Metode dan Syarat Menggali Pengetahuan dari Kitab Suci Umat Beragama

Rabu, 12 Juni 2024 17:00 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kita dapat menggali pengetahuan kitab suci seluruh umat beragama, ada yang merupakan pengetahuan dan ada yang Syariat. setiap Rasul menetapkan syariat sesuai urgensi zaman.

Wawasan Pembuka

Al-Qur'an dalam surat Al-Baqarah ayat 2-5 berbunyi:

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, Orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, Mereka yang beriman pada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Melalui ayat diatas, Allah menganugerahkan Kitab Suci kepada umat manusia sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Sebagai petunjuk, kitab suci dilengkapi ilmu pengetahuan tingkat tinggi yang dirasakan kebermanfaatannya. Sementara sebagai pedoman hidup, kitab suci menyediakan hukum yang patut dipatuhi umat manusia sebagai jalan keselamatan dunia akhirat yang mencakup perintah dan larangan.

Hukum dari kitab suci, dalam ajaran Islam disebut sebagai Syariat, yang mana ada 5 jenis hukum yang patut diperhatikan oleh pemeluk Islam yaitu diantaranya:

1. Yang diwajibkan
2. Yang disunahkan (yang dianjurkan)
3. Yang dimubahkan (yang dibolehkan)
4. Yang dimakruhkan (lebih baik ditinggalkan)
5. Yang diharamkan (yang dilarang)

Dengan mengetahui hal diatas kita dapat menggali pengetahuan Kitab Suci seluruh umat beragama yang ada dengan mengetahui mana-mana yang merupakan pengetahuan dan mana-mana yang merupakan Syariat. Sebab setiap Rasul menetapkan syariat sesuai urgensi zaman, misal syariat yang dibawakan Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad tentu berbeda karena disesuaikan dengan urgensi zaman Nabi itu hidup.

Seperti misal dalam Ajaran tertentu selain Islam yang saat ini ada, tidak diketahui aturan mewajibkan salat, sementara dalam Islam mewajibkan salat lima waktu, hal ini adalah salah satu bagian dari Syariat.

Pengetahuan bersifat memuliakan Allah dan memberikan kebermanfaatan jika diketahui dan diaplikasikan sepanjang hidup. Misalkan salah satu pengetahuan Kitab yang saya dapat dari Bhagavad Gita adalah perihal 3 sifat alam yang membentuk peradaban manusia, yaitu Sattvam (kebaikan), Rajas (nafsu) dan Tamas (kegelapan/abai/kebodohan), dimana mana yang paling mendominasi sifatnya, hal tersebut dapat menunjukkan kualitas peradaban tersebut dan arah peradaban manusianya kemana.

Metode dan Syarat

Maka metode untuk kita bagi yang mau menggali pengetahuan kitab suci dari berbagai literatur umat beragama adalah:

1. Mendeteksi mana yang merupakan pengetahuan, dan mana yang merupakan syariat.
2. Yang kita ambil dari Kitab Suci selain Al-Qur'an adalah pengetahuannya saja, jika ada yang memuat aturan perintah dan larangan di dalamnya, abaikan, karena muslim hanya memegang syariat yang bersumber dari Al-Qur'an dan Al-Hadits.
3. Setelah mendapati ayat-ayat Kitab Suci selain Al-Qur'an itu diketahui sebagai pengetahuan, sebelumnya kita wajib memenuhi syarat utama untuk dapat menggali pengetahuan dari kitab suci. (nanti dilanjutkan lagi metodenya dibawah setelah penjelasan berikut)

Dan ini merupakan syarat utama atau kualifikasi diatas:

1. Memiliki hati yang bersih (dari keraguan, kemunafikan, kedengkian, hati yang keras/menolak kebenaran, dan penyakit hati lainnya)
2. Membenarkan setiap pengetahuan kitab suci dan meyakininya sebagai kebenaran dari sisi Tuhan yang Maha Esa.
3. Sudah banyak membaca berbagai kitab suci agar memudahkan langkah berikutnya saat menggali pengetahuan kitab suci.

Sebagai indikator kita dapat mengetahui bahwa hati kita bersih atau tidak, bisa dideteksi melalui Bhagavad Gita sloka 18.23-25:

Perbuatan yang teratur dan dilakukan tanpa ikatan, tanpa cinta kasih maupun rasa benci dan tanpa keinginan untuk memperoleh hasil atau pahala dikatakan perbuatan dalam sifat kebaikan.

Tetapi perbuatan yang dilakukan dengan usaha yang keras oleh orang yang mencari kepuasan keinginannya, dan dilakukan berdasarkan rasa keakuan palsu, disebut perbuatan dalam sifat nafsu.

Perbuatan yang dilakukan dalam khayalan, tanpa mempedulikan aturan Kitab Suci, dan tanpa mempedulikan ikatan pada masa yang akan datang, kekerasan maupun dukacita yang diakibatkan terhadap orang lain disebut perbuatan dalam sifat kebodohan.

Maka dari pengetahuan Bhavagad Gita diatas kita dapat mengetahui syarat utama seorang berhati bersih (didominasi oleh sifat kebaikan):

1. Seorang berhati bersih selalu terbiasa dengan perbuatan yang tanpa ada ikatan setelahnya, yang tidak pamrih dan tidak dimaksudkan untuk, memperoleh hasil dari perbuatan, balasan orang lain maupun pahala dari sisi Tuhan. Simplenya seorang berbuat kebaikan hanya demi mendapatkan rida-Nya semata, bukan untuk berbisnis dengan Allah guna mendapatkan balasan di dunia yang berlipat-lipat.

Juga perbuatan yang tanpa didasari cinta kasih atau pun rasa benci, melainkan seorang berhati bersih melakukan perbuatan semata-mata sebagai kewajibannya sebagai manusia, kewajiban yang tak menuntut ini itu kepada manusia lainnya, dan tanpa menuntut pahala kepada Tuhan, melainkan guna meraih rida Tuhan semata.

2. Seorang berhati bersih tidak membuatnya dikuasai nafsu sebab kebanyakan perbuatannya semasa hidup dimaksudkan guna memuaskan segala keinginannya semata melalui usaha yang keras dan melelahkan, dan didasari oleh keakuan identitas badan/duniawi (bukan identitas rohani seperti saya adalah pekerja, saya adalah pedagang dan identitas duniawi lainnya, sementara identitas rohani seperti saya adalah hamba Allah dan umat Muhammad).

3. Seorang berhati bersih tidak membuatnya dikuasai oleh kebodohan, sebab banyak melakukan banyak perbuatan yang menyimpang dari Syariat yang dianutnya, tanpa mempedulikan adanya ikatan setelahnya, kekerasan dan dukacita yang diakibatkannya terhadap orang lain.

Dan dipertegas lagi kualifikasinya dengan Bhagavad Gita sloka 18.26-28.

Orang yang melakukan tugas kewajiban tanpa pergaulan dengan sifat-sifat alam material, tanpa keakuan palsu, dengan ketabahan hati dan semangat yang besar, tanpa goyah baik dalam sukses maupun dalam kegagalan dikatakan sebagai orang yang bekerja dalam sifat kebaikan.

Pekerja yang terikat pada pekerjaan dan hasil atau pahala dari pekerjaan, yang ingin menikmati hasil-hasil itu, yang bersifat kelobaan (serakah), selalu iri, tidak suci dan digerakkan oleh rasa riang dan rasa sedih, dikatakan sebagai pekerja dalam sifat nafsu.

Pekerja yang selalu sibuk dalam pekerjaan yang bertentangan dengan aturan Kitab Suci, yang duniawi, keras kepala, menipu dan ahli menghina orang lain, malas, selalu murung dan menunda-nunda dikatakan sebagai pekerja dalam sifat kebodohan.

Kitab suci merupakan pengetahuan dalam mode sifat kebaikan, maka wajib dipelajari seorang manusia yang juga didominasi mode sifat kebaikan, jika tidak maka penggalian pengetahuan kitab suci seluruh umat beragama menjadi sebuah kesia-siaan.

Mari kita lanjutkan metode selanjutnya dari penjelasan diatas:

4. Jika hati yang bersih atau mode sifat kebaikan mendominasi diri kita, maka lanjutkan ke tahap pengajuan pertanyaan filosofis mengakar untuk mendalami ayat ayat Kitab Suci yang kita dalami, dengan tiga metode: yakni ajukan pertanyaan menjawab apa (ontologi), bagaimana (epistemologi), dan untuk apa (aksiologi).

Misal: Apa pengetahuan yang didapat dari Al-Kitab Lukas 17:19? Bagaimana cara untuk mengetahui kebenarannya, dan untuk apa manfaatnya bagi orang banyak?

Lalu, Isa bersabda kepadanya, “Berdirilah dan pergilah. Imanmu telah menyembuhkan engkau.”

Maka jawabannya yang diketahui:

Pengetahuan yang didapat adalah Iman dapat menyembuhkan.

Cara untuk mengetahui kebenarannya adalah dengan mengetahui bagaimana iman dapat menyembuhkan? Yaitu dengan mengetahui sebab-sebab seorang dapat beriman pada seorang lainnya, bisa berupa derajat kedudukan yang diakui seorang lainnya, dan penguasaan ilmu serta kondisi seorang dimaksud yang relevan untuk dapat diimani (seperti kesalehan, keimanan dan ketakwaannya).

Manfaatnya adalah dengan mengetahui iman dapat menyembuhkan, kita bisa mempergunakan suatu metode yang melibatkan keimanan seseorang guna dapat menyembuhkan seorang dari beragam penyakit yang dideritanya.

5. Jika menginginkan pengetahuan yang lebih lengkap, sahabat pembaca dapat mengaitkan dengan ayat kitab suci lainnya yang relevan dan dapat menguatkan pengetahuan yang hendak digali.

Misal, setelah mengetahui bahwasanya iman dapat menyembuhkan seperti yang dijelaskan Al-Kitab Lukas 17.19. Ada ayat Al-Qur'an yang dapat melengkapi pengetahuan diatas yakni surat Yunus ayat 57 berbunyi:

Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin.

Bahwa dengan keimanan kita terhadap bacaan Al-Qur'an setiap harinya, dapat menyembuhkan hati kita dari berbagai penyakit hati seperti keraguan, kemunafikan, kedengkian, hati yang keras/menolak kebenaran, dan penyakit hati lainnya, tentunya selama kita mengimani Al-Qur'an dengan benar (yaitu diyakini oleh hati, dibenarkan oleh lisan dan diamalkan oleh perbuatan).

Demikian penjelasan artikel "Metode dan Syarat Menggali Pengetahuan Dari Kitab Suci Umat Beragama".

Semoga bermanfaat!

Cimahi, 12 Juni 2024.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Hamba Allah dan Umat Muhammad Saw. Semakin besar harapan kepada Allah melebihi harapan kepada makhluk-Nya, semakin besar pula potensi dan kekuatan yang kita miliki.

1 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua