x

Kolase Foto Tempo.com

Iklan

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Jumat, 16 Februari 2024 14:31 WIB

Epigenesis

Panorama cerpen, imaji mengurai sel-sel otak agar tetap sehat walafiat. Tak ada pembaca tak ada seni susastra. Jelajah imajinasi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

DONGENG LANGIT.
Sentir layar terkembang cahaya pembuka.
Musik: Metal symphony adegan berkisah.

Apakah, perselingkuhan cinta, dengan kata lain, pengkhianat cinta.; Apakah bisa dengan indah disebut pengabdian? Hihihihi. Kalau hal macam itu terjadi para makhluk raksasa akan girang me.nga.kak, jungkir balik; kompanyon iblis bersama pasukannya akan jadi penguasa semesta dong.

Cinta suci putih bening tanpa limit mutlak milik Ilahi. Cinta bocor, milik manusialah hai; lahirlah selingkuh-khianat, di kehidupan dunia, lantas terlihat lumrah, modis, salah satu elemen gayahidup, aneh sih, tapi itulah realitasnya-diktator, drakula oligarki, hanya ada di dunia manusia; the war is not over yet, oh ya hui!

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ketika polarisasi ramai. Sumbernya ngawang bolong melompong. Lantas menjadi lumrah lalu membisu-kurang santun. Kehilangan tatakrama. Padahal telah ada pengajaran leluhur purba.; Satria sejati senantiasa menjaga kesantunan lahir batin. Tegap terdepan tanpa senjata di tangan menjaga bumi tafakur pada langit. 

Apa guna tekno canggih adigang adigung kalau kehilangan tatakrama budaya. Tak ada satupun di muka bumi ini mampu menggantikan gaib tradisi dari langit. Teknologi tak ubahnya sambal terasi level tujuh tak lebih berguna kalau tatakrama formal pengecut menghadapi realitas kehidupan untuk bilang.; Maafkanlah.

Teknologi ini atau itu tak lebih baik dari merek kandang ayam tradisional, itu sebabnya pula mudah jebol di bobol musang berbulu ayam pula. Sebab musababnya, secara umum mendadak absurd. Kehilangan muka tak bersuara. Oh! Halah walahkadalah itu bukan watak satria pemanah matahari.

Menjaga tatakrama khusyuk kesinambungan berbudi luhur fitrah alami buah kewajaran. Generasi bening lahir dari rahim langit. Bukan beli dari displai di etalase toko, jika itu terjadi, pertanda gawat semesta pewayangan. Mungkin saja akan berakibat Kiai Semar bakalan pulang ke kahyangan alih rupa menjadi dewa lagi.

Nah loh, kalau kisah pewayangan terbolak-balik melawan ketentuan pakem historis sumber dari babad kitab sahih susastra berabad lampau. Mungkin saja bumi gonjang-ganjing lebih cepat, meledak gempa "Berani?" Kejujuran harganya makin mahal.

"Hoh! Hoi!" Kor para raksasa bising mengguncang tatakrama bumi. Walah!

"Gara giji gara gincu!" Suara kor rombongan barisan raksasa sombong bukan main berderap-derap. Anehnya sosok mereka keren abis laiknya satria berbudi pada umumnya. Defile menunjukan konfigurasi keindahan manuver barisan raksasa memasuki pohonan gigantik masif, bagai hilang di telan hutan purba. 

Para raksasa dogol masuk jebakan pasukan Keraputih, siaga lebih awal menguasai hutan purba, konon pasukan Keraputih masih keturunan para Begawan Sakti titisan dewa.; Bukan aklamasi Korawa semusim pengumpul receh, lantas bisu. Wah gawat, bakal ada perang tanding barangkali.  

"Hentikan pasukanmu! Kembali ke asalmu atau kalian kami habisi." Satria Keraputih lantang menghadang. Lanjut Keraputih "Baru coba-coba belajar trik sulapan otoritarianisme ya? Hiks hihihi." Suara Keraputih cekikikan. "Percuma kuy! Yak elah. Gampang kebaca cuy. Kesaktianmu sebatas tinggi dengkulmu hihihi."

"Haarch! Monyet! Ayo adu sakti!" Komandan raksasa geram selangit.

Mendadak Begawan Sakti, muncul menyebar cahaya. Para raksasa itu kembali ke wujudnya semula, jelek banget seperti mobil otoritarian penyok enggak jelas. 

"Aku kembalikan pada kebijaksanaanmu satria Keraputih." Suara Begawan Sakti. Wujudnya menggaib secepat sirna.

"Patuh Guru hamba laksanakan." Memberi hormat perguruan.

Lantang terdengar teriakan pimpinan pasukan otoritarian raksasa jelek.. "Ahoi! Begawan butut hadapi aku jangan kabur. Pengecut!" Amuk suara komandan raksasa.

"Hihihi badan bongsor lontong welehketek car cir cur berlemak keserakahan. Hadapi aku saja dulu kuy?" Keraputih mengejek sembari jungkir balik dari dahan ke dahan pohon purba gigantik "Hayo adu sakti. Salah satu kalah. Mundur. Okeh kah?" Satria Keraputih ngeledek sembari nangkring di ujung dahan terkecil tertinggi.

"Woukee! Turun kau! Monyet jelek. Aku mundur! Pulkam kalau kalah." Komandan raksasa dongkol.

Duarr! Jegerr! Blarr! Pertarungan pecah. Malang tak dapat ditolak adu sakti terdahsyat. Pepohonan hutan purba tercerabut semena-mena. Gunung bergolak menggelegak meletus satu persatu. Amarah stunami terdahsyat melanda. Badai puting beliung level tertinggi memporakporandakan pasukan raksasa.

Blink! Suara tanwujud memecah puncak kegaduhan pertarungan. "Berhenti sekarang atau bumi musnah." Cahaya membuncah membias langit. Seluruh pasukan raksasa meleleh laiknya permen karet. Satria Keraputih serta pasukannya terbang menembus langit bareng cahaya gemerlapan.

Kisah nurani 
bukan cerita titipan 
basa-basi autokritik.
Ilahi Maha Tahu.

Oh! Halah! Walahkadalah.
Pura-pura lupa ya?

Buat apa susah-susah
bikin keriaan kalau hasilnya 
kosong melompong seperti
pintu angin.

Konflik nurani tak membawa
syafaat, ketinggalan manfaat.
Dengarkan suara sunyi
iman dari makrifat.

***

Jakarta Indonesiana, February 16, 2024.
Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.

*) pulkam; pulang kampung.

Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler