x

Ilustrasi sedang terjadi perang

Iklan

sucahyo adi swasono

Pegiat Komunitas Penegak Tatanan Seimbang (PTS); Call Center: 0856 172 7474
Bergabung Sejak: 26 Maret 2022

Selasa, 27 Februari 2024 12:29 WIB

Di Ambang Kehancuran Dunia (Bagian 2)

Dalam situasi dan kondisi Dunia yang memanas di Asia Pasifik, Timur Tengah dan Eropa, maka masing-masing negara berupaya meningkatkan anggaran pertahanan militernya. Terjadilah perlombaan persaingan persenjataan semakin gencar.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Coba apabila kita tarik ke dalam prinsip sejarah yang berulang atau siklus sejarah. Musibah perang dunia yang dipadu dengan gempa bumi dan kelaparan dimana-mana terjadi pada masa Yesus, yang kemudian berulang lagi menjadi perang besar pada masa Muhammad. Ketahuilah, ada perang besar pada masa Muhammad, yakni yang satu digambarkan dalam QS Al-Fil dan yang satunya lagi digambarkan dalam QS Ar-Rum.

Meskipun para Ahli Kitab menggambarkan peradaban pada masa Muhammad sangat terbelakang, tapi di Al-Qur'an berkata lain. Konvoi pasukan kavaleri Al-Fil dihancurkan oleh squadron tempur udara Ababil yang menjatuhkan bom radiasi atau bom kimia yang bila terkena akan hancur seperti daun yang dimakan ulat. Surat Al-Fil ini menandakan bahwa perang besar pada saat kelahiran Muhammad, sudah menggunakan teknologi canggih sebagai pertanda bahwa peradaban sudah relatif maju pada saat itu.

Kemudian lebih dari 50 tahun setelahnya, ketika kehidupan sudah di puncak kerusakan, Muhammad beserta pejuang-pejuang keseimbangan sudah berupaya menyampaikan sebuah peringatan akan datangnya  malapetaka besar, mengingatkan manusia untuk bertaubat, menyelamatkan diri dari bencana yang mengerikan. Namun sayang, hanya segelintir yang mau mendengar peringatan Muhammad, hingga pada akhirnya perang besar antara dua kekuatan dunia benar-benar meletus, sebagaimana yang digambarkan dalam QS Ar-Rum. Sebuah perang global antara dua kelompok penguasa Dunia, Persia Baru dan Romawi Timur.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tentunya, teknologi yang dipergunakan jauh lebih berkembang dan lebih dahsyat dibandingkan dengan perang yang dikisahkan dalam QS Al-Fil. Kedahsyatan perang inilah yang menjungkirbalikkan peradaban maju menjadi terbelakang.

Setelah lebih dari satu milenium, teknologi mulai bangkit kembali, hingga pada 1939 kembali terjadi perang besar, Perang Dunia 2, perang yang menelan korban 60 hingga 80 Juta jiwa. Perang Dunia 2 ini identik dengan perang dalam kisah QS Al-Fil, kedua perang tersebut sama-sama ditutup dengan dijatuhkannya bom atom, bom radiasi.

Gambaran semua perang besar di atas akan berulang menjadi Perang Dunia 3. Dengan kata lain, Perang Dunia 3 akan terjadi sebagai perulangan dari Perang Dunia 2, perulangan yang terjadi pada masa Muhammad, perulangan yang terjadi pada masa Yesus dan Rasul-Rasul sebelumnya.

Jadi, untuk membaca tanda-tanda akan terjadinya Perang Dunia 3 ini, kita bisa menarik dari data sejarah perang-perang besar sebelumnya. Bisa mulai dari masa Yesus, ditambah data pada masa Muhammad. Tentunya data yang paling lengkap adalah data pada Perang Dunia 2.

Kita simak catatan sejarah latar belakang sebelum terjadinya Perang Dunia 2. Diawali dengan pandemi “Flue Spanyol” pada Februari 1918-April 1920 yang membunuh puluhan juta manusia, kemudian berlanjut dengan great depression  atau krisis ekonomi Dunia. Dalam kondisi ekonomi yang krisis, perlombaan senjata justru semakin gencar dan terjadi kristalisasi aliansi kekuatan militer. Blok Sekutu yang berhadapan dengan blok Poros yang meliputi aliansi Jerman, Jepang dan Italia.

Mari kita bandingkan dengan kondisi pada dekade akhir-akhir ini, pandemi Covid-19 pernah merebak yang dampaknya luar biasa. Kemudian memacu krisis ekonomi global yang menimbulkan gesekan atau tekanan antar negara.

Dalam situasi dan kondisi Dunia yang memanas di Asia Pasifik, Timur Tengah dan Eropa, maka masing-masing negara berupaya meningkatkan anggaran pertahanan militernya. Terjadilah perlombaan persaingan persenjataan semakin gencar, blok-blok militer semakin menampakkan kesolidannya. Perualangan Perang Dunia 2 menjadi Perang Dunia 3 semakin jelas.

Mari kita cermati lebih dalam. Jerman sebagai kekuatan terbesar di Eropa waktu itu, menyimpan dendam atas kekalahannya pada Perang Dunia 1. Beberapa wilayahnya terlepas dan memerdekakan diri, termasuk Polandia yang sebagian penduduknya adalah warga keturunan Jerman. Hal yang sama juga terjadi pada Uni Soviet, setelah kalah dalam Perang Dingin pada 1990, Uni Soviet terpaksa membubarkan diri. Semua negara yang dulunya tergabung dalam Uni Soviet telah memerdekakan diri.

Dalam kesepakatan pembubaran Uni Soviet, pihak NATO (North Atlantic Treaty Organization) berjanji tidak akan memperluas keanggotaannya ke Eropa Timur,  negara-negara bekas Pakta Warsawa. Namun seiring dengan berjalannya waktu, justru banyak negara-negara bekas Uni Soviet dan Pakta Warsawa yang bergabung ke dalam NATO.

Rusia dalam kondisi lemah tidak mampu berbuat apa-apa, kecuali membangun kembali kekuatan ekonomi dan militernya untuk membalas dendam kepada NATO dan Amerika. Atas usaha kerasnya, Rusia mampu bangkit kembali sebagai kekuatan militer terbesar kedua Dunia setelah Amerika. Bahkan, misil-misil Hypersonic dan kekuatan senjata nuklir Rusia jauh mengungguli Amerika. Sampai di sini kondisi masih cukup pararel dengan sebelum pecahnya Perang Dunia 2.

Pada akhirnya Jerman bangkit membalas dendam atas kekalahannya pada Perang Dunia 1, yang diawali dengan menginvasi Polandia yang berkembang dan terjadilah perang di sepenjuru Eropa. Hal yang sama juga telah dipersiapkan oleh Rusia saat ini.

Amerika sangat yakin bahwa Rusia akan balas dendam untuk kembali membangkitkan kejayaan Uni Soviet. Para pengamat mengatakan, bila Rusia benar-benar menginvasi Ukraina, maka gerbang Perang Dunia 3 sudah dibuka! Sama dengan Perang Dunia 2, Perang Dunia 3 juga akan dimulai di Eropa, kemudian berkembang ke wilayah-wilayah lain termasuk Asia Pasifik. Saat ini ada dua kekuatan besar yang berhadapan di Asia Pasifik, yakni China yang berhadapan dengan Sekutu yang dipimpin oleh Amerika.

Karakter China saat ini sangat mirip dengan Jepang pada saat Perang Dunia 2. Dengan pecahnya perang di Eropa, maka China akan memanfaatkan situasi Dunia yang kacau dengan semakin berani menguasai Laut Cina Selatan dan menginvasi Taiwan.

Ketegangan akan semakin memuncak antara China dengan Amerika, ekonomi China yang sangat bergantung kepada Amerika akan mendapatkan tekanan yang sangat berat dengan berbagai sanksi ataupun embargo. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Amerika kepada Jepang pada Perang Dunia 2.

Pada akhirnya, saat kondisi ekonomi di ambang kehancuran, China akan bertindak seperti Jepang dengan mencuri kesempatan untuk menghancurkan kekuatan Amerika di wilayah Pasifik. Inilah kondisi yang sangat berat yang akan dihadapi oleh negara-negara di Asia Pasifik. Dengan lumpuhnya Armada Pasifik Amerika, China akan leluasa menginvasi negara-negara di sekitarnya, hingga negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Bencana kemanusiaan yang cukup berat akan dirasakan.

Kekalahan Sekutu oleh Blok Poros pararel dengan peristiwa "Ghuilibatir-ruum" (QS Ar-Rum : 2-3), yakni kekalahan Blok Romawi Timur oleh Blok Persia Baru pada masa Muhammad. Namun sampai dengan 6-7 tahun setelahnya, "Wa hum mim ba'di gholabihim sayaghlibuun", Romawi melakukan revans menghancurkan blok Persia, yang berarti Sekutu akan bangkit melakukan revans menghancurkan Blok Poros. Hal yang sama juga terjadi pada penghujung Perang Dunia 2.

Perlu diketahui bahwa Perang Dunia 3 adalah Perang Nuklir yang daya hancurnya melebihi dari Perang Dunia 2, dan parahnya lagi, dahsyatnya Perang Nuklir akan diperparah dengan terjadinya gempa-gemba besar di berbagai tempat sebagaimana yang disebutkan dalam Injil. Gempa-gempa besar akan menciptakan Tsunami raksasa dan meletusnya gunung-gunung berapi di berbagai wilayah.

Ingat! Perang serta bencana-becana besar akan berimbas krisis pangan yang hebat serta pandemi yang luar biasa. Lengkap sudah kehancuran yang terjadi, meruntuhkan peradaban dan membunuh milyaran manusia.

Jadi, kembali kami tandaskan, Perang Dunia 3 sudah di depan mata, bencana-bencana besar segera mengguncang kehidupan Dunia. Kita akan dihadapkan dengan kengerian-kengerian yang mencekam, kita akan melihat pemandangan-pemandangan yang sangat tragis dan sadis yang tidak pernah kita lihat sebelumnya. Dan, kita akan merasakan kepedihan yang menyayat-nyayat. Inilah gambaran yang akan menghadang di depan kehidupan kita.

Kami hanya mengingatkan, sudahkah kita siap menghadapinya apabila itu benar-benar terjadi? Apa yang seharusnya kita lakukan apabila saatnya bencana dahsyat mengerikan itu datang melanda kita?

Demikian, dan terima kasih. Salam Seimbang Universal Indonesia Nusantara ...

Catatan:

  • Injil Matius Bab 24:7

(7) Sebab akan bangkit bangsa melawan bangsa, kerajaan akan bangkit melawan kerajaan, akan ada kelaparan dan gempa di berbagai tempat.

  • QS Ar-Rum (30):2-4

(2) Bangsa Romawi telah dikalahkan,
(3) di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang,
(4) dalam beberapa tahun kemudian. Bagi Allahlah urusan sebelum dan setelah mereka menang. Dan pada hari kemenangan bangsa Romawi itu bergembiralah orang-orang yang beriman,

  • QS Al-Fil (105):1-5

(1) Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?
(2) Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?
(3) Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,
(4) yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar,
(5) sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan ulat.

*****

Kota Malang, Februari di hari kedua puluh tujuh, Dua Ribu Dua Puluh Empat.

Ikuti tulisan menarik sucahyo adi swasono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler