x

Kelompok Kerja Perubahan Iklim Manggarai Timur Duduk Bersama Untuk Mengevaluasi Rencana Aksi Daerah Adapatasi Perubahan Iklim 2023, Kamis (22/2/2024), di Aula Lawe Lujang Bappelitbangda.

Iklan

Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Oktober 2022

Selasa, 27 Februari 2024 19:56 WIB

Kelompok Kerja Perubahan Iklim Manggarai Timur Mengevaluasi Rencana Aksi Daerah Adapatasi Perubahan Iklim 2023

Perubahan iklim berdampak kepada penurunan produksi beras, jagung dan tanaman perdagangan (Kopi/Cengkeh). Hal ini berpotensi menimbulkan soal kerawanan pangan, penurunan pendapatan para petani bahkan mereka akan mengalami kehilangan sumber penghidupan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kelompok Kerja Perubahan Iklim Manggarai Timur Duduk Bersama Untuk Mengevaluasi Rencana Aksi Daerah Adapatasi Perubahan Iklim 2023, Kamis (22/2/2024), di Aula Lawe Lujang Bappelitbangda.

 

Kelompok Kerja Perubahan Iklim Manggarai Timur menyelenggarakan seri diskusi untuk melihat (evaluasi) sejauh mana rencana aksi daerah (RAD) adaptasi dan mitigasi yang disepakati tahun 2023 diakomodir dalam RKPD Manggarai Timur Tahun 2024, beberapa hari lalu tepatnya hari, Kamis (22/2/2024), bertempat di Aula Lawe Lujang Bappelitbangda Manggarai Timur. Selain Pokja yang keanggotaanya adalah semua OPD Kemakmuran di Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, pertemuan evaluasi itu juga dihadiri oleh Bank NTT sebagai pihak swasta.



Pada penjelasan tentang maksud dan tujuan evaluasi, Petrus Alexandrinus Apul, SP, Kepala Bidang PSIK di Bappelitbangda Manggarai Timur menegaskan kepada Pokja PI bahwa Perubahan Iklim menjadi salah satu dari tujuh permasalahan utama yang berhubungan dengan prioritas dan sasaran pembangunan dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) tahun 2024. Hal ini merupakan wujud komitmen yang sungguh dari Pemerintah Kabupaten Manggarai untuk mengatasi dampak perubahan iklim khususnya di sektor petanian. Untuk diketahui oleh kita semua, ungkap Sandri, bahwa produksi beras kita terus menurun pada 5 tahun terakhir sehingga harga beras naik tentu persoalan kenaikan harga ini berpengaruh terhadap kehidupan keluarga-keluarga, baik di perdesaan maupun diperkotaan. Bahkan saat ini di beberapa tempat akibat kekeringan, tanaman jagung mengalami gagal panen. Musim kemarau semakin panjang dan situasi ini merupakan gejala telah terjadinya perubahan iklim.



Pada pertemuan evaluasi hari ini, kata Sandri, kami di Sekretariat Pokja Perubahan Iklim meminta anggota Pokja, khususnya dari Dinas Pertanian dan Perkebunan untuk menyampaikan laporan bagaimana tindak lanjut dari Surat Keputusan Bupati Manggarai Timur : HK/150/Tahun 2023 tentang rencana aksi daerah (RAD) Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Manggarai Tmur. Dimana dalam SK tersebut menyatakan bahwa tanggungjawab dari Dinas Pertanian adalah melaksanakan beberapa kegiatan aksi adaptasi, antara lain, Pembangunan UPH Pupuk Organik, Pengembangan Padi Kaya Gizi dan Padi Hybrida tahan kering, pengembangan jagung komposit, pengembangan pangan local terutama sorgum, pembangunan embung, Sekolah Lapang/Pelatihan Petani, penguatan kelompok tani, dan Pengadaan Alsintan



Rikhardus Roden, Koordinator Program VICRA, pada kesempatan itu ketika dimintai pendapat terkait kegiatan evaluasi itu, dia mengingatkan kembali anggota pokja bahwa perubahan iklim yang sudah sedang berlangsung di Manggarai Timur berdampak kepada menurunnya produksi beras di lahan sawah tadah hujan dan sawah beririgasi tehnis. Selain itu, hasil kopi dan cengkeh juga menurun, khusus cengkeh di desa sentra produki cengkeh sudah 4 tahun tidak berbuah sehingga keluarga petani menjadi sulit mendapatkan uang untuk biaya hidup. Berdasarkan data produksi beras yang dirilis oleh BPS Provinsi NTT tahun 2023 dimana sejak tahun 2018 hingga 2022, produksi beras di Manggarai Timur turun sebesar 12,28 persen.





Sedangkan produksi beras di sawah tadah hujan berdasarkan data produksi yang dirilis oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Timur tahun 2021 menurun sebesar 53.94 persen pada periode 2018 sampai dengan 2021. Produksi kopi Robusta pada periode waktu yang sama (2018-2021) di Kecamatan Lamba Leda Selatan dan Congkar mengalami penurunan sebesar 257,30 ton atau 10,93 persen, dari total produksi 2.354,12 ton pada tahun 2018 turun menjadi 2.096,82 ton tahun 2021. Oleh karena itu, Pokja harus terus memperjuangkan agar dalam RKPD dan APBD tahun 2024 Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur menyediakan/mengalokasi anggaran untuk penanganan dampak perubahan iklim dengan melanjutkan RAD adaptasi dan mitigasi Perubahan Iklim Tahun 2023 di sektor pertanian dan perkebunan.


 



“Saya berharap pihak Bank NTT sebagai salah satu pemangku kepentingan dari pihak swasta di Manggarai Timur pada pertemuan ini dapat mengetahui persoalan yang dialami oleh para petani di Manggarai Timur dan juga berkomitmen untuk ikut terlibat mengatasi dampak perubahan iklim,”ungkap Richard.



Adapun Yohanes Manubelu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Manggarai Timur mengatakan kalau melihat data produksi padi pada 5 tahun terakhir dan ada fakta sedang terjadinya perubahan iklim maka Manggarai Timur berpotensi mengalami situasi rawan pangan. Situasi ini harus diberi perhatian serius melalui tersedianya anggaran yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan. Pada tahun 2023, jelas Ade, beberapa kegiatan untuk meningkatan ketahanan pangan masyarakat telah dilaksanakan beberapa kegiatan, antara lain, pembangunan embung, pengembangan sorgum, pembangunan Unit Pengolahan Hasil Sorgum di 2 tempat, Pembangunan dan rehabilitasi jaringan Irigasi, Pengadaan Alsintan, dan Unit Pengolahan Hasil Jagung. Yang belum dilaksanakan adalah pembangunan UPH pupuk organik. Akan tetapi pendanaan untuk kegiatan-kegiatan tadi bersumber dari APBN, dana Pokir dari salah anggota DPR-RI serta hasil kerjasama dengan Yayasan KEHATI Jakarta dan Yayasan Ayo Indonesia.



Pada tahun 2024 ini, ujar Ade, dalam RKPD dari Dinas Pertanian dan Perkebunan akan dilaksanakan beberapa kegiatan yang dimaksudkan untuk mengatasi dampak perubahan iklim, yaitu, Sekolah Lapang Pertanian sebanyak 16 kelas, Menerapakan pola tanam padi Jajar Legowo, Pengembangan Sorgum, Pelatihan tehnis bagi petani, Penyedian Fasilitas Green House bagi Petani hortikultura, Pengembangan jagung untuk produksi benih dan Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Kegiatan-kegiatan ini merupakan RAD Adaptasi Perubahan Iklim dari Dinas Pertanian dan perkebunan yang termuat dalam Surat Keputusan (SK) Bupati; HK/150/Tahun 2023.



Zakaria A Kedang dari PUPR mengatakan, tahun 2024 tetap akan dibangun jaringan irigasi primer dan sekunder sebagai tidak lanjut dari RAD Adaptasi dan Mitigasi tahun 2023 namun yang perlu dilakukan untuk meningkatkan tatakelola air adalah menghidupkan kembali peran dari Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).
 

Rikhardus Roden Urut; Jangan berhenti untuk belajar dan beradaptasi agar bisa menjadi berarti bagi siapapun



 
Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ikuti tulisan menarik Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler