x

Kolase Foto Tempo.com/untuk Cerpen Pagan

Iklan

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Pagan

Panorama cerpen, imaji mengurai sel-sel otak agar tetap sehat walafiat. Tak ada pembaca tak ada seni susastra. Jelajah imajinasi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

DONGENG LANGIT.
Sentir layar terkembang cahaya pembuka.
Musik: Metal symphony adegan berkisah.

Cinta seimbang semesta 
edukasi setara kebudayaan
jangan mengakali tanah air 
pagan tradisi merawat bumi 
oksigen terjaga bersih

Membaca semesta melihat nurani di badan. Setelah dihidupkan lantas wafat alami ketentuan kelahiran tak ada satupun abadi. Siklus jagat raya rotasi musim batas iklim sistem tatasurya menyeluruh. Perubahan suryasengkala waktu panorama fajar kizib merona fajar sidik melintas siang menuju baskara tunggang gunung.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mengakali tanah air. Apakah ingin melupakan hidup keutamaan awal mula ilmu kebudayaan. Kalau mengakali jadi pilihan makhluk hidup bersiaplah kehilangan oksigen di lingkungan terkecil lalu meluas. Gegar budaya mengguncang warisan leluhur purba. Ekosistem, adat istiadat sirna digilas kemodernan abal-abal.

"Mawas diri mahal harganya."
"Belajar jadi baik mahal maharnya."
"Bukan opsi sertifikasi loh."
"Juga bukan opsi rekreasi." 

Modern tidak destruktif sesuka hati menggilas tatanan tradisi tempat lahir kreatif alami sepakat sejak awal takdirnya. Kemodernan, edukasi kultural adaptif inheren ekosistem, membangun struktur teknologi arsitektur hijau, ramah oksigen tak menggusur tradisi semena-mena; salah satu kesederhanaan.

Alam ramah pada makhluk hidup apapun itu. Mewarnai candradimuka memantul cahaya niskala risalah senandika kehidupan lanjutan memberi manfaat. Menunggu hujan dari langit setelah kemarau melintas. Matahari terpejam dikara pegunungan. Sungai membawa jasad renik menuju lautan harmoni rantai makanan.

"Suluk megatruh menyala sukma."
"Tercipta mantra setelah sunyi."
"Risalah batin dialogis."
"Bertemu tembuni sekandung."

Rembulan lazuardi mendesah tembang asmarandana menyapa desir rasa irama suara malam. Sejuk berpeluk iklim waktu tempuh transendental semesta bening terkaca. Bareng teknologi estafet menembus batas. Detak jantung kolaborasi kehidupan inteligensi antar makhluk nonrobotik. Pustaka tradisi menyublim tanah adat.

Aurora alam langit pesona warna cuaca tak berpolitik. Ragam polarisasi lintasan perilaku pernyataan musim berganti. Perjalanan misteri lintas batas personalisasi ranah pandang ungkapan penetrasi daya pikir jernih. Pelindung pagan tradisi tanah adat. Meski nilai hidup manusia terancam moral domino kaum culas.

"Lempar batu sembunyi tangan."
"Ketimpuk muka sendiri."
"Konspirasi, komparasi sosial politik muslihat."
"Menampar muka pribadi."

Hening bening langka mencapai titik didih meditatif rasional imajinatif, instingtif. Upacara hati bersih tulus menyala. Cinta sejati kalau ada, di antara cemaran plastik mendunia plus ancaman penguasa adidaya materialisme segala ada, terus berusaha menjadi tuhan baru di ranah euforia perang.

Misteri kesehatan jiwa negeri di manapun tak satupun tahu. Benar-benar sehat atau sekadar apologia dari sebaliknya benar. Berkisah di novel, artikel ataupun cerita pendek mirip kebenaran adegan realitas panggung. Mungkin saja menjadi adegan multigambar kalau pangkat dua berkibar serupa tanda petik.

"Kecerdasan milik siapa?"
"Tergantung keteduhan keadilan."
"Hal muskil itu milik siapa."
"Belum tampak pasti."

Sains belajar mencerna tesis-antitesis. Pilihan perilaku rahasia rumus matematis kata berlanjut nonmatematis. Jungkirbalik tanda angka-angka di antara alfabetis. Ranah irasional seolah-olah rasional bolak-balik terbalik. Kanan kiri atas bawah panjang kali lebar di arena inteligensi terlihat benar, sesungguhnya terbatas.

"Ini dunia pascamodern."
"Humanis apakah masih cantik."
"Bicaramu anarkis."
"Cita-cita kekuasaan dokmatis."

Pernyataan perang esensi hidup paling rendah tak bernilai humanis. Monarki feodal perjudian nasib meja taruhan. Terbelakang di kelas tertinggi realitas hidup percaturan politik terbuka jurdil demi hukum. Musim feodalisme terus membujuk dunia terkini, untuk melupakan prinsip hidup bersama setara saling menghormati rasa keadilan. 

"Kalau filsafat matisuri."
"Penyebab sesat pikir."
"Humanisme jadi pamflet."
"Negosiator sembunyi di saku."

Militerisme kuasa usaha berkedok demokrasi dagang senjata canggih adikuasa perang modern. Pembunuh asas kemanusiaan kelas dunia menginjak-injak prinsip humanis. Profil moralitas domino profit militerisme; meluaskan area inovasi perdagangan, invasi senjata militer bla bla bla. "Now you're not a superpower anymore..." 

Katanya negeri peace for the world. Why gituloh. Negerimu anarkis, represif, terhadap prodemokrasi perdamaian dunia demi kemanusiaan anti-genosida. Boleh bertanya. Demokrasi model apakah negerimu; memblokir demonstran anti perang akibat invasi senjata modern milikmu membuncah konflik. "Are you human?"

"Baru saja aku membunuh lalat."
"Mengapa kau lakukan itu."
"Karena dia terlihat lemah."
"Apa kau merasa kuat?"

Indikasi tersirat di kalbu. Melintas jiwa tak rela melepas kuasa bertopeng indeks tali kasih seolah-olah mencintai. Jualan syak wasangka tebar pesona agar derita perang tak terlihat massal. Ada apa di balik memuliakan Durna, menjadi mahasenapati Kurawa, kisah Mahabharata. Duryudana, maunya apa. Abadi misteri kisah hidup antar insan.

Seperti membaca cerita pohon tumbang sebab angin. Badai di balik awan bakal hadir bencana angin gigantik. Frekuensi gelombang taifun menerjang sistem cuaca iklim superekstrem. Alam tak menjelaskan makna di balik kuasa cuaca sistemis. Gaib ledakan jagat raya lanjutan menunggu waktu tempuh takdir pemilik multisemesta.

"Bisa menghidupkan lalat itu?"
"Tidak."
"Lantas apa upayamu."
"Tidak tahu."

Setara hidup di bumi manfaat mulia. Pelangi-pelangi memeluk cinta sejahtera kasih sayang. Kebaikan musyawarah publik pemersatu jalan tulus lurus budi. Menunggu keberanian kebijaksanaan lembaga edukatif merangkul anak negeri tanah air leluhur purba. Menyimak semarak serenade langit overture gita puja mengangkasa.

Cinta terkadang memprosakan lirik dramatik mengharu biru. Cerita hutan rusak. Ekosistem terserang flu. Banjir bandang. Gangguan longsor hadir sesuka hati. Hutan gugur hijau pohon lenyap. Angan ketinggalan sepeda cerita sendu kampanye ekosistem. Obligasi terang benerang di langit; manipulasi membidik kesempatan.

"Jangan bobok siang sayang."
"Tergantung cuaca kekasih."
"Untuk siapa hujan." 
"Mungkin untuk kemarau."

Culas, sosok peran antagonis gebetan gelap protagonis. Membingungkan kesejahteraan orang banyak di lingkaran candra sangkala. Seringai raksasa rebutan memamah biak sepanjang mode kehidupan musim berganti. Siluman membayangi frekuensi komunikasi pemberitaan. Semoga kebebasan pers baik-baik saja. Adem.
 
***

Jakarta Indonesiana, Juni 10, 2024.
Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.

Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler