki Hajar Dewantara dapat dideskripsikan sebagai berikut. Pertama, menurut Susilo (2018) sistem among merupakan cara membina atau membimbing peserta didik menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur. Fokus sistem among yaitu keharmonisan lingkungan belajar yang kondusif dan menanamkan karakter kepada peserta didik. Penerapan sistem among dalam lingkup kekerasan di sekolah yaitu dilakukan dengan seminar dan pelatihan. Peran guru bimbingan konseling juga sangat penting karena sebagai perantara dalam memahami dan mengatasi karakteristik peserta didik apabila melaksanakan tindak kekerasan.

Kedua, menurut Susilo (2018) nilai budaya luhur merupakan identitas dari budaya gotong royong, saling toleransi, religi, serta patuh terhadap nilai dan norma. Selain itu, proses nilai budaya luhur dapat diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari di sekolah, seperti Proyek P5 dengan tema anti perundungan dapat mengajarkan peserta didik untuk saling toleransi terhadap sesama.

Ketiga, menurut Irianti dan Fitrotul (2024) kodrat alam merupakan kemampuan peserta didik yang melekat secara alamiah. Implementasi kodrat alam dalam pembelajaran yaitu kurikulum merdeka harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, upaya dalam keterampilan sosial dan emosional dapat digunakan sebagai alat komunikasi untuk memecahkan konflik dengan damai.

Keempat, menurut Irianti dan Fitrotul (2024) kodrat zaman merupakan kemampuan peserta didik berdasarkan perkembangan zaman. Implementasi kodrat zaman dalam pembelajaran yaitu dalam proyek P5 memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan membuat slogan atau poster mengenai anti kekerasan. Selain itu, juga dapat menyuarakan anti kekerasan melalui video ajakan. Dengan demikian, teknologi tersebut dimanfaatkan sebagai bahan edukasi untuk membina dan mencegah anti kekerasan di sekolah.

Kelima, budi pekerti merupakan ide pokok yang berfokus terhadap etika yang baik. Implementasi budi pekerti dalam pembelajaran Ki Hajar Dewantara terdiri atas ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Praktik pembelajaran ini melalui belajar olah pikir, olah rasa, dan olah karsa (Andiawan, 2022).

Perbedaan dalam kehidupan merupakan hal yang wajar dan Indonesia memiliki beragam suku, bahasa, ras, dan budaya. Identitas manusia Indonesia memiliki arti bahwa manusia menghayati nilai-nilai kemanusiaan yang terdiri atas nilai jiwa, hasrat, martabat, sosialitas, dan tradisi yang beragam. Tiga nilai kemanusiaan yang tercermin sebagai bangsa Indonesia yaitu nilai kebhinekaan, pancasila, dan religiusitas.

Pendidikan manusia Indonesia harus memiliki peran yang andil dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Kekerasan dalam lingkungan sekolah harus diberantas agar dapat terwujud Indonesia yang ungguh dan maju. Dengan demikian, filosofi pembelajaran Indonesia menurut Ki Hajar Dewantara menjadi pondasi dalam memberantas belenggu yang tidak sesuai dengan kodrat alam dan zaman.

 

Daftar Pustaka:

Andiawan, Surya Gede I Putu. 2022. Analisis Implementasi Kebijakan Pendidikan Budi Pekerti di SD Negeri 3 Kerambitan selama Pembelajaran Online. Bali: Jurnal Santiaji Pendidikan Volume 12 Nomor 1. https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/jsp/article/view/3755

Faroh, Istoq Nurul. 2020. Relevansi Filosofi Ki Hajar Dewantara sebagai Dasar Kebijakan Pendidikan Nasional Merdeka Belajar di Indonesia. Sidoarjo: Jurnal Pendidikan Volume 3 Nomor 2. https://journal.unusida.ac.id/index.php/jls/article/view/266

Indayanti, Ina. 2018. Konsep Pembelajaran Berbasis Sistem Among dalam Penanaman Pendidikan Karakter Siswa (Telaah Permikiran Ki Hajar Dewantara). Cirebon. http://e-theses.iaincurup.ac.id/id/eprint/138

Irianti, Ina Refsa dan Fitrorul Mufaridah. 2024. Penerapan Kurikulum Merdeka dalam Pengimplementasian Pendidikan yang Sesuai dengan Kodrat Alam dan Zaman, Jember: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Volume 1 Nomor 2. https://edu.pubmedia.id/index.php/ptk/article/view/56

Satir, Sri. Pendidikan yang Membelenggu, Membebaskan, dan Memperdayakan. Sorong: Jurnal pendidikan. http://e-jurnal.iainsorong.ac.id/index.php/Al-Riwayah/article/view/115

Susilo, Vebrianto Sigit. 2018. Refleksi Nilai-Nilai Pendidik Ki Hajar Dewantara dalam Upaya-Upaya Mengembalikan Jati Diri Pendidikan Indonesia. Majalengka: Jurnal Cakrawala Pendas Volume 4 Nomor 1. https://unma.ac.id/jurnal/index.php/CP/article/view/710

KompasTv. 2024. Oknum Guru Honorer Diduga Sodomi Siswa SMP di Kota Gorontalo. Gorontalo. https://www.bing.com/ck/a?!&&p=3b492f1e72d9dd09JmltdHM9MTcwNzk1NTIwMCZpZ3VpZD0xOTE0ZDYzZC1kNGUxLTZlMGEtMjQ4ZC1jNzY5ZDBlMTYwYjAmaW5zaWQ9NTE4Ng&ptn=3&ver=2&hsh=3&fclid=1914d63d-d4e1-6e0a-248d-c769d0e160b0&psq=berita+guru+memperkosa+4+siswa&u=a1aHR0cHM6Ly93d3cua29tcGFzLnR2L3JlZ2lvbmFsLzQ4MjgzMS9va251bS1ndXJ1LWhvbm9yZXItZGlkdWdhLXNvZG9taS00LW9yYW5nLXNpc3dhLXNtcC1kaS1rb3RhLWdvcm9udGFsbw&ntb=1

Bagikan Artikel Ini
img-content
Alivia Nur Azizah

Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru Prajabatan Gelombang 1 2024 di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler