x

JJ Rizal. TEMPO/Imam Sukamto

Iklan

juli matahari hantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Gotong Royong untuk Depok

Depok kini sudah rusak, diperlukan usaha bersama untuk kembali menjadikannya hijau.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pada suatu siang saya sengaja mendatangi kediaman karib saya, JJ Rizal. Dia rupanya tengah asyik menyantap sayur asem dan pepes ikan di tengah ruang makan yang dikepung tumpukan buku dan benda-benda antik lainnya. Itu sayur asem Betawi, katanya. Sang asisten rumah tangga diberinya panduan bumbu-bumbu untuk membuat sayur asem warisan leluhur.

Dalam obrolan yang gaduh, walau kami hanya berdua, dia tampak gusar membicarakan bagaimana proyek rumahnya yang tengah dibangun terendam banjir. Seumur-umur itu baru pertama kali banjir di daerah itu. Pohon rambutan kesayangannya pun harus ikut terendam dan mulai layu. Padahal sebentar lagi musim rambutan berbuah.

Dia kemudian menunjuk proyek parit yang hanya dikerjakan di sisi sebelah kanan jalan dekat lapangan Hawe, Beji, Depok. Akibatnya air melimpas karena tak dapat menampung beban hujan yang deras dan lama kala itu. Rizal dalam gaya Betawi nya yang tak berubah sejak mahasiswa dulu, menyebut itu gegara kebijakan mendahulukan tangan kanan yang selama ini diusung Wali Kota Nur Mahmudi Ismail.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Akhirnya membangun pun didahulukan sebelah kanan, ucapnya sewot. Bukan kali itu saja dia menjadi korban dari buruknya pembangunan di kota yang sudah berusia 15 tahun itu. Sebelumnya, sebuah lubang menganga yang ada di dekat rumahnya memakan ban sepeda yang tengah dikendarainya. Dia terguling jatuh. Hasilnya: giginya sompral.

Terpaksa dia harus istirahat di rumah. Padahal, saat saya kunjungi setelah kecelakaan itu, dia bilang tengah banyak acara yang menunggu kehadirannya sebagai pembicara. Dalam kondisi gigi yang tanggal dia pun masih sempat mengungkapkan kekesalannya terhadap pembangunan kota Depok. Kota Depok rusak, kata dia, karena pemimpinnya abai terhadap kepentingan warganya.

Selama sepuluh tahun terakhir, Kota Depok tak memperlihatkan identitasnya sebagai kota penyangga Ibu Kota.  Sebagai wilayah penyangga, Depok seharusnya menjadi kota yang penuh dengan waduk dan ruang terbuka hijau yang luas. Hal ini untuk menghindari Jakarta dari musibah banjir yang datang hampir tiap tahun. Tapi tampaknya hal ini tak digubris pemerintah yang masih berkuasa. Pembangunan apartemen kini menjamur, ruang-ruang terbuka hijau hilang. Depok berubah sangat cepat tanpa memperhatikan kultur aslinya.

Sebagai orang yang menghirup udara, menginjak tanahnya, dan menikmati airnya, JJ Rizal, saya, dan banyak warga Depok lain tentu saja geram dengan kondisi ini. Perubahan memang harus dilakukan. Jauh sebelum ini, saya pernah mencuit untuk mendukung kawan saya itu untuk menjadi Wali Kota Depok selanjutnya. Rezim sudah akan berakhir, ucap saya. Giliran kita mengubah wajah kota ini.

Entah cuitan saya dibaca atau tidak olehnya. Tapi beberapa hari ini media sosial ramai membicarakan keinginan JJ Rizal  untuk maju menjadi pemimpin di Depok. Saya yakin anak Betawi asal Rawa Belong itu bisa mewujudkan mimpi warga kota. Agar kota ini menjadi kota yang humanis, kota yang hijau, infrastrukturnya baik, dengan danau-danau yang indah dan taman-taman apik di sekujur kota. Harapan yang sebetulnya sederhana untuk warga kota.

Untuk semua itu dibutuhkan kerja gotong royong seluruh warga kota.  Dan gotong royong itu sebaiknya dimulai dari sekarang .

 

 

 

Ikuti tulisan menarik juli matahari hantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler