Review Buku Antologi Geguritan Kucing Telon

Sabtu, 2 Maret 2024 14:26 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Review Buku Antologi Geguritan Kucing Telon

Membaca sastra memnambah wawasan kebahasaan kita. Tidak terkecuali geguritan. Geguritan ialah puisi yang ditulis menggunakan bahasa Jawa. Ekspresi bebas dari penyair untuk menyuarakan hati dan memotret suasana lingkungan ke dalam puisi.

Buku kumpulan puisi berbahasa Jawa berjudul Kucing Telon ini merupakan karya guru bahasa Jawa di SMP Negeri 1 Kaliori Rembang. Pemilihan judul kucing telon diinspirasi olehnsalah satu judul geguritan di dalam antologi tersebut.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Buku setebal 54 halaman ini memuat 43 judul. Banyak topik yang diubah menjadi puisi. Sebagai seorang guru bahasa Jawa, beliau memotret siswa dan sekolahnya. Memotret perilaku siswa, menyampaikan harapan tentang sekolah dan pendidikan. Hal itu tertuang dalam beberapa judul seperti Sepatu Kulit, Sekolah Adiwiyata, Pilketos dan juga Sekolah.

Selain berbicara tentang adiwiyata, bu guru cantik ini menceritakan wilayahnya dan berbaur dengan cerita rakyatnya. Seperti pada judul Tamansari, Kutha Lasem, Kutha Rembang, Randugunting, Gajah Kumpul lan Sondong Majeruk.

Saat menikmati geguritan tersebut saya mengamati dan menemukan pola yang sama. Yaitu setiap judul terdiri atas dua bait. Bait pertama berisi tiga baris dan bait kedua berisi 12 baris. Satelah memperhatikan awal kalinat, ternyata ditemukan huruf awalnya membentuk nama penulis yaitu Tri Sulistyorini.

Hal tersebut biasa dilakukan penulis dan penyair yang dikenal dengan istilah sandiasma atau pseudonim. Nama samaran yang menunjukkan kreativitas penulisnya.
Untuk lebih jelasnya bisa disimak cuplikan geguritan berjudul Jaran Goyang di bawah.

Tralala trelele trilili trololo trululu
Rapale ajian jaran goyang dakucapake
Ing karep bocah ayu kae seneng aku

Saben esuk lan sore dakrapalke
Umpama lali aku ya mbaleni ngono jare dukune
Lha piye wong betheke kepengin rabi dheweke
Ingsun mathek aji jaran goyang warisane eyang
Sun karepke prawan ayu kae dadi tersayang
Turu ing wengi tansah kebayang-bayang
Yen melek ora bisa ilang saka panandhang
Ora mari yen durung dadi sing tersayang
Rina wengi tansah ana ung ati
Impen urip bebarengan sejatine dadi
Nadyan kudu nganggo ajian jaran goyang
Ing ngareo terus megal megol goyang-goyang (halaman 44)

Perhatikan awal barisnya. Benarkan membentuk nama penulisnya. Suatu yang baru dalam mengajarkan kita menciptakan geguritan atau puisi orisinal. Asli karya sendiri. Cara tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengajarkan penciptaan puisi atau geguritan. Dijamin orisinal jika membuat karya menggunakan naman sendiri. Atau menggunakan nama kekasih. Sip, deh pokoknya.

Buku ini cocok dijadikan bacaan dan contoh menciptakan karya puisi atau geguritan menggunakan nama sendiri. Mau? Silakan mencobanya. Selamat dan sukses.

Demikian, semoga menambah wawasan dan kreativitas kita. Terima kasih.

Sumber: Tri Sulistyorini, 2023, Kucing Telon, Antologi Geguritan, Pati: Nikrusmedia

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rusdi Ngarpan

Penulis Indonesiana/ Alumnus UNNES Semarang, berkarya di SMP

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler