x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Menyaingi Instagram, Picmix Cerdik Membidik Peluang

Inovasi dan kreasi bisnis dapat lahir dari kejelian melihat dan memanfaatkan peluang.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“A picture is a poem without words.”
--Horace (Penyair, 65 SM – 8 SM)

 

Sebelum Picmix lahir dan masih sering menggunakan Instagram, begitu cerita Calvin Kizana kepada studentpreneur.co, ia merasakan setidaknya dua kekurangan pada aplikasi populer ini. Pertama, Instagram tidak menyediakan fasilitas untuk membuat kolase foto, yang ada hanya untuk 1 frame. Kedua, di Instagram tidak ada fasilitas untuk memberi teks. Misalnya: “Aku lagi di puncak gunung Semeru jam 12 malam. Biarpun didekap udara dingin, hatiku semakin hangat.” Untuk melakukan kedua hal itu, proses editing dilakukan dengan aplikasi lain. Maknanya, tidak praktis.

Dari sinilah, Calvin memperoleh gagasan membuat aplikasi yang mampu melakukan sejumlah aksi tanpa harus keluar dari aplikasi. Pengalamannya merasakan keribetan harus keluar-masuk aplikasi Instagram membuat rasa ingin tahunya terusik. Mengapa tidak menyatukan semua fasilitas yang diperlukan untuk menyelesaikan beberapa aksi tadi ke dalam satu aplikasi saja?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dengan begitu, Calvin sudah berpikir untuk menyederhanakan proses, yang berarti menghemat waktu dan memberi kemudahan kepada pengguna. Kejelian di dalam melihat kekurangan pada suatu produk inilah yang melahirkan peluang inovasi.

Apa yang dilakukan Calvin dalam mengembangkan Picmix tampaknya bukan melompat langsung kepada peluang bisnis, melainkan melihatnya sebagai peluang inovasi terlebih dulu. Sebagai pengguna, ia penasaran dan menjajagi kemungkinan membuat aplikasi yang bisa melakukan sejumlah aksi tanpa harus dibantu aplikasi lain. Kuriositas menjadi unsur penting sebelum penciuman bisnis berfungsi penuh.

Maka lahirlah Picmix, yang kini sudah diunduh oleh puluhan juta pengguna dari seluruh benua. Apa yang dikreasi oleh Calvin dkk sungguh membanggakan sekaligus menunjukkan bahwa di bidang ekonomi kreatif, seperti pembuatan aplikasi, animasi, game, dan industri lain yang beraroma digital kreatif, kita punya harapan besar.

Banyak bakat hebat di wilayah ini yang patut didukung dengan menciptakan ekosistem digital yang sanggup menampung daya kreatif pelakunya, yang kebanyakan anak muda. Sejauh ini, dalam menyalurkan daya kreatif yang besar, mereka cenderung mencari dan menemukan jalan sendiri yang relatif mandiri dari peran pemerintah.

Dalam mengembangkan Picmix, Calvin juga memanfaatkan pengalamannya sebagai pengguna. Melalui pendekatan outside-in, dengan menempatkan dirinya sebagai pengguna, Calvin dapat merasakan sendiri apa kekurangan suatu produk dan kebutuhan apa yang tidak mampu dipenuhi oleh produk tersebut. Dari sudut pandang outside-in ini, Calvin mempunyai pengetahui mengenai apa yang harus ia lakukan.

Sudah jamak diketahui, produsen teknologi kerap merasa lebih tahu tentang apa yang dibutuhkan oleh konsumen. Dalam hal tertentu memang benar, tapi bukan berarti selalu benar. Pendekatan outside-in dapat membantu mengatasi kemungkinan lahirnya ‘produk yang salah’ karena tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen atau ekosistemnya belum mendukung.

Peristiwa booming bisnis dotcom beberapa tahun lalu merupakan pelajaran berharga, ketika banyak perusahaan didirikan dengan modal besar namun akhirnya rontok karena masyarakat (konsumen) belum siap dan infrastruktur (ekosistem digital) belum mendukung. Namun, kini eranya sudah berbeda.

Keberhasilan Picmix dan produk hasil kreasi digitalpreneur lainnya semestinya memicu pemerintah untuk aktif mendukung pengembangan ekosistem digital yang kondusif. Dari sini niscaya akan lahir aplikasi dan kreasi digital lain yang mendunia. Bakat-bakat Indonesia tidak kalah hebat dari belahan dunia yang lain. ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu