x

Eulogi Iwan Tjitradjaja

Iklan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 15 Mei 2024 19:38 WIB

Belajar Manusia dan Antropologi dari Iwan Tjitradjaja

Iwan Tjitradjaja adalah cendekiawan muda yang berpulang dalam usia muda. Daripadanya kita bisa belajar banyak tentang ilmu antropologi dan tentang kehidupan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul: Belajar Manusia & Antropologi Dari Iwan Tjitradjaja

Editor: Sulistyowati Irianto dan Nosa Normanda

Tahun Terbit: 2015

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penerbit: Yayasan Obor

Tebal: xvi + 256

ISBN: 978-979-461-955-1

 

Selain dari biografi dan otobiografi, cara untuk mengenal secara mendalam kisah hidup seseorang adalah melalui buku kenangan. Eulogi Iwan Tjitradjaja ini adalah salah satu sumber informasi yang sangat kaya untuk mengenang sosok tokoh antropologi yang mengajar di Universitas Indonesia.

Buku ini melengkapi pengetahuan saya tentang Iwan Tjitradjaja. Meski tidak kenal, saya pernah jumpa dengan Iwan. Saat itu Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu bekerjasama dengan Antropologi UI untuk melakukan penelitian tentang petani. Dalam sebuah briefing bagi para mahasiswa yang akan mengumpulkan informasi di lapangan, saya bertemu dengan Profesor Vayda dan Iwan di Jogja. Setelahnya saya berjumpa dengan Iwan di Kantor Ford Foundation di Gedung Wijoyo Jakarta. Saat itu Iwan berambut panjang, memakai jean dan mondar-mandir di kantor.

Eulogi ini ditulis oleh para kolega di Departemen Antropologi UI, para sahabat, mantan mahasiswa dan staf yang bekerja langsung dengan Iwan. Diantara para koleganya di Antropologi UI ada Prof Vayda, Meutia Hatta dan Yunita Winarno. Saya mengenal Yunita lebih baik daripada Iwan. Sebab Yunita mengepalai penelitian sejenis di Lampung dimana saya terlibat lebih aktif. Melalui Yunita saya mengenal lebih dalam tentang Atropologi UI karena saya sering mendapat buletin Antropologi darinya. Saya juga beberapa kali mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh Atropologi UI melalui Yunita.

Buku eulogi ini membantu saya menghubungkan pengetahuan saya tentang Antropologi UI dengan sosok Iwan yang pernah saya temui. Ternyata peran Iwan dalam mengelola dan mengembangkan Antropologi begitu besar.

Sulistyowati Irianto dan Nosa Normanda menyunting sangat baik tulisan-tulisan yang dikerjakan secara tergesa-gesa oleh para penulisnya. Tergesa-gesa karena momen menulisnya memang sesaat setelah mereka mendengar khabar berpulangnya Iwan. Justru karena disiapkan dengan tergesa-gesa inilah kejujuran dalam masing-masing tulisan menjadi sangat kuat. Tulisan-tulisan itu mengabadikan kenangan terdalam dari masing-masing kontributor.

Dua penyunting ini mengumpulkan tulisan-tulisan eulogi Iwan dalam tiga dimensi hidup Iwan. Dimensi pertama adalah tentang Iwan sebagai Penjaga Rumah Antropologi. Kolega Iwan yang sama-sama mengelola Departemen Antropologi, seperti Meutia Hatta, Yunita Winarno dan lainnya menyatakan bahwa Iwan begitu cinta akan departemen ini. Ia bersungguh-sungguh mengabdikan kehidupan intelektualnya dan kehidupan pribadinya untuk menjaga dan membesarkan departemen dimana ia mengabdi seumur hidupnya.

Dimensi kedua kehidupan Iwan adalah Iwan sebagai pecari kedamaian. Bagian ini dipakai untuk mengumpulkan tulisan-tulisan sahabat dekat Iwan dan mereka yang pernah bekerja dalam kegiatan pengabdian masyarakat/proyek-proyek sosial dimana Iwan terlibat. Sebagai seorang teman, Iwan selalu membantu kawan-kawannya; bahkan sejak masih di bangku sekolah. Iwan memang sering terlibat dalam program-program pengabdian masyarakat dan penelitian di lapangan, khususnya di bodang community forestry. Bahkan Iwan dianggap sebagai nabi di wilayah Gunung Betung Lampung. Iwan sangat berhasil menjadi fasilitator bagi para petani yang dicap sebagai perambah hutan. Ia menjadi jembatan antara petani dan Pemerintah untuk mencari solusi. Sampai akhirnya para petani tersebut mendapatkan hak untuk mengelola hutan kemasyarakatan. Keberhasilan inilah yang membuatnya mendapatkan julukan nabi. Kawan-kawan peneliti dan para profesional yang terlibat dalam proyek-proyek bersama Iwan memberikan pengakuan bahwa Iwan adalah orang yang selalu tampil sederhana, akrab, cair dan selalu mengajak untuk mencari solusi.

Banyaknya peran Iwan dalam proyek-proyek penyelesaian konflik kehutanan membuat editor buku ini tak cukup memakai satu dimensi - yaitu dimensi pencari kedamaian, untuk mengumpulkan tulisan-tulisan sahabat Iwan. Sulistyowati dan Nora menambahkan dimensi Iwan sebagai pembimbing, pendengar dan pendorong. Tulisan-tulisan yang dikelompokkan di bagian ini, selain dari tulisan para sahabat yang bersama bekerja di proyek-proyek, juga tulisan para mantan mahasiswanya dan staf yang bekerja dengannya. Bagi kawan-kawan proyeknya, termasuk para petani dan penduduk desa yang bekerja bersama Iwan, Iwan dikenal sebagai seorang pendengar yang baik. Bagi para mahasiswa dan stafnya Iwan adalah sosok yang ramah dalam membimbing. Namun Iwan adalah orang yang tak mau ditawar dalam prinsi akademik. Meski teguh dalam memegang prinsip akademik, Iwan tak segan membantu mahasiswa yang kesulitan untuk bisa menyelesaikan studinya. Dukungan Iwan kepada para mahasiswanya tak terbatas pada dukungan akademik tapi juga dukungan finansial.

Selain ketiga dimensi yang ditampilkan, buku ini juga mencatat upaya Iwan sebagai manusia. Meutia Hatta terkejut saat tiba-tiba Iwan yang kuliah di Amerika balik ke Indonesia. Ternyata Iwan kesepian hidup sendiri di Amerika. Ia balik ke Indonesia untuk menikah. Iwan adalah sosok yang selalu optimis. Termasuk terhadap kesembuhan dari penyakit yang dideritanya.

Iwan Tjitradjaja lahir di Pangkal Pinang 15 Agustus 1958 dan meninggal di Jakarta tanggal 8 Februari 2015. Iwan dijuluki sebagai intelektual muda yang sangat brillian. Iwan adalah Doktor termuda saat itu di Antropologi UI. Ia mendapat gelar doktor sebelum berumur 30 tahun. Namun Iwan yang kurang suka menulis, belum sampai mencapai gelar Profesor. Padahal karya-karya nyatanya di lapangan dan pengakuan dari banyak pihak membuktikan Iwan layak mendapatkan gelar tersebut. Iwan memang kurang suka menulis. Bahkan Yunita menyampaikan bahwa sampai akhir hayatnya belum ada satu karya ilmiah yang dipublikasikannya di jurnal ilmiah nasional atau internasional. Hal inilah yang menghambatnya untuk mencapai gelar profesor. 834

Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler