Dengan Program Kubik Penyandang Disabilitas Mengubah Kain Perca Jadi Cuan

Senin, 15 April 2024 16:47 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Yayasan Ayo Indonesai melalui progam KUBIK bekerjasama dengan NLR Indonesia melatih para penyandang disabilitas mengolah kain perca menjadi produk bernilai ekonomi. Teentu ini untuk meningkatkan penghasilan mereka. Aneka produk kerajinan tangan bermotif budaya Manggarai ini nanti akan menyasar pasar pariwisata di Labuan Bajo-NTT.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Yayasan Ayo Indonesai melalui progam Kelompok Usaha Bisnis Inklusis (Kubik) bekerjasama dengan NLR Indonesia melatih para penyandang disabilitas mengolah kain perca menjadi produk bernilai ekonomi. Teentu ini untuk meningkatkan penghasilan mereka. Aneka produk kerajinan tangan bermotif budaya Manggarai ini nanti akan menyasar pasar pariwisata di Labuan Bajo-NTT.

Tujuh orang penyandang difabel, selama 2 hari, 13 – 14 April 2024 dilatih cara membuat aneka produk kerajinan tangan, antara lain, bandana, anting, box tissue, dan kalung, di salah satu ruangan pelatihan di KSP CU Florette. Mereka terdiri dari 1 orang inklusif, 1 orang difabel yang bukan sasaran program KUBIK, dan yang lain adalah peserta program Kubik.

Menurut Jeri Santoso, Koordinator program KUBIK kerjasama Yayasan Ayo Indonesia dengan NLR Indonesia, para peserta ini sudah punya keterampilan dasar menjahit dan mereka hanya dilatih membuat aneka produk craft tadi dengan memanfaatkan kain perca (kain-kain sisa pembuatan pakaian) dan kain tenun yang diproduksi oleh para difabel, peserta program Kubik.

Tujuan dari pelatihan ini, jelasnya, adalah 1) untuk meningkatkan keterampilan dalam memproduksi aneka produk kerajinan tangan dan meng-scaling-up usaha dari mereka sehingga omset/pendapatan usaha menjadi lebih besar, dan 2) Mengolah kain bekas yang biasanya dibuang jadi sampah menjadi barang seni bernilai ekonomis. Harapannya nanti melalui pelatihan ini dapat memperkuat rantai pasar antar sesama difabel untuk mencapai tujuan dimaksud yang telah dibangun tahun lalu, karena diantara mereka ada yang menjalankan usaha jasa menjahit.

Aneka jenis produk kain perca, hasil pelatihan

Alasan mendasar atau inti diselenggarakannya pelatihan ini, ungkap Jeri, sebenarnya mau merespon pasar khusus, yaitu para wisatawan yang datang ke Labuan Bajo, kota Premium, sebab minat mereka untuk membeli barang kerajinan dengan motif budaya manggarai cukup tinggi. Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat tahun 2023,(www.detik.com/detikbali.22/1/2024) sebanyak 423.848 wisatawan telah berkunjung ke Labuan bajo, dan terus meningkat di masa mendatang,  jadi  ini merupakan potensi pasar yang sangat besar dan menjadi peluang pasar yang menjanjikan bagi alirnya begitu banyak cuan atau rejeki kepada teman-teman penyandang difabel.

Pelatihan dilaksanakan di Ruang Pelatihan KSP CU Florette ada maksudnya, kata Jeri, yaitu mau memperkenalkan kepada peserta tentang lembaga keuangan non-bank yang siap menyediakan modal usaha, tentu mereka harus menjadi anggota terlebih dahulu. “Menjadi anggota Koperasi Simpan Pinjam CU Florette merupakan satu strategi untuk mewujudkan upaya Scaling-Up usaha dari peserta program Kubik melalui skema pinjaman,”ujarnya. Bahkan nanti produk-produk mereka bisa dipajang di ruang depan tempat pelayanan anggota di Kantor KSP CU Florette.

“Terkait upaya meningkatkan pemahaman lebih mendalam tentang koperasi dalam konteks literasi keuangan sebagai lembaga penyedia layanan kredit untuk akses permodalan usaha selalu disampaikan terus menerus ketika melakukan mentoring terhadap peserta pelatihan yang sudah menjadi sasaran program KUBIK,”pungkasnya. Peserta dilatih oleh Yanti Tulung, seorang perempuan yang telah berpengalaman memproduksi barang-barang kerajinan tangan dari kain bekas.

Rikhardus Roden Urut

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rikhardus Roden

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler